
Geo mendengus mendengar kalimat Cara. "Aku tidak masalah, aku malah ingin Geno cepat besar dan menggantikan posisi aku di VT Group dan juga di Death. Aku ingin menikmati hari-hari hanya dengan kamu, tanpa ada masalah apa pun," tutur Geo.
"Tapi aku tidak mau ya, Dad. Kalau nanti Geno terlalu cepat dibebankan dengan semua itu," ujar Cara.
"Tidak, Baby. Aku memang akan mengajarkan dan membiasakan dia sedari kecil. Tapi semua itu akan tetap kembali kepadanya. Dia bersedia atau tidak nantinya. Aku tidak akan memaksa, jadi intinya itu bukan beban tapi keinginan dia sendiri," ungkap Geo.
Cara menghela napas pelan mendengar perkataan sang suami. "Iya, tapi entah kenapa aku rasa dia akan lebih liar dari pada kamu, Sayang," tutur Cara.
"Aku juga merasakan seperti itu, dia nampaknya akan lebih berpengaruh dari pada aku," balas Geo. Sepasang suami istri itu saling bercerita di sela kegiatan mereka. Geo terus membasahi dan membersihkan tubuh sang istri. Sedangkan Cara menahan sepotong kain tepat di bekas luka operasinya, supaya tidak terlalu terkena air.
...*****...
"Jadi bagaimana?" tanya Rical nampak tidak sabar.
"Rizal Arwala, mahasiswa biasa di kampus yang sama dengan Helen. Tidak ada yang spesial kecuali sifat gilanya itu. Hanya saja satu hal yang cukup mencengangkan. Ternyata Rizal adalah adik sepupu dari Romy Bakri," jelas Farel.
Kening Rical dan Alex berkerut mendengar perkataan Farel. "Romy Bakri? Apa maksudmu, Romy Tiger?" tanya Juan.
Farel mengangguk menanggapi perkataan Alex. Sedangkan Rical dan Alex sempat terkejut dengan kenyataan itu. "Pantas saja dia bisa kabur," tutur Alex.
__ADS_1
"Berarti dalam hal ini Tiger ikut terlibat?" tanya Rical menebak.
"Aku pikir begitu, tapi … aku rasa pemimpin Tiger tidak tahu tentang hal ini. Pasti Romy melakukan ini memakai kekuasaan Tiger tanpa sepengetahuan Jarko," ungkap Farel.
"Terus apa yang akan kita lakukan? Menarik paksa Romy karena telah berani mengganggu pertahanan Death. Setelahnya kita tangkap Rizal gila itu," ujar Rical nampak marah.
"Kau tenanglah dulu, langkah pertama yang paling pasti itu … kita cari dalang dibalik makanan yang mereka makan malam tadi. Pengkhianat, itu adalah yang harus kita cari terlebih dahulu," kata Alex.
"Apa yang dikatakan Juan benar, kau sabarlah. Ini tinggal dua belas persen lagi," tambah Farel.
"Aku sudah tidak sabar, kelakuan mereka sukses menyulut emosiku," ujar Erick.
"Tunggu dulu, sistem mereka cukup tebal. Jadi butuh waktu yang cukup lama juga," ucap Farel.
"Iya, dia kan ahli IT utama di Tiger," balas Farel.
"Kalau tidak salah, lencananya sudah B+ kan?" tambah Rical.
"Hem," deham Farel.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar ingin menghabisi laki-laki gila itu. Aku terlalu baik dengan tidak langsung membunuhnya kemarin," geram Rical.
"Kita bergerak santai tapi cepat. Usahakan dalam minggu ini selesai. Jangan sampai berimbas kepada acara pertunangan kau dan Siera," tutur Alex.
Farel tersadar dengan hal itu, sepertinya laki-laki itu tidak terpikirkan sampai ke sana. "Aku tidak terpikirkan sampai ke situ, kalau begitu ini harus segera diselesaikan. Aku tidak mau acara pertunanganku kacau hanya karena hal bodoh laki-laki gila itu," papar Farel.
...*****...
"Sayang," panggil Sasdia kepada Jesy. Saat ini sepasang paruh baya sedang berada di samping kiri dan kanan Jesy.
"Mama dan Papa membawa roti stoberi lagi. Ayo dimakan," ucap Sasdia.
Sasdia menyuapi Jesy dengan sepotong roti stroberi di tangannya. Bibir wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat sang putri nampak begitu lahap memakan roti stroberi itu. "Makan yang banyak, Sayang. Supaya kamu tidak kurus seperti ini lagi," bisik Sasdia.
Sedangkan Torih yang melihat interaksi sepasang ibu dan anak itu hanya bisa menghela napas pelan. Setidaknya laki-laki itu bersyukur keluarganya itu masih lengkap. "Eh, siapa itu? Bukankah itu Jesy?"
Suara seseorang mengalihkan perhatian sepasang paruh baya itu. Torih dan Sasdia menatap keberadaan dua gadis yang saat ini sedang berjalan di luar pagar rumah sakit jiwa itu. "Wah, iya itu Jesy. Astaga, sedang apa dia di sana? Apa keluarganya ada yang sakit jiwa?" balas salah satu dari mereka.
"Tapi sepertinya bukan keluarganya yang sakit jiwa. Tapi dia deh yang sakit jiwa, lihatlah … tatapan matanya kosong. Seperti tidak ada semangat hidup," sahut gadis berbaju hitam.
__ADS_1
"Wah, benarkah? Tapi iya juga, wah … ini bisa menjadi berita hot di kampus nih. Ayo kita foto." Dua gadis itu nampak mengeluarkan telepon genggamnya dan berniat mengabadikan wajah Jesy melalui kamera ponsel mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Sasdia marah.