Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
31. Apa itu? (lb)


__ADS_3

"Enggh …." Cara melenguh dan menggeliat, perlahan Cara membuka matanya dan menoleh ke samping. Cara tersenyum saat melihat wajah tampan Geo, laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu sedang menatapnya sambil tersenyum tipis.


"Kak Ge sudah dari tadi bangun?" tanya Cara dengan suara seraknya.


"Tidak juga, nyenyak tidurnya?" balas Geo.


Cara tersenyum dan mengangguk kecil. 'Sangat nyaman, mungkin karena bersama Kak Ge,' batin Cara.


"Kak," panggil Cara.


"Iya," sahut Geo.


"Kakak bisa temani aku ke makam bunda?" tanya Cara.


"Ayo, kapan? Aku ingin meminta izin kepadanya untuk mengambil putri cantiknya ini … meski sebenarnya Geo.


Cara tersenyum mendengar perkataan Geo. "Nanti, setelah kita pulang dari sini," sahut Cara.


"Baiklah my queen, sekarang ayo kita mandi," tutur Geo.


"Aku duluan ya, aku ingin pipis," papar Cara.


"Berdua saja, jadi lebih cepat kan?" Geo tersenyum nakal ke arah Cara yang sudah memerah. Gadis itu menjadi ingat pertempuran mereka tadi malam. Membayangkan itu membuat wajah Cara semakin merona.


Geo yang melihat perubahan mimik wajah sang istri sudah tertawa gemas. Laki-laki itu yakin istrinya itu sedang malu sebab mengingat kegiatan panas mereka tadi malam. "Kenapa merah begini?" goda Geo.


"Ish … Kak Ge diamlah." Cara memukul dada bidang sang suami sambil, setelahnya gadis itu menyembunyikan wajah merahnya di sana.

__ADS_1


Geo terkekeh. "Kenapa Sayang? Mau lagi?" ucap Geo semakin menggoda Cara.


"Kak Ge," rengek Cara.


Mendengar itu Geo terbahak. "Sudah, ayo mandi," ajak Geo.


"Aku mandi duluan," papar Cara.


"Berdua saja Sayang, hemat waktu," tutur Geo.


"Tidak, aku ingin sendiri," tegas Cara.


Geo kembali terkekeh. "Kalau memang ingin sendiri, terus kenapa ini masih dipeluk?" ejek Geo.


Cara terdiam, gadis itu baru menyadari kalau dirinya masih saja memeluk tubuh kekar sang suami. 'Astaga, ini karena terlalu nyaman,' batin Cara meringis.


Geo menelan salivanya mencoba menahan sang pedang, sebab dia yakin Cara pasti masih merasa sakit setelah tadi malam dia gempur cukup lama. "Sayang," panggil Geo rendah.


Cara menoleh dan mengernyit melihat ekspresi wajah Geo. "Kenapa Kak?" tanya Cara.


"Kamu … bisa kembali membangunkannya lagi," lirih Geo.


Cara masih mengernyit, tetapi beberapa detik kemudian gadis itu melotot dan menunduk menatap tubuhnya. Cara meringis saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Dengan gerakan cepat Cara menarik seluruh selimut untuk menutupi tubuhnya. Gadis itu tidak sadar kalau apa yang dilakukannya itu membuat Geo tersenyum miring. "Sayang, kamu menutupi milikmu … tetapi membuka milikku begitu?" ujar Geo rendah.


Cara menoleh tidak mengerti, tetapi mata gadis itu tiba-tiba melotot saat melihat keberadaan sesuatu di bawah pusar sang suami yang sudah te***jang tanpa di tutupi apa pun. 'Astaga, apa itu? Besar sekali,' batin Cara.


"Sepertinya kamu suka sekali menatapnya Sayang, apa menginginkannya lagi?" Geo menatap Cara dengan senyum miringnya.

__ADS_1


Cara terkejut, gadis itu tersedak ludahnya sendiri. Dengan gerakan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya, wajahnya sudah merah padam. Kali ini tingkat rasa malunya berada di level tertinggi, bahkan telinga Cara sudah panas dingin. 'Aku tidak sadar telah menarik semua selimut sampai membuat … ah ya ampun,' jerit Cara di dalam hati.


Geo mendekat dan memeluk tubuh Cara yang sudah terbalut oleh selimut tebal itu. Cara menelan salivanya susah payah saat Geo memeluknya seperti itu. "Ingin lagi?" tanya Geo pelan.


Cara menggeleng cepat, bahkan benda vitalnya masih terasa begitu perih. "Masih perih Kak," cicit Cara.


Geo tersenyum mengerti. "Pergilah mandi." Geo mengecup singkat pipi kiri sang istri.


Cara bergerak seperti seekor ulat, sebab tubuhnya ditutupi rapat oleh selimut tebal itu. Geo yang melihat itu tertawa keras merasa begitu gemas dengan tingkah sang istri. "Kenapa kamu begitu Sayang? Kapan sampainya kalau begitu, buka saja. Aku juga sudah melihat semuanya, tidak ada yang perlu ditutupi lagi Baby," ucap Geo gemas.


"Tapi aku malu Kak," cicit Cara.


Geo terkekeh. "Kenapa malu, bahkan tadi malam kita sudah melakukan hal panas. Masa iya itu saja harus malu, tadi malam aja teriak-teriak di bawah aku tidak malu," ejek Geo.


"Kak Gee …." Cara berteriak dengan wajah malunya. Hal itu malah semakin membuat Geo tertawa keras.


"Sudah, buka itu. Kapan sampainya kalau begitu," tutur Geo.


Dengan terpaksa Cara membuka selimut itu dari tubuhnya. Wajah Cara bahkan sudah begitu merah, tetapi gadis itu memang harus mulai terbiasa. Geo yang melihat tubuh polos Cara menelan salivanya susah payah. 'Seharusnya kau yang melarangnya seperti ini Geo, lihatlah kau mudah sekali tergoda olehnya. Tahan dulu boy, ingatlah istrimu itu masih kesakitan,' batin Geo frustasi.


Cara mulai melangkahkan kakinya. Namun, perih dan nyeri di bagian bawahnya membuat gadis itu meringis dan hampir oleng. "Shh …." Cara memegang tubuh bagian bawahnya.


Geo yang melihat itu mendekat khawatir. "Sakit sekali?" Geo berdiri di depan Cara sambil memegang bahu sang istri.


Sedangkan Cara yang masih menunduk melotot terkejut saat melihat pemandangan mengejutkan di bawah sana. 'Ya ampun, Kak Ge,' batin Cara menjerit.


Cara mendongak dan tersenyum terpaksa. Sakit di bagian bawahnya bercampur dengan rasa terkejut saat kembali melihat pedang sang suami. "Perih," ucap Cara pelan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita mandi bersama saja, kamu pasti susah bergerak." Geo mengangkat tubuh te****jang Cara tiba-tiba. Hal itu membuat Cara terkejut dan hampir menjerit, Cara dapat merasakan sentuhan tangan Geo di kulit tubuhnya yang memang sedang tidak memakai apa-apa.


__ADS_2