
"Kau tidak apa-apa Nona Gerisam?" tanya Rical santai.
Jesy menatap Rical dengan pandangan kesal. "Yah … aku tidak apa-apa hanya." Jesy tersenyum terpaksa ke arah Rical, setelahnya gadis itu menatap ke arah wanita yang masih berdiri di sana. Jesy menatap tidak suka ke arah wanita itu.
"Bukankah kau sudah tidak penting di sini B***h? Silakan kau pergi," usir Jesy.
Wanita itu balik menatap Jesy tidak suka. "Tidak usah sombong Nona, di depan Nyonya Vetro saja kau tidak bisa berbuat apa-apa. Aku permisi Tuan Carves." Wanita itu menatap mengejek ke arah Jesy, kemudian mencium bibir Rical tiba-tiba. Jesy yang melihat itu melotot terkejut.
"Masih ingin dilanjutkan pertemuan ini atau bagaimana?" ucap Rical menyadarkan Jesy.
"Tentu saja Tuan Carves, kita bahkan belum memulainya," tutur Jesy.
"Kalau begitu ayo masuk," ajak Rical.
...*****...
Cara menatap malas ke arah Geo yang masih sibuk dengan laptopnya. Satu minggu setelah pernikahan mereka, Geo dengan Cara memang cuti untuk berangkat ke kantor. Namun, hal itu hanya sekedar embel-embel libur saja bagi Geo. Sebab buktinya laki-laki itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya, belum lagi masalah Death. "Ck …." Cara berdecak kesal.
__ADS_1
Geo menoleh saat mendengar itu, laki-laki itu terkejut saat melihat Cara sedang menatapnya tajam. "Ekhm … kenapa Sayang?" tanya Geo sedikit ragu.
Cara mesih saja menatap Geo tajam. "Tidak ada, hanya saja sepertinya nanti akan ada seorang suami … yang akan tidur dengan laptopnya," sindir Cara tepat sasaran.
Geo tersedak ludahnya, dengan cepat laki-laki itu menutup laptopnya dan mendekat ke arah Cara yang sedang menatapnya datar. "Kenapa ditutup?" tanya Cara santai.
"Aku tidak ingin tidur dengan laptop," sahut Geo jujur.
Cara menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Geo. "Memangnya aku mengatakan itu Kak Ge?" tanya Cara.
"Aku tahu kamu sedang menyindirku Baby." Geo memeluk tubuh Cara.
Geo ternganga ditempat, setelahnya laki-laki itu mengejar langkah Cara. "Maaf Sayang, pekerjaanku …."
"Aku tahu Kakak sibuk, makanya aku pergi. Kakak lanjut saja." Cara memotong perkataan Geo sambil terus berjalan santai.
Geo meringis sambil menggaruk kepala belakangnya bingung. "Aku sudah selesai. Sayang, ayo kita kembali ke kamar," bujuk Geo.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya sekarang aku yang sibuk Tuan Vetro. Aku ingin bermain bersama Alisa, jadi tolong jangan ganggu kami." Cara menatap Geo tajam sambil menekan kata sibuk di dalam kalimatnya.
"Tapi …."
"Aku malas seperti orang bodoh di dalam kamar, menunggu suami yang hanya sibuk dengan pekerjaannya. Lebih baik aku mencari kesibukan lain bukan?" Cara menatap Geo sambil tersenyum manis isyarat akan menyindir.
Geo terdiam, laki-laki itu merasa bersalah sudah mengabaikan istri cantiknya itu. "Oh iya … aku berniat mengajak Siera untuk menginap di sini nanti. Sepertinya akan seru, aku belum pernah tidur bersamanya." Cara menoleh ke belakang menatap sang suami yang sudah melotot tidak setuju.
"Tidak," ucap Geo.
Cara mengernyitkan keningnya. "Kenapa? Hubby kan sibuk, aku sebagai istri yang pengertian sudah memberikan waktu kepadamu." Cara tersenyum manis kepada Geo.
"Sayang, aku …."
"Sieraa … aku merindukanmu." Kalimat Geo terpotong saat sang istri sudah berlari kesenangan ke arah seorang gadis yang tampak berjalan kaku.
Geo mengusap wajahnya kasar. Saat laki-laki itu hendak mendekat ke arah Cara, suara Cara menghentikan langkahnya. "Tuang Vetro yang terhormat, tolong jangan mendekat ke sini ya. Siera jadi takut, lihatlah badannya sudah kaku begini karena ketakutan."
__ADS_1
Geo menganga tidak percaya, tetapi laki-laki itu tetap menuruti perkataan sang istri. "Baiklah." Geo menyahut sambil menghela napas berat.
Sedangkan Siera yang melihat itu sudah melotot dengan mulut terbuka. Sejinak itukah kembaran malaikat maut itu kepada Cara? Itulah isi otak Siera saat ini. 'Sepertinya aku benar-benar akan aman jika bersama Cara di sini,' batin Siera sedikit lega.