Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
72. Siksaan (lb)


__ADS_3

Alex bergerak ke depan kursi guna menutupi pandangan Cara. Melihat itu secara otomatis Farel dan seorang laki-laki melakukan hal yang sama seperti Alex. Melihat semuanya aman, Geo kembali menatap Edward yang sudah menggigil ketakutan. Jika dilihat, sebelum Geo menyentuh tubuhnya pun, mungkin Edward sudah lebih dulu mati karena ketakutan. "Buka mulutmu," titah Geo dingin.


Edward menggeleng cepat sambil terus menutup mulutnya rapat. Melihat hal itu Geo tersenyum miring. "Aku suka mendapat korban yang memberontak seperti ini, lanjutkan." Geo tersenyum iblis.


Dada Edward naik turun karena panik dan takut. Pergerakan Geo yang mulai mendekatkan pisau tajam itu membuatnya seakan ingin berteriak. Namun, karena tujuan Geo adalah lidahnya, Edward hanya bisa menelan tariakannya demi menyelamatkan lidahnya.


Geo menarik kepala Edward dan mencekik lehernya. Tanpa aba-aba demi mencari sehembus oksigen, Edward membuka mulutnya tanpa sadar. Geo tersenyum miring melihat itu, dengan gerakan cepat laki-laki dingin itu menarik lidah Edward yang sudah melotot. Edward memberontak, laki-laki itu menggeliat cepat.


Sret …. Sangat mudah dan begitu mudah bagi Geo memotong lidah Edward yang sempat memberontak. Geo menatap datar Edward kemudian berdiri. "Lemah," ucap Geo dingin.


"Ck … aku sudah begitu lama tidak melihat aksimu. Ternyata semakin mengagumkan," ujar seorang laki-laki kagum.


Edward yang sempat menahan sakit sebab baru saja kehilangan lidahnya, kini laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang masih keluar dari mulutnya. Geo berjalan ke arah wastafel ruangan itu, kemudian membuka sarung tangannya yang sudah dipenuhi darah. Geo membersihkan tangannya meski tidak terkena darah. "Urus dia, jangan biarkan dia mati," ucap Geo.

__ADS_1


"Dia lemah sekali, tidak seperti korbanmu sebelumnya. Ini saja sudah pingsan. Tadi sebelum disentuh saja, dia sudah seperti mayat hidup," ejek Alex.


"Aku rasa dia hanya kuat di atas ranjang," tutur seorang laki-laki.


"Berarti kau sama sepertinya," ledek Alex.


"Aku bukan hanya di atas rajang, aku rasa … kau tahu itu." Laki-laki itu tersenyum miring.


Geo mendekat ke arah Cara yang masih memejamkan matanya sambil menutup telinganya. Laki-laki dingin itu tersenyum melihat wajah Cara yang tampak lucu menurutnya. Tanpa aba-aba Geo mengangkat tubuh sang istri membuat Cara terlonjak. Wanita itu membuka matanya dan melihat wajah sang suami yang sedang menatapnya intens.


Cara menoleh guna melihat keadaan Edward. "Sudah selesai Kak?" tanya Cara penasaran.


"Untuk hari ini cukup sampai di sini, lagi pula dia sudah pingsan. Tidak mengasikkan," sahut Geo.

__ADS_1


"Terus kapan lagi?" tanya Cara.


"Sabar Sayang, aku hanya memberinya waktu tiga hari untuk tetap bernapas. Setelah itu, aku akan memberinya tiket ke neraka." Geo berucap dan mulai melangkah sambil membawa tubuh sang istri.


"Aku juga ingin mainan," papar Cara.


Geo tersenyum nakal. "Mainan yang seperti apa Baby? Memainkan punyaku?" goda Geo.


Cara melotot. "Kak Ge mesum." Cara memukul bahu kekar sang suami sambil menyembunyikan wajah meronanya di ceruk leher Geo.


Sedangkan Geo sudah terkekeh kecil melihat tingkah malu-malu sang istri. Hal itu mampu membuat anggota Death yang melihatnya menganga tidak percaya. Aura dingin dan mengintimidasi yang biasanya menguar dari tubuh sang pemimpin, seakan lenyap seketika.


Sedangkan tiga orang laki-laki yang mengikuti langkah sepasang suami istri itu ikut terkekeh kecil. Melihat wajah cengo milik anggota Death cukup menghibur bagi mereka. "Terbiasakan, Ketua kalian itu memang akan seperti itu jika bersama istrinya," terang Alex.

__ADS_1


__ADS_2