
Tring … tring … tring …
"S**t" umpat laki-laki tampan itu. Kegiatan panas mereka terhenti saat tiba-tiba ponsel laki-laki itu berbunyi.
"Apa?" tanya laki-laki itu saat panggilan telepon terhubung.
"Tuan Vetro," sahut orang di seberang telepon. Mendengar nama itu, secara spontan laki-laki yang masih digerayangi tiga wanita itu terdiam. Laki-laki itu berdiri sambil mengeluarkan seonggok uang dan meletakkannya di atas meja klub. Setelahnya laki-laki itu pergi begitu saja meninggalkan tiga wanita yang sudah mendesah kecewa.
"Ada apa?" tanya Laki-laki itu.
"Dia mengirimkan sebuah undangan," tutur orang di seberang telepon.
Laki-laki tampan itu mengernyit bingung. "Undangan apa?" tanyanya.
"Saya sudah kirim ke email Anda Tuan," sahut orang di seberang telepon.
"Baiklah." Setelahnya laki-laki tampan itu mematikan sambungan teleponnya dan mulai mengecek pesan masuk ke dalam emailnya.
Laki-laki itu tersenyum miring saat membaca undangan digital yang sedang dibacanya. "Menikah? Laki-laki anti perempuan itu menikah? Sungguh berita yang mencengangkan, aku penasaran." Laki-laki itu kembali tersenyum miring.
"Tuan Carves," sapa seorang pengawal.
Laki-laki tampan itu menoleh, dan berjalan ke dalam mobil pengawalnya. "Urus penerbangan saya ke Indonesia, malam ini," tutur laki-laki itu.
"Baik Tuan," sahut asisten pribadinya.
Rical Carves, laki-laki gila wanita yang kasar dan begitu emosian. Rical merupakan CEO dari Carves Company dan dia adalah ketua dari sebuah Geng ternama bernama Dood. Menurut kabar yang beredar, Rical merupakan musuh dari Geo. Namun, hingga saat ini tidak ada kabar pasti yang memperlihatkan pertempuran mereka. "Apa mereka akan terkejut dengan kedatanganku?" Rical tersenyum miring.
...*****...
"Kak Ge," panggil Cara.
"Iya Sayang," sahut Geo.
__ADS_1
"Kalau seandainya aku tidak suka dengan gaunnya bagaimana?" tanya Cara.
"Ya, tinggal diganti Sayang," balas Geo.
"Tapi kan tinggal tiga hari lagi," ucap Cara.
"Tidak masalah, kalau mereka ingin hidup tenang. Maka, mereka harus bisa mengabulkan keinginan Nyonya Vetro," terang Geo santai.
Sedangkan Cara sudah ternganga di tempatnya. 'Beginilah kalau berurusan dengan orang berkuasa, ah … semoga saja aku menyukai gaunnya nanti. Kasihan juga mereka harus kejar waktu,' batin Cara.
"Permisi Tuan Vetro, Nona Cara sudah bisa ikut kami untuk mencoba gaunnya," intruksi seorang pegawai butik.
"Oh baiklah. Kak, aku coba dulu ya." Cara menoleh ke arah Geo sebelum pergi mengikuti langkah kaki sang pegawai butik.
Sepeninggalan Cara, Geo mengernyit saat melihat pesan yang baru saja dikirim oleh Alex. Laki-laki itu memilih menelepon sahabatnya itu. "Ada apa?" tanya Geo.
"Dia kembali," ucap Alex.
Geo terdiam dengan raut wajah tak terbaca. "Aku rasa dia sudah menerima undangan pernikahanmu, aku tidak menyangka dia langsung bergerak," sambung Alex.
"Hah … manusia satu itu, sudahlah aku masih ada urusan," tutur Alex.
"Hemm," deham Geo. Setelahnya sambungan telepon terputus begitu saja. 'Apa lagi yang ingin dilakukannya?' batin Geo.
"Tuan Vetro, Nona Cara sudah siap dengan gaunnya," papar seorang pegawai tiba-tiba.
Geo menoleh dan terkejut melihat sosok gadis cantik dihadapannya. "Cantik," gumam Geo.
"Bagaimana Kak, bagus tidak?" tanya Cara.
Geo berdiri dan mendekat ke arah Cara. Setelahnya laki-laki itu memeluk Cara dan dengan gerakan cepat laki-laki itu mengecup bibir Cara. "Sangat cantik," bisik Geo.
Sedangkan Cara sudah melotot dengan wakah merah, gadis itu menatap sekeliling. Para pegawai terlihat mengalihkan wajah merasa begitu canggung. "Kak, di sini banyak orang," gumam Cara malu.
__ADS_1
Geo menaikkan sebelah alisnya. "Terus kenapa?" tanya Geo santai.
'Astaga, laki-laki ini,' batin Cara frustasi. "Sudahlah, jadi ini bagus tidak?" tanya Cara mengalihkan topik.
"Aku suka, tapi semuanya tergantung padamu Baby. Kamu ingin ini atau mau ganti dengan yang lain," balas Geo.
"Aku suka, memang sedikit mewah menurutku. Tapi … aku suka, jadi tidak usah diganti," papar Cara, 'lagi pula kasihan mereka,' lanjut Cara di dalam hati.
"Baiklah, sekarang ayo kita pulang," bisik Geo.
Cara terkejut, gadis itu terkejut saat melihat wajah kekasihnya. 'Tidak bisa aku bayangkan jika kami sudah menikah nanti, apa dia akan membuatku tidak kuat berjalan setiap hari,' batin Cara meringis.
...*****...
"Ah … Kak." Cara memekik saat dengan tiba-tiba Geo menggigit bibirnya. Meski tidak begitu kuat, bibir Cara juga masih terlihat baik-baik saja.
"Aku gemas," ucap Geo. Laki-laki itu memeluk erat tubuh Cara yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Masih banyak?" tanya Geo.
"Tidak terlalu, tinggal satu halaman," sahut Cara.
"Ingin aku bantu?" tawar Geo.
Cara terkekeh. "Masa iya seorang CEO mambantu direktur utamanya," ucap Cara.
"Tidak masalah, aku malah berharap kamu tidak bekerja lagi. Cukup temani saja aku di kantor," terang Geo.
Cara menoleh dan tersenyum. "Aku masih ada misi Tuan Vetro," bisik Cara.
"Aku tahu Sayang. Tapi jika melalui jabatan, kamu bisa memanfaatkan aku," ujar Geo.
"Itu tidak terlalu menarik," sahut Cara.
__ADS_1
Geo menghela napas berat. "Terserah padamu saja, yang pasti jika sudah menikah nanti. Aku ingin sering kamu berada di dekatku," tegas Geo.
Cara meringis. "Iya Sayang." Cara mengecup pelan leher sang kekasih, sebab bibir Geo tidak terjangkau olehnya.