
Tiara menggendong bayi tampan itu dengan senyum bahagia yang tidak pernah luntur dari bibirnya. "Nanti anak kamu dengan Farel akan seperti ini juga tidak, Sie? Farel dan Tuan Vetro kan sepupu," tutur Tiara.
Siera terkekeh mendengar perkataan Tiara. "Kalau Kak Geo, dia memiliki keturunan Papanya yang bermata biru laut seperti ini. Sedangkan seluruh keluarga Kak Farel memiliki mata coklat, termasuk Mamanya," jelas Siera.
"Jadi Mamanya tidak memiliki mata biru seperti Kakak laki-lakinya, begitu?" tanya Tiara.
"Tidak, Ma. Kata Kak Farel, mendiang Nenek mereka memiliki mata biru laut, sedangkan mendiang Kakek mereka bermata coklat. Jadi mereka lahir dengan bola mata berbeda," ungkap Siera.
Tiara dan Bagas mengangguk mengerti. "Tapi, Tuan Vetro saja sudah begitu tampan dengan bola mata abu-abu itu. Eh … tapi Mama baru sadar akan hal itu. Papanya bermata biru laut, dia memiliki bola mata abu-abu, kenapa bisa?" tanya Tiara bingung.
"Yang aku tahu, kata Kak Farel saat mendiang Mama Kak Geo mengandung, dia memiliki sedikit masalah kesehatan. Entah apa penyebabnya sampai anak yang dia kandung lahir dengan mata putih. Tapi, kata Kak Farel saat berumur tiga tahun, perlahan mata putih Kak Geo berubah menjadi abu-abu," jelas Siera yang juga nampak kurang paham.
"Jadi, semacam kelainan?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Entahlah, tapi begitulah." Siera menyahut sambil mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.
"Tapi bagus sekali, dia begitu tampan. Tapi aku yakin, sikecil ini nanti akan jauh lebih tampan dari pada Daddynya. Sekarang saja bola matanya itu sudah mampu membuat orang terpana." Tiara menunduk menatap wajah mungil itu yang nampak asik sendiri.
"Iya, kalau saja dia sudah besar, pasti aku langsung jatuh hati." Siera berucap sambil terkekeh kecil. Gadis itu mendekat dan membawa bayi kecil itu bermain.
Cklek …. Pintu kamar inap Cara terbuka, tiga pasang mata yang berada di sana melotot saat melihat keadaan Geo dengan tubuh penuh dengan percikan darah. Tiga manusia itu terdiam kaku merasa begitu takut melihat keberadaan Geo yang begitu menakutkan saat ini. Kedatangan Geo mampu menyerap seluruh aura positif dari ruangan itu. Dengan tiba-tiba ruangan itu berubah menjadi begitu dingin.
Glek …. Tiga manusia itu menelan salivanya susah payah saat Geo mulai mendekat ke arah mereka. Jantung Siera dan kedua orang tuanya sudah berpacu saling berlari di dalam sana. 'Sekarang aku percaya, kalau dia adalah pemimpin mafia kejam itu,' batin Tiara ketakutan.
Suara dingin Geo membuat mereka terlonjak. "Su-sudah tadi, Kak," sahut Siera tergagap.
Geo menatap wajah mungil yang nampak seperti kembarannya. Sang putra benar-benar menyalin wajah tampan sang ayah. Yang membedakan mereka hanyalah warna bola mata. Jika Geo berbola mata abu-abu, maka sang bayi mungil berbola mata biru muda, bola mata yang mampu menghipnotis setiap orang yang melihatnya.
__ADS_1
Cklek …. Pintu ruangan itu kembali terbuka, tiga laki-laki masuk dan terkejut melihat wajah pucat Alisa dan kedua orang tuanya. "Ck, dia menakuti kekasih dan calon mertuaku," ucap Farel kesal.
Alex dan Rical terkekeh mendengar kalimat Farel. Tiga laki-laki itu mendekat, sedangkan Siera dapat bernapas lega saat melihat kedatangan sang calon tunangan. 'Syukurlah, aku sudah serasa ingin pingsan,' batin Siera lega.
Gadis itu mendekat ke arah Farel dan memeluk lengan kekar sang kekasih. "Tidak apa-apa?" tanya Farel.
Siera mendongak dan tersenyum tipis. "Sekarang sudah tidak, tapi … sepertinya Mama sudah ingin pipis di celana," bisik Siera.
Farel menoleh dan menatap wajah pucat Tiara yang nampak menahan napas. Sedangkan Alex dan Rical yang ikut mendengar bisikan Siera, hampir saja terbahak. "Ge, bajumu penuh darah. Gantilah," cetus Farel.
Geo mencium pipi putranya pelan. 'Putra Daddy, do'akan Mommy supaya segera sadar, ya,' batin Geo.
Setelahnya laki-laki datar itu menoleh ke arah tubuh sang istri yang masih setia memejamkan mata. "Nanti ke sini lagi, Cara tidak suka kau kotor seperti ini, bukan?" tambah Alex.
__ADS_1
Geo menghela napas berat, laki-laki itu melangkah pelan mendekat ke arah ranjang tempat Cara terbaring. Cup …. Satu kecupan singkat mendarat di kening Cara. Geo menatap wajah cantik nan pucat itu dengan pandangan sendu. "Sudah tiga hari, Baby. Kapan kamu akan bangun? Apakah masih lama?" bisik Geo pelan.