
Tring … tring … tring …
Rical menatap malas nama orang yang terpampang di layar ponselnya. "Apa?" sahut Rical.
"Kamu di mana Rical?" tanya Jesy.
"Urusannya denganmu apa?" balas Rical.
"Aku ini istrimu Rical, kenapa kau malah bertanya seperti itu? Wajar bagiku untuk menanyakan keberadaanmu," tutur Jesy.
Rical tertawa sinis. "Istri? Aku tidak merasa punya istri, sudahlah jangan menggangguku," papar Rical.
"Kau keterlaluan Rical, kita menikah sudah tiga hari. Kau malah seperti ini kepadaku, kita juga sangat jarang bertemu. Belum lagi semua pelayan kau larang membantuku, mereka malah bersikap tidak sopan kepadaku. Aku melakukan apa saja sendiri, aku sedang hamil anakmu Rical. Kalau aku kelelahan dan berdampak kepada kandunganku bagaimana? Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa, aku biasa dimanja, Rical," ucap Jesy panjang lebar.
Rical memutar bola matanya malas. "Sudah selesai?" tanya Rical.
Jesy mendengus kesal di seberang telepon. "Hargai aku sebagai istrimu Rical," sambung Jesy.
"Ck … kau terlalu banyak omong ya, sudah aku katakan kalau kau tidak suka. Silakan angkat kaki dari mansionku, aku tidak pernah memaksamu untuk tinggal di sana. Kau yang keras untuk tetap bertahan," papar Rical.
"Hari ini Mamaku akan datang, setidaknya berikan aku satu kamar bagus untuk membuat hatinya senang," ujar Jesy.
Rical mendengus sinis. "Kenapa tidak jujur saja? Sudahlah, kau benar-benar menggangguku. Aku sudah baik dengan mengizinkan Mamamu itu berkunjung ke mansionku. Jadi tidak usah banyak omong dan banyak mau, nikmati saja," balas Rical.
__ADS_1
"Tolonglah Rical, setidaknya di saat Mamaku datang saja," pinta Jesy.
"Aku sebelumnya sudah memperingatkanmu bukan? Jangan sampai kau menyesal meminta menikah denganku, sekarang tidak usah banyak menuntut. Kalau kau tidak tahan, silakan pergi dan aku akan mengurus surat perceraian," terang Rical.
"Kau brengsek Rical, setidaknya cobalah untuk dekat denganku supaya hubungan kita tidak terus seperti ini," teriak Jesy.
Rical tertawa mendengar itu. "Kau yang bodoh Nona, aku bukan laki-laki yang mau terikat dengan satu wanita. Ingatlah, kita menikah atas kemauanmu. Jadi nikmati saja," ucap Rical sinis.
"Percuma aku menikahimu kalau aku akan jadi babu di sini," murka Jesy.
"Aku memang sedang mencari babu," sahut Rical santai.
"Laki-laki bangsat!" Jesy mengumpati Rical, setelahnya wanita itu memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Rical tertawa sinis. "Wanita bodoh," gumam Rical.
"Cara baik-baik saja bukan?" tanya Alex khawatir.
"Hem," deham Geo singkat.
"Ingin memberinya waktu berapa hari?" tanya seorang laki-laki.
Geo menoleh dan tersenyum iblis. "Tiga hari," sahut Geo.
__ADS_1
"Masih lumayan," tutur Alex.
"Aku akan sulit manahan keinginan jika melihat wajahnya," desis Geo.
"Aku saja rasanya sudah ingin menembak mati laki-laki itu," tutur seorang laki-laki kesal.
Alex menatap mengejek ke arah laki-laki itu. "Kasihan, masih aman bukan pedangmu?" ejek Alex.
Laki-laki itu tersenyum miring ke arah Alex. "Aman, hanya saja dia sedang merindukan masuk sarang," paparnya santai.
"Bangsat," umpat Alex kesal.
"Kenapa? Pedangmu juga ingin segera memiliki sarung ya?" sambung laki-laki itu mengejek.
"Diamlah, bedebah," umpat Alex. Sedangkan laki-laki yang menggoda Alex sudah tertawa puas.
"Hubby …." Suara serak Cara terdengar dari dalam kamar kecil ruangan kerja Geo. Empat laki-laki itu terdiam, Geo berdiri dari duduknya bergerak menuju kamar kecil itu.
Cklek …. Geo tersenyum saat melihat Cara masih berguling-guling di atas ranjang. Geo mendekat ke arah istri cantiknya itu. "Ingin bersih-bersih? Setelah itu kita ke markas." Geo mencium kening istrinya lembut.
"Ke markas?" tanya Cara.
"Iya, tidak ingin memberi pelajaran laki-laki itu?" sahut Geo.
__ADS_1
Cara tersenyum. "Tentu saja," sahut Cara.
"Ya sudah, sekarang bersih-bersih. Terus kita ke markas," ujar Geo.