
"Jesy!" Jesy merapat di antara kedua orang tuanya kala mendengar teriakan Rical.
"Bagaimana ini, Ma, Pa? Aku takut." Jesy terisak karena merasa begitu takut. Begitu pula dengan Sasdia yang ikut cemas memikirkan nasib sang anak.
"Mas, ayo kita lari saja dari sini. Anak kita bisa mati di sini," ucap Sasdia kepada Torih.
Sedangkan Torih sendiri sudah frustasi memikirkan hal itu. Torih mengusap wajahnya kasar. "Lari kemana? Kalian seperti tidak tahu saja bagaimana ketatnya penjagaan di sini. Itulah yang aku katakan tadi, jangan bertindak gegabah," ucap Torih frustasi.
Duk … duk … duk …
"Buka pintunya, bangsat!" Tiga manusia yang berada di dalam kamar kecil itu terlonjak. Saat dengan tiba-tiba pintu kamar itu digedor begitu kasar.
"Ma." Jesy semakin mengeratkan pelukannya kepada Sasdia dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku hitung sampai tiga, jika kalian masih belum membukanya … siap-siap mendapatkan hal lebih," teriak Rical.
"Satu …." Jantung Jesy semakin berdetak kencang di dalam sana. Begitu pula dengan Sasdia dan Torih.
"Dua …."
__ADS_1
"Bagimana ini, Ma? Aku takut, hiks." Jesy menangis histeris dipelukan Sasdia.
"Tiga …."
Buk … buk … brak …
Tubuh Jesy kaku saat melihat pintu kamar kecilnya sudah tidak berbetuk. Sosok Rical yang berdiri di tepian pintu membuat Jesy katakutan. Laki-laki yang biasanya berwajah santai itu, sekarang terlihat begitu menakutkan.
Rahang Rical mengeras melihat wajah Jesy. Air muka Rical berubah secara mendadak. Laki-laki itu melangkah cepat ke arah Jesy yang sudah berteriak histeris. "Tidak, aku tidak mau." Jesy menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Sasdia yang tidak kalah panik.
"Ikut aku." Rical menarik paksa tangan Jesy yang terus memberontak memegang tangan Sasdia.
"Jesy sedang hamil, Rical. Dia hamil anakmu," teriak Sasdia histeris.
"Ma, Pa. Tolong aku." Jesy menangis histeris saat Rical menarik paksa tubuhnya.
Sasdia berteriak sambil mengikuti langkah kami Rical. "Putri kita, Mas. Bantu putri kita." Sasdia menarik lengan Torih yang masih terdiam kaku.
"Aku harus bagaimana? Tuan Carves bisa semakin marah." Torih berteriak sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Sasdia meninggalkan Torih dan berlari mengikuti langkah kaki Rical yang menyeret paksa putrinya. "Jangan sakiti putriku, Rical. Dia sedang hamil." Sasdia menangis terngungu.
Sedangkan Rical terus menarik tangan Jesy yang sudah berteriak ketakutan. "Lepaskan aku Rical, tanganku sakit. Aku sedang hamil anakmu, Rical," teriak Jesy.
Plak …. "Diamlah bangsat!" Rical menampar pipi Jesy sehingga membuat wanita itu tersungkur ke kaki sofa.
Tanpa rasa iba, Rical menarik rambut Jesy memaksa wanita itu berdiri. "Sakit," erang Jesy.
"Rical, hentikan … anakku bisa mati!" teriak Sasdia dari kejauhan.
"Aku memang ingin membunuhnya, sudah cukup sabar aku selama ini. Kalian malah semakin menganggap remeh aku."
Plak … bruk …
Rical kembali menampar pipi Jesy, untuk kedua kalinya wanita itu terjatuh ke lantai dingin itu. Sasdia berteriak histeris sambil mendekati putrinya. Wanita paruh baya itu menangis keras melihat keadaan wajah putrinya yang sudah berlumuran darah. Tamparan Rical jelas tidak main-main. "Sakit, Ma," lirih Jesy.
"Kamu brengsek, Rical. Dia istrimu, dia sedang hamil anakmu!" murka Sasdia.
"Minggirlah," desis Rical. Laki-laki yang sedang dikuasai emosi itu mendorong tubuh Sasdia menjauh dari Jesy. Setelahnya Rical kembali menarik paksa Jesy menuju kolam renang.
__ADS_1
Torih membantu Sasdia berdiri, setelahnya sepasang paruh baya itu bergerak cepat ke arah Jesy dan Rical. "Tolong hentikan Tuan Sunder, saya minta maaf atas kesalahan putri saya," ucap Torih pelan.
Rical tidak menghiraukan perkataan Torih, laki-laki itu masih terus melakukan hal yang ingin dia lakukan. Rical kembali menarik rambut panjang Jesy dan membawa kepala wanita itu ke tepian kolam. Tanpa perasaan Rical menceburkan kepala Jesy ke dalam air kolam.