Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
146. Booking Hari (lb)


__ADS_3

"Kak, aku sedang ingin memakan steak tuna," ucap Cara.


Geo menoleh ke arah Cara yang sedang duduk di sampingnya. "Ingin cari tempat atau dipesan, Sayang?" tanya Geo.


"Kita ke kafe tempat aku bekerja dulu, Kak. Di sana terkenal dengan steak tunanya. Sayangnya sampai sekarang aku tidak pernah mencoba rasanya," ungkap Cara.


Geo menatap wajah Cara yang tiba-tiba berubah sendu. Sepertinya wanita itu mengingat kehidupannya dimasa lalu. Geo mengusap puncak kepala Cara pelan dan tersenyum kepada sang istri yang sedang menatapnya. "Kamu ingin berapa? Makanlah sepuasnya," tutur Geo lembut.


"Entahlah, aku hanya ingin mencobanya. Beberapa waktu ini aku tidak sempat, selalu saja terlupa," papar Cara.


"Sekarang kita ke sana," balas Geo.


.


.


.


Geo membukakan pintu mobil untuk Cara. Setelahnya sepasang suami istri itu berjalan ke arah pintu masuk kafe ternama itu. Seperti biasa, Geo akan memeluk pinggang Cara begitu posesif.


Tring …. Suara lonceng pintu masuk itu berbunyi saat Geo membukanya. Seperti biasa, mereka sukses mencuri perhatian manusia lainnya. Namun, seperti biasa pula, mereka santai tidak terganggu dengan hal itu. Mereka terus berjalan ke arah sebuah sofa, salah satu meja mewah untuk pengunjung.


"Permisi, Tuan, Nyonya. Ingin memesan apa?" Seorang pelayan wanita meletakkan sebuah buku menu di atas meja.

__ADS_1


Cara mendongak dan tersenyum sinis, saat melihat seseorang yang dia kenali sedang memandangi Geo penuh binar. "Hai, Fera," sapa Cara.


Pelayan wanita itu terkejut, matanya yang sedari tadi menatap Geo kini beralih pandang ke arah Cara. Kening pelayan yang bernama Fera itu berkerut saat tidak mengenali wajah Cara. "Maaf, Nyonya mengenal saya?" tanya Fera bingung.


Cara tersenyum menatap wajah bingung Fera. "Kau lupa denganku? Aku Cara, Lavia Cara … apa masih ingat dengan nama bagus itu?"


Deg …. Fera terdiam dengan wajah nampak sangat terkejut. "C-cara?" gumam Fera tidak percaya.


Cara tersenyum manis ke arah Fera yang masih tampak kaku ditempatnya. "Iya, sudah lama sekali, ya. Apa kabarmu?"


"A-aku baik." Fera menyahut sambil melirik Geo singkat.


"Syukurlah, apa ada yang menggantikan posisiku di sini?" papar Cara.


Fera terdiam tidak mampu menyahut lagi. Melihat itu Cara tersenyum sinis. "Sudahlah, aku pesan steak tuna. Kakak juga?" tanya Cara kepada Geo.


"Baik, Tuan."


"Dua porsi, segera ya. Aku sudah lapar," ucap Cara.


"Baik, Nyonya. Untuk minumannya apa, Nyonya?" tanya Fera.


"Coklat dingin dua."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mohon ditunggu, Tuan, Nyonya." Setelah mengucapkan itu, Fera pergi dari sana dengan wajah yang masih tampak gugup.


Sesampainya di belakang, Fera menghembuskan napasnya lega. Jelas saja hal itu membuat teman-temannya bingung. "Kenapa Fer? Ada masalah?" tanya seorang wanita.


"Kalian tahu, ada Cara di depan," ungkap Fera.


Teman-temannya tampak bingung. "Cara? Siapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa ada nama Cara lain di dalam hidup kalian?" papar Fera balik bertanya.


"Apa maksud kamu, Cara si buruk rupa itu?" celetuk seorang pelayan.


"Iya," sahut Fera.


"Terus kenapa wajahmu harus seperti itu? Dia melakukan apa kepadamu? Beri tahu kami, biar kami beri pelajaran dia."


"Benar, apa dia ke sini untuk kembali bekerja? Huh, jelas saja tidak dia akan langsung ditendang oleh manager."


"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini? Pesanan sudah diantar semuanya?" Kalimat gosip para pelayan itu terputus oleh kedatangan manager kafe.


"Nah, pas sekali manager datang. Kata Fera, Cara ada di sini. Pasti dia kembali untuk memohon supaya bisa bekerja di sini lagi."


Pelayan lainnya mengangguk membenarkan, kecuali Fera yang sudah menggeleng cepat. "Bukan begitu, kalian salah paham," papar Fera.

__ADS_1


"Kenapa? Dia tidak di sini, begitu?" tanya manager kafe.


"Bukan, Pak. Dia memang di sini, tapi …."


__ADS_2