Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
195. Penasaran (lb)


__ADS_3

"Mas, kamu sangat lelah sekali kan? Istirahatlah, lain kali tidak usah mengambil waktu lembur seperti ini. Kamu bisa sakit kalau seperti ini," ucap Sasdia. Wanita paruh baya itu memberikan segelas air hangat untuk sang suami.


"Hanya sesekali, Sa. Besok tidak lagi," balas Torih. Laki-laki paruh baya itu mengambil gelas yang disodorkan Sasdia dan meminum cairan di dalam gelas itu secara perlahan.


"Kamu pasti belum makan, ayo kita makan. Aku tadi sempat membeli dua potong tahu dan satu ikat kangkung. Aku tadi hanya membawa uang lima belas ribu. Sebelum ke tempat Jesy, aku membelikan Jesy roti stobery yang pernah kita beli waktu itu. Lebihnya aku belikan bahan makanan. Ayo kita makan sekarang, Mas," ajak Sasdia.


Torih menghela napas panjang mendengar perkataan Sasdia. "Tadi aku dapat seratus ribu karena lembur," ucap Torih.


Sasdia menoleh ke arah Torih dan ikut menghela napas pelan. "Ya sudah, bisa kita tabung sedikit-sedikit, Mas. Untuk makan biar aku yang perkirakan. Gaji kamu satu hari hanya lima puluh ribu, kita bisa putar-putar itu dengan menu seadanya. Yang penting uang untuk sewa bulanan tetap terkumpul," balas Sasdia.


Torih kembali menghela napas panjang. "Aku akan cari kerja ditempat lain. Tidak akan cukup hanya dengan satu tempat seperti ini," tutur Torih.


"Apa kamu tidak berlebihan, Mas? Nanti kalau kamu sakit, nanti akan lebih sulit jadinya," papar Sasdia.


"Tapi kita tidak bisa bertahan dengan uang lima puluh ribu satu hari, Sa. Sekarang semuanya serba mahal," cetus Torih.

__ADS_1


"Asal jangan kamu porsir saja, Mas. Ambil libur juga, setidaknya satu hari. Tubuh kamu juga sudah tidak muda lagi," peringat Sasdia.


"Iya, Sa. Aku tahu," sahut Torih.


...*****...


Air mata Cara tanpa sadar menetes karena terlalu merasa senang. Tanpa sengaja air mata itu mengenai wajah mungil sang bayi tampan. "Maaf, Sayang." Cara mengusap air mata yang mengenai wajah anaknya.


Merasa terusik, bayi kecil itu perlahan membuka matanya. Cara terkejut saat melihat bola mata sang anak yang terlihat begitu menenangkan. Cara mendongak menatap Geo dengan wajah terkejutnya. "Kak," panggil Cara merasa terkejut.


Geo tersenyum melihat wajah terkejut istrinya saat melihat bola mata biru laut itu. "Bola mata sesuai keinginan Mommy," tutur Geo pelan.


Cara kembali menatap mata indah itu dengan pandangan berbinar. "Anak Mommy tampan sekali, ini tidak adil."


Kening Geo berkerut mendengar perkataan Cara. Sang istri saat ini sedang menatap ke arahnya dengan pandangan seakan merajuk. "Kenapa, Sayang?" tanya Geo.

__ADS_1


"Aku yang mengandungnya sembilan bulan, membawanya kemana-mana selama sembilan bulan. Tapi kenapa dia malah menyalin wajah kamu, begitu mirip sekali. Hanya warna mata saja yang berbeda. Ini tidak adil namanya," ucap Cara seakan merajuk.


Geo dan semua orang yang berada di ruangan itu tertawa mendengar perkataan Cara. "Bibir bawahnya itu turunan dari Mommy," tutur Geo.


"Hanya itu saja, menang Kak Re," ketus Cara.


Geo kembali tertawa mendengar nada kesal sang istri. Hal seperti inilah yang begitu dirindukan laki-laki datar itu. 'Mungkin aku bisa gila kalau kamu pergi dari hidupku, Sayang.' Geo membatin sambil menatap intens wajah istrinya.


"Kakak sudah memberinya nama?" tanya Cara tiba-tiba.


"Belum," sahut Geo.


Kening Cara berkerut mendengar jawaban sang suami. "Kenapa belum, Kak?" tanya Cara lagi.


"Dia ingin memberi nama saat kamu sudah bangun, Ra," ucap Alex.

__ADS_1


Cara menatap Geo dengan pandangan tulus. Setelahnya wanita itu tersenyum ke arah sang suami. "Sekarang aku sudah bangun, katakanlah. Selagi di sini juga sedang berkumpul, biar semua tahu siapa nama bayi tampan kita ini," papar Cara lembut.


"Benar, aku rasa para pembaca juga sudah sangat penasaran? Bukan begitu?" celetuk Alex.


__ADS_2