Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
213. Tertawa (lb)


__ADS_3

"Kalian bisa mengatasinya saat ini?" tanya Geo.


"Iya, untuk saat ini biarkan kami saja yang turun tangan. Kau fokus saja kepada Cara dan Geno," balas Alex.


"Tetap waspada, perketat pengamanan. Menghadapi orang gila, kita harus lebih cerdas," papar Geo.


"Baik, aku akan terus melaporkan perkembangan. Setelah ini selesai, kami akan ke sana," ucap Alex.


"Baiklah." Geo menutup panggilan telepon itu. Wajah laki-laki itu sekarang tampak serius. Laporan dari Alex jelas membuatnya tidak senang. Bagaimana pun, dia adalah pemimpin yang seharusnya ikut terjun ke dalam permasalahan ini. Jika biasanya laki-laki itu akan begitu senang dengan sebuah tantangan. Sekarang berbeda, sebab sudah ada Cara dan Geno.


Sedangkan Cara yang sedari tadi melihat wajah serius milik suaminya, sudah merasa bingung. "Daddy," panggil Cara pelan.


Geo tersadar saat suara Cara menarik dirinya ke alam nyata. Laki-laki menoleh menatap sang istri yang saat ini sedang menyusui bayi kecil mereka. Tadi saat Geo mengambil tubuh Geno untuk memberikan kepada Cara. Telepon genggam Geo berbunyi, dengan Alex sebagai penelepon.


Geo menghela napas pelan, setelahnya laki-laki itu tersenyum ke arah sang istri dan mendekat ke arah dua manusia penting itu. "Kenapa, ada masalah?" tanya Cara penasaran.


Geo kembali tersenyum menanggapi perkataan Cara. "Tidak ada, Mommy. Hanya masalah kecil," balas Geo.

__ADS_1


Pemimpin Death itu menatap wajah bayi kecilnya dengan pandangan hangat. Setelahnya Geo mengecup pipi merah Geno yang masih sibuk mengisi perut itu. "Kamu enak ya, mengambil alih punya Daddy," bisik Geo pelan.


"Daddy, jangan berbohong ya. Yakin tidak ada masalah?" celetuk Cara masih nampak tidak percaya.


Geo mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang istri yang saat ini sedang menatapnya serius. Geo terkekeh pelan sambil mencubit pipi tembam Cara gemas. "Iya, Baby. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Semuanya sedang diurus oleh tiga abang-abang kamu," ungkap Geo.


Kening Cara berkerut sambil menatap Geo dengan pandangan menyelidik. Sedangkan Geo hanya memperlihatkan senyum manisnya supaya tidak membuat sang istri semakin curiga. 'Kamu tidak boleh banyak pikiran dulu, Sayang. Jika aku beri tahu yang sebenarnya, kamu pasti akan sangat khawatir,' batin Geo.


"Sudahlah, sekarang ayo berikan Geno kepada Daddy. Kamu pasti sudah kesemutan, dia terlalu lama menyusu," papar Geo.


"Tidak apa-apa, Sayang," sahut Cara.


"Nanti saja ajak jalan-jalannya, Daddy. Setelah Geno mandi, kita ajak dia jalan-jalan. Mommy juga ingin jalan-jalan di pagi hari seperti ini. Sekarang lebih baik, Daddy mandi dulu. Kita hanya perlu menunggu Mama dan Alisa datang. Nanti Geno, Mama yang akan memandikannya. Satu minggu lagi, baru aku belajar memandikan Al. Seperti kata Dokter, bukan?" tutur Cara panjang lebar.


Geo mengangguk pelan menanggapi perkataan Cara. "Ya sudah, kalau begitu kita tunggu Mama Siera datang dulu. Setelahnya, aku akan membantu kamu mandi. Baru setelahnya aku yang mandi," papar Geo.


"Ya sudah kalau begitu," ujar Cara pasrah.

__ADS_1


"Luka kamu kan masih tergolong basah. Jadi masih harus hati-hati dalam bergerak. Kamu tidak boleh terlalu aktif seperti dulu, Sayang. Nanti malah kamu lepas kendali, apa lagi saat menggendong Al," papar Geo.


"Iya, Daddy," balas Cara. Wanita itu merasa gemas sendiri dengan sifat cerewet Geo saat sedang bersama dengannya.


"Bukan hanya iya iya saja, Sayang. Mommy kamu ini kadang keras kepala, Geno. Daddy bilang ini, dia malah mau itu. Daddy bilang itu, dia malah ingin ini," celoteh Geo kepada Geno.


Cara yang melihat itu, tentu saja sudah tertawa. Saking tidak sadarnya tertawa, wanita itu melupakan luka operasinya yang masih belum sembuh total. "Sshh …."


Geo melotot saat mendengar suara ringisan sang istri. Laki-laki itu nampak panik saat melihat Cara sedang meringis sambil memegang perut tepat di tempat luka operasinya. "Kenapa, Baby. Apa yang sakit? Ayo ke rumah sakit cepat!"


Geo bergerak panik di atas ranjang luas itu. Wajah laki-laki itu menatap Cara yang saat ini nampak sedang mengulum bibir menahan tawa. Jujur saja wanita itu begitu kesulitan untuk menahan tawanya. Namun, karena luka di perutnya membuat wanita itu harus bisa menahan diri. "Sayang, kenapa diam? Tunggu aku panggil penjaga dulu."


Langkah Geo terhenti saat tangan lembut Cara menahan lengan kekarnya. Geo melihat Cara menggelengkan kepalanya sambil menatap Geo. "Kenapa?" tanya Geo bingung.


"Tidak perlu, Dad. Aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya lepas kendali saat tertawa, sampai perutku menegang," jelas Cara.


Geo yang mendengar itu menghela napas lega. "Apa aku bilang, jangan lepas kendali, Sayang," ucap Geo nampak kesal.

__ADS_1


"Ya bagaimana, kamu membuat aku ingin tertawa," cetus Cara.


__ADS_2