
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Cara dan Geo akhirnya datang, hari pernikahan dengan pesta yang begitu mewah. Cara tampak begitu cantik dengan balutan gaun pernikahan mewah, berdampingan dengan sang malaikat over dosis di samping kanannya. Geo semakin terlihat tampan dengan balutan baju pengantin, sepasang pengantin itu begitu serasi.
"Semua aman?" tanya Farel. Pesta pernikahan sang pemimpin mafia itu jelas saja akan begitu di koordinir begitu ketat oleh pasukan Death. Tidak sedikit orang yang berniat menjatuhkan Geo yang merupakan raja bisnis sekaligus kembaran sang malaikat maut.
"Sudah Tuan," sahut seorang laki-laki. Sekeliling gedung pernikahan itu dipenuhi oleh laki-laki berseragam khas Death. Begitu mengagumkan sekaligus mengerikan.
"Bagus, komando bagian masing-masing," titah Alex.
"Siap!" sahut mereka serempak.
Cara menatap sekeliling ruangan sambil meringis. "Aku rasa para tamu pasti sangat ketakutan, mereka pasti akan berpikir dua kali bahkan hanya untuk sekedar bernapas," gumam Cara.
"Kenapa Sayang?" tanya Geo yang menyadari Cara sedang bergumam.
"Tidak Kak, hanya saja anggotamu itu sungguh mengerikan," ucap Cara jujur.
Geo melirik sekeliling kemudian terkekeh kecil. "Kamu tahu siapa aku Sayang, hal besar seperti ini tidak mungkin tidak dijaga." Geo tersenyum tipis ke arah Cara.
...*****...
Torih, Sasdia dan Jesy menganga saat berhasil memasuki gedung pernikahan Cara dan Geo. "Astaga, mewah sekali," ucap Jesy iri.
"Jelas saja, dia menikah dengan Tuan Vetro," papar Torih.
"Huh … saat aku menikah nanti, aku juga ingin mengadakan pesta mewah seperti ini. Kalau perlu lebih mewah dari ini, aku tidak terima kalah dari wanita itu," ucap Jesy kesal.
__ADS_1
Torih memutar bola matanya malas. "Kau dapat mengadakan pesta saja sudah syukur besok, tidak tahukah perusahaan masih tidak stabil," sindir Torih.
"Aku akan cari laki-laki kaya nanti," tutur Jesy.
"Terserah kau," balas Torih.
"Astaga, lihat." Sasdia sedikit berteriak sambil menunjuk sekeliling ruangan luas itu.
Torih dan Jesy ikut menganga. "Mereka benar-benar mengerikan, itulah kenapa kita harus memilih menjauh dari Tuan Vetro," papar Torih merinding.
"Apa itu anggota Death Pa?" tanya Jesy.
"Benar, dan itu belum seberapa. Aku yakin mereka tidak mengerahkan semua anggotanya. Aku dengan hampir disetiap negara, Death ada di mana-mana," terang Torih.
"Maka dari itu kalian harus bisa menjaga sikap di sini, kalau seandainya kita membuat masalah di sini. Aku tidak yakin bisa pulang dengan selamat," bisik Torih.
Sedangkan Cara yang sedari tadi memperhatikan interaksi Torih, Sasdia dan Jesy sudah tersenyum miring. Meski jarak mereka lumayan jauh, tetapi gadis itu bisa melihat raut ketakutan di wajah mereka. "Kamu punya rencana untuk mereka Sayang?" tanya Geo saat menyadari Cara sedang menatap satu keluarga itu.
"Aku belum memikirkan, niat awalku mengundang mereka hanya ingin sedikit menyombong dan juga ingin menegaskan kekuasaanku saat ini kepada mereka. Tapi … alu tidak tahu nantinya," sahut Cara.
Kembali kepada tiga manusia yang sekarang sedang menatap ke arah sepasang pengantin di atas pelaminan. Jesy kembali dibuat terpukau dan iri saat melihat gaun pengantin yang dipakai Cara begitu mewah. "Bagus sekali gaunnya," ucap Jesy lesu.
"Tenanglah Sayang, kamu pasti akan menikah dengan pesta mewah seperti ini juga nantinya. Kalau perlu kita buat lebih mewah dari ini," tutur Sasdia.
"Huh … uang dari mana?" sindir Torih sinis.
__ADS_1
"Jesy kan putri kita satu-satunya Mas, masa iya dia menikah tidak kita buatkan pesta mewah," ujar Sasdia.
"Aku tanya uang dari mana?" ejek Torih.
Sasdia terdiam tidak dapat menyahut, wanita paruh baya itu jelas tahu betul bagaimana kondisi keuangan keluarganya saat ini. Bahkan hampir satu bulan ini mereka mencoba menahan keinginan karena tidak sanggup membeli. Torih yang melihat Sasdia terdiam tersenyum sinis. "Makanya tidak usah omong besar, sudah aku katakan kita bukan seperti dulu. Jadi tidak usah mengkhayal dulu," ucap Torih.
...*****...
Seorang laki-laki berjalan santai ke dalam sebuah gedung pernikahan Cara dan Geo. Setelah berhasil masuk, laki-laki itu mengedarkan pandangannya. Entah apa yang dicari, mungkin seseorang yang mungkin dikenalnya. "Tuan Carves."
Rical menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Terlihat seorang laki-laki paruh baya sedang mendekat ke arahnya. "Anda datang Tuan?" sapa orang itu.
"Iya, senang bertemu kembali dengan Anda Tuan Nariko," balas Rical.
"Saya juga sangat senang bertemu dengan Anda di sini, mari ke sini Tuan." Laki-laki paruh baya yang dipanggil Tuan Nariko itu mengajak Rical ke sebuah meja minuman.
"Silakan Tuan." Tuan Nariko memberikan sebuah gelas berisi air berwarna ungu gelap kepada Rical.
"Terima kasih Tuan Nariko, saya merasa seakan Anda yang menjadi tuan rumah di acara ini." Rical mengambil gelas itu sambil tersenyum tipis.
Tuan Nariko tertawa. "Kita sudah lama tidak bertemu, jadi … tidak apa-apa seperti ini," ucap Tuan Nariko.
Rical tersenyum, setelahnya laki-laki itu menatap ke arah pasangan pengantin pada hari ini. Rical tersenyum miring saat melihat wajah Cara dari jarak yang lumayan dekat. 'Cantik, ternyata selera Tuan Vetro itu tinggi juga.' Rical membatin sambil tersenyum miring menatap wajah cantik Cara.
Sedangkan kepekaan Geo yang begitu kuat menoleh saat merasa ada yang memperhatikan mereka. Geo memicing saat melihat keberadaan seorang laki-laki yang begitu dikenalinya. Rical tersenyum miring ke arah Geo, setelahnya laki-laki itu meminum air di dalam gelas itu santai sambil terus menatap Cara. Geo yang melihat arah pandang Rical menatap tajam laki-laki itu. 'Apa dia ingin mati?' batin Geo marah.
__ADS_1