
"Kak, aku ingin membuat akuarium yang tinggi tapi tidak besar. Isinya ikan-ikan kecil, sepertinya kita buat di antara dinding ruangan tamu sangat bagus." Cara mendongak menatap wajah suaminya.
"Dinding sebelah mana, Sayang?" tanya Geo.
"Dinding sebelah kanan, eh … tapi sepertinya kalau kita buat di jalan utama mansion juga bagus, Kak," papar Cara antusias.
Geo tersenyum manis melihat wajah berbinar milik istrinya. "Kita buat dua, di dinding ruangan tamu dan juga di jalan utama mansion," ucap Geo.
Mata Cara menatap Geo dengan penuh cahaya. "Aku ingin memilih langsung bentuk ikannya. Ayo kita lihat, Kak," ajak Cara tidak sabar.
"Sekarang?" tanya Geo.
"Iya, aku ingin sekarang," sahut Cara.
__ADS_1
"Baiklah, aku hubungi seseorang dulu. Setelahnya baru kita berangkat." Setelah mengucapkan itu, Geo mulai menghubungi seseorang.
Akhir pekan ini sepasang suami istri itu sedang bersantai di dalam kamar. Saat ini mereka sedang duduk di balkon luas kamar utama. Cara yang melihat Geo sedang berbicara melalui telepon, memilih berdiri dan menatap pemandangan di bawah sana. Bibir wanita itu melengkung ke atas saat sebuah ide lain, muncul di dalam benaknya.
Geo yang belum selesai berbicara dengan orang di seberang telepon mengernyit saat melihat Cara kembali mendekat dengan senyum antusiasnya. Laki-laki itu tebak, pasti ada hal lain yang diinginkan istri cantiknya itu. "Kak." Cara memanggil Geo sambil mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan sang suami.
"Apa, Sayang?" tanya Geo lembut.
"Aku ingin menanam beberapa pohon anggur di halaman belakang. Kita buatkan agak tinggi supaya nanti waktu memanennya tidak kesulitan."
Laki-laki datar itu tersenyum manis ke arah Cara sambil mengusap rambut wanita itu lembut. "Ingin ditanam kapan?" tanya Geo.
Cara diam, tampak sedang berpikir. "Karena hari ini kita akan melihat ikan, jadi menanamnya besok saja. Akuariumnya kapan dibuat?" tutur Cara.
__ADS_1
"Segera, Baby. Hari ini mereka akan memulainya." Geo mengecup pelan bibir sang istri yang masih berada di atas pangkuannya. Geo yang biasanya begitu gila kerja dan tidak menyukai akhir pekan, kini laki-laki itu malah begitu senang dengan yang namanya akhir pekan. Bersama dengan Cara seperti ini membuatnya begitu nyaman dan serasa tidak ingin ke mana-mana.
"Sepertinya baby kita mulai normal, dia tidak meminta yang aneh-aneh." Geo kembali bersuara sambil memeluk tubuh Cara begitu hangat. Tubuh mungil Cara yang bersandingan dengan tubuh kekarnya membuat laki-laki itu begitu nyaman. Tubuh Cara terasa pas di dalam pelukannya.
Sedangkan Cara terkekeh kecil mendengar perkataan Geo. "Dia baru umur dua bulan, Kak. Masih tersisa tujuh bulan lagi," ucap Cara.
Cup …. Geo mengecup tengkuk Cara lembut. Setelahnya laki-laki itu meletakkan kepalanya di atas bahu Cara. "Masih lama, ya. Aku sudah tidak sabar," bisik Geo.
"Aku juga, serasa ingin mempercepat waktu." Cara kembali terkekeh sambil membayangkan seorang bayi kecil hadir di antara dirinya dan juga Geo.
"Kalau seandainya kita bikin adiknya dari sekarang, bisa tidak ya?" bisik Geo begitu rendah.
Cara terkejut mendengar suara rendah itu, suara yang begitu khas di saat sang suami sedang menginginkan sesuatu. Cara menoleh dan menatap mata tajam Geo yang sedang terpejam. "Kenapa?" tanya Cara lembut.
__ADS_1
"Si Juna, entah kenapa tiba-tiba dia bangun," gumam Geo. Laki-laki itu membuka matanya dan melihat Cara sedang terkekeh. Geo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi santai itu dan membawa tubuh Cara ikut di pelukannya.
Cara hanya patuh, saat ini tubuhnya sudah berbaring penuh di atas tubuh Geo. "Jangan seperti itu, Baby. Nanti anak kita terjepit." Geo mengangkat tubuh istrinya dan memperbaiki posisi tubuh Cara.