Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
148. Laki-laki Tampan (lb)


__ADS_3

Geo semakin mendekat ke arah manager kafe itu. Bruk …. "Maafkan saya, Tuan. Saya salah, tolong ampuni saya." Manager kafe itu berlutut dan meminta ampun kepada Geo.


Grep … prang …


"Akhh." Suara teriakan kesakitan manager kafe tersamarkan oleh teriakan ketakutan pengunjung lainnya.


Geo baru saja membanting tubuh manager kafe itu ke jendela kaca kafe itu. Salah satu anggota Death mengambil tubuh lemah manager kafe dan menyeret tubuh itu kehadapan sang ketua. Tubuh manager itu sudah berlumuran darah, bahkan serpihan kaca masih ada menancap dibeberapa dagingnya.


Cara yang melihat Geo ingin menyentuh tubuh penuh darah itu segera bersuara. "Kak." Cara mendekat ke arah Geo yang tampak begitu marah.


"Sudah, aku tidak ingin Kakak kotor terkena darahnya." Cara berucap lembut sambil memeluk lengan kekar suaminya.


Geo menunduk menatap wajah cantik istrinya. Setelahnya laki-laki itu menghela napas panjang mencoba memenangkan emosi yang sedang membuncah di dalam sana. "Bawa ke markas. Potong kedua tangannya," titah Geo dingin.


Deg …. Kalimat mengerikan itu jelas saja membuat semua orang bergidik ngeri. "Aku ingin empat wanita itu ikut menyaksikan." Cara menunjuk empat wanita yang tadi sempat memaki dirinya.


Sedangkan empat wanita itu sudah melotot dengan wajah ketakutan. "Maafkan kami, Nyonya. Kami salah."


"Ayo, Kak. Aku ingin makan sate saja." Cara menghiraukan permintaan maaf empat wanita itu. Cara menarik lengan kekar suaminya menjauh dari area keributan.


...*****...


Juan sedang berdiri santai di samping mobilnya sambil memainkan kunci mobil. Laki-laki itu tidak sadar kalau dirinya sudah menjadi perhatian para murid dan guru yang melihat keberadaannya. Laki-laki tampan yang terlihat begitu santai memainkan telepon genggam di tangannya.

__ADS_1


Alex saat ini sedang berada di parkiran utama sekolah Lamira. Ini adalah pertama kalinya bagi laki-laki itu menjemput Lamira pulang sekolah. Seluruh murid perempuan menatap kagum laki-laki itu secara terang-terangan. Bukan hanya para murid, tetapi para guru wanita pun tidak kalah kagumnya.


"Kemarin aku bertemu dengan Papa kamu, Mir. Dia bertanya tentang kamu, sebenarnya sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Tiwi, salah satu teman Lamira.


"Biarkan saja, dia hanya ingin menjualku untuk kepentingan perusahaannya," balas Lamira.


"Terus, kenapa kamu bisa menghindar dari kejaran Papamu? Aku bingung, kamu kan tetap berkeliaran di sekolah, akan sangat mudah untuk Papamu menangkap kamu," papar Dani, teman laki-laki Lamira.


"Aku ada pawang yang jauh berada di atas kekuasaan Papaku." Lamira tersenyum sombong sambil menaik turunkan alisnya.


Kening Tiwi dan Dani berkerut tidak paham. "Siapa? Seingatku, kau hanya memiliki kami," tanya Dani penasaran.


"Kalian mah ditiup saja oleh Papaku sudah terbang," ejek Lamira.


"Memang iya, kan? Waktu aku kabur saja, kalian tidak bisa menolongku," sindir Lamira.


"Ya, kami kan masih anak sekolah sama sepertimu. Jelas saja belum memiliki kekuatan," papar Dani.


"Ya, ya, aku tahu." Lamira mengangguk singkat. Namun, kening gadis itu tiba-tiba berkerut saat melihat wajah para siswa bahkan guru perempuan tampak menganga.


"Mereka kenapa?" tanya Lamira bingung.


"Entahlah, aku juga penasaran. Ayo kita mulai wawancara." Tiwi menarik tangan Lamira dan Dani menuju ke arah salah satu kumpulan siswi.

__ADS_1


"Hei, ada apa? Kenapa heboh sekali? Ada anak baru atau guru baru tampan?" tanya Tiwi tidak sabar.


"Bukan, tapi ada satu laki-laki di parkiran utama sekolah. Entah sedang apa, sepertinya dia menjemput seseorang," jelas salah satu siswi.


"Terus kenapa harus heboh? Bukannya itu biasa?" tanya Lamira bingung.


"Memang biasa, tapi wajahnya yang tidak biasa. Tampan sekali," papar satu siswi.


"Benar, bahkan guru wanita pun kagum. Kalian lihat." Satu siswi menunjuk tiga guru wanita yang tampak sedang bercerita seru.


"Aku penasaran, apa dia masih di parkiran utama?" tanya Lamira.


"Iya, masih. Di sana sangat ramai."


"Thank you, ayo." Tanpa menunggu lama Tiwi kembali menggeret tangan Lamira dan Dani menuju parkiran utama.


"Ck, setampan apa sih. Sampai heboh seperti ini, tampan juga aku," celetuk Dani percaya diri.


"Yeu, kamu mah tampan … tapi kalau dilihat dari jauh," ejek Lamira.


"Enak saja kamu," dengkus Dani kesal.


"Wah, itu dia … ternyata benar tampan." Langkah kaki Tiwi terhenti saat melihat sosok tinggi yang menjadi pusat perhatian warga sekolah.

__ADS_1


__ADS_2