
"Helen, tenanglah. Ini aku … lihat aku, aku Rical," bisik Rical begitu lembut.
Dada Helen naik turun, secara perlahan gadis itu mendongak dan menatap wajah laki-laki dihadapannya. "Kak Rical," lirih Helen.
"Iya, ini aku. Aku ada di sini," balas Rical pelan.
Tangis Helen pecah, gadis itu meraung sejadi-jadinya. Helen bahkan memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Melihat itu Rical terkejut dan manahan tangan Helen cepat. "Hei, kenapa dipukul? Jangan seperti ini, kamu menyakiti tubuhmu sendiri," papar Rical.
"Aku kotor, aku kotor, Kak!" Empat laki-laki yang berada di sana tertegun mendengar raungan Helen. Geo, Farel dan Alex yang tidak sanggup melihat itu, memilih mengalihkan wajah mereka.
Sedangkan Rical yang melihat itu sudah ikut merasakan sesak di dadanya. Laki-laki itu mendongak menahan air mata yang seakan ingin segera luruh dari tempatnya. Rical masih memegang tangan Helen yang berusaha memukul tubuhnya sendiri.
'Tuhan, apa ini hukuman untuk semua perbuatan bejatku selama ini kepada wanita? Kenapa harus seperti ini, kenapa harus gadisku?' Rical membatin dengan perasaan yang begitu hancur melihat keadaan Helen.
"Rical, cepat bawa dia. Helen harus segera ditangani Dokter, keadaanya tidak baik-baik saja." Suara Geo memecahkan keheningan gudang kumuh itu.
Rical dengan cepat kembali menoleh ke arah Helen yang saat ini nampak tertunduk lemah. "Ayo kita pergi dari sini," ajak Rical lembut.
Laki-laki itu membawa tubuh Helen ke dalam pelukannya dan menggendong gadis itu ala bridal style. "Bawa keparat itu ke markas tingkat satu, jangan biarkan dia mati," titah Alex kepada anggota Death.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Helen menatap wajah Rical yang saat ini sedang membawa tubuhnya. Tiga inti Death berjalan di belakang mereka. Para mahasiswa yang sedari tadi penasaran, ikut mengelilingi tempat kejadian. Hari ini mereka semua mendapatkan pertunjukan yang begitu mengejutkan.
Selama ini jati diri Helen sebagai gadis salah satu inti Death, tidak terbongkar. Mereka semua tidak tahu, jika Helen ternyata juga merupakan kekasih dari inti Death seperti Cara dan Siera. "Jadi Helen kekasih dari Tuan Carves?" bisik seorang laki-laki.
"Iya, begitulah. Untung selama ini kita tidak ada masalah apa-apa dengannya," balas salah satu mahasiswa.
"Tapi ternyata Rizal gila juga, melakukan aksi pemerko***n kok di kampus."
"Rizal kan memang aneh."
Laki-laki itu menunduk menatap wajah Helen. "Iya," sahut Rical pelan.
"Aku tidak pantas bersama Kakak," tutur Helen dengan suara semakin melemah.
Rical terkejut mendengar kalimat Helen. Rahang laki-laki itu mengeras tidak suka mendengar kalimat yang terlontar dari mulut gadisnya. "Jangan berbicara seperti itu, Helen. Aku tidak suka," bisik Rical.
"Aku sudah kotor, Kak," lirih Helen.
__ADS_1
"Jika begitu, aku jauh lebih kotor," sela Rical cepat. "Aku jauh lebih kotor, Helen. Jadi jangan berbicara seperti itu lagi. Stop and silent," sambung Rical pelan.
...*****...
"Apa?" Geo memejamkan matanya saat mendengar teriakan sang istri. Sudah laki-laki itu duga, jika respon Cara akan seperti ini.
"Kamu jangan bercanda, Dad," tutur Cara.
"Aku tidak bercanda, Sayang. Sekarang Helen sudah berada di rumah sakit. Aku ke sini untuk menjemput kamu dan Geno," balas Geo.
Mata Cara melotot tidak percaya. "Kenapa bisa seperti itu, Dad?" tanya Cara masih nampak begitu terkejut.
"Nanti aku ceritakan, Mommy. Sekarang lebih baik Mommy bersiap-siap dulu. Yang lain sudah menunggu di rumah sakit," ucap Geo.
Cara menoleh ke arah Siera dan Tiara yang nampak masih terdiam dengan wajah hampir sama dengannya. "Ma, Sie," panggil Cara.
Dia ibu dan anak itu terkejut saat mendengar suara Cara. "Ayo, Ra," tutur Siera pelan.
Entah kenapa ada perasaan bersalah di dalam hati Siera. Sebab gadis itu tidak menunggu Helen tadi sampai selesai kuliah. "Aku ganti baju dulu," balas Cara.
__ADS_1
"Biarkan Siera dan Mamanya pergi lebih dulu, Sayang. Aku sudah menyiapkan satu mobil lagi untuk mereka. Farel tidak bisa menjemput, dia masih harus mengurus sesuatu," cetus Geo.