Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
203. Berpindah Nama (lb)


__ADS_3

"Sayang, apa kamu tidak ingin mengganti panggilan untukku?" tanya Geo kepada Cara.


Cara menoleh dan menatap wajah tampan suaminya yang saat ini sedang mengusap rambutnya lembut. "Aku sudah berniat menggantinya di saat anak kita sudah lahir. Berhubung putra kita sudah lahir, jadi aku ingin memanggil suamiku ini dengan panggilan Daddy, sama seperti Geno," tutur Cara.


Geo tersenyum senang mendengar jawaban sang istri. Sudah lama kenal dengan Cara, bahkan sampai memiliki seorang putra. Hubungan mereka sangat baik dan begitu romantis. Namun, selama ini Cara masih begitu jarang memanggilnya dengan kata-kata romantis. Hanya Geo yang setiap hari bahkan setiap menit, selalu berucap romantis dan manis kepada sang istri.


"Aku senang mendengarnya," cetus Geo senang.


Cara tersenyum mendengar jawaban dari mulut suaminya. Wanita itu mencubit pipi sang suami merasa gemas dengan wajah tampan Geo yang tidak pernah bosan ditatap matanya. "Nanti sore aku benar-benar sudah bisa pulang kan, Sayang?" tanya Cara kepada Geo.


Geo tersenyum lebar mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut sang istri untuknya. Meski itu bukan pertama kalinya, tetapi Cara cukup jarang memanggilnya dengan panggilan seperti itu. "Iya, Baby. Sepertinya Mommy sudah sangat tidak sabar untuk kembali ke mansion," balas Geo.

__ADS_1


Cara terkekeh mendengar kalimat Geo. Wanita itu menatap ranjang kosong, yang biasanya dihuni oleh bayi kecil yang sempat berada di dalam rahimnya. Setelahnya Cara kembali menoleh ke arah Geo, yang saat ini sedang menatapnya begitu lembut.


"Aku merasa tidak sabar untuk mengenalkan tempat penuh kenangan kepada anak kita. Tempat di mana aku, sang Mommy pemilik bayi tampan itu, berkembang di mansion penuh kenangan. Mansion yang sekarang begitu aku rindukan," ungkap Cara jujur.


Geo yang mendengar kalimat sang istri memperlihatkan senyum nakalnya. "Merindukan mansion atau kamar kita, Baby?" goda Geo.


Cara yang mendengar godaan dari sang suami hanya bisa terkekeh kecil. Wanita itu kembali mencubit pipi suaminya merasa gemas dengan wajah nakal Geo. "Aku merindukan semua hal yang berada di sana. Termasuk sang pemilik tempat itu," papar Cara.


"Pemilik tempat itu sekarang bukan lagi Geo Vetro. Tapi, Lavia Cara Vetro," bisik Geo.


Geo tersenyum dengar kalimat pertanyaan dari Cara. "Satu bulan sebelum pernikahan kita, mansion itu sudah berubah menjadi milik kamu, Baby," ucap Geo.

__ADS_1


Cara melotot mendengar perkataan Geo. Wanita itu dari dulu begitu santai dan tidak pernah memikirkan masalah apapun. Yang ada di dalam pikiran wanita itu hanyalah kebersamaannya dengan Geo. Mendapatkan pria itu saja sudah sangat cukup bagi dirinya. Wanita itu tidak pernah menuntut harta kepada Geo. Cara hanya menuntut kasih sayang dari pemimpin mafia itu.


"Kenapa aku baru tahu sekarang?" gumam Cara.


Geo tertawa mendengar gumaman dari sang istri. Laki-laki itu mencubit pipi Cara merasa begitu gemas. "Kamu kan memang tidak pernah memikirkan masalah itu, Sayang. Yang kamu tahu hanya aku … aku dan aku," goda Geo.


Pipi Cara memerah mendengar kalimat Geo yang jelas saja sangatlah benar. Memang di dalam otak dan hati Cara hanya ada nama Geo. Wanita itu benar-benar tidak pernah memikirkan masalah harta atau pun kekuasaan Geo selama ini. Mengingat itu Cara menjadi malu sendiri. "Aku malu," gumam Cara.


Sedangkan Geo sudah terbahak melihat pipi merah Cara. Apa lagi saat mendengar kalimat Cara yang nampak begitu malu. "Kenapa harus malu, Sayang? Aku malah merasa senang dengan hal itu."


Geo berdiri dari duduknya dan menangkup wajah sang istri yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit itu. Setelahnya laki-laki itu memeluk tubuh Cara begitu lembut. Geo menyalurkan segala kasih sayang yang selama ini selalu menumpuk di dalam jiwanya. Meski setiap hari Geo sudah mencurahkan semua kasih sayang itu kepada Cara. Entah kenapa esok harinya perasaan itu kembali menumpuk dan ingin segera dicurahkan kembali kepada sang istri.

__ADS_1


Mungkin ini yang disebutkan dengan kasih sayang yang tidak pernah habis. "I love you, Mommy," bisik Geo lembut.


Hati Cara menghangat mendengar suara rendah Geo yang terdengar begitu tulus di telinganya. Dada wanita itu pun selalu berdesir setiap kali Geo mengungkapkan isi hatinya. "I love you too, Daddy," balas Cara tulus.


__ADS_2