Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
250. Bak Sampah (lb)


__ADS_3

'Apa yang akan laki-laki ini lakukan?' batin Geo waspada. Sebab bukan hal aneh, seorang Rical Carves menjahili teman-temannya, tidak terkecuali Geo.


"Ekhm … Ra." Kini giliran Geo yang melotot saat merasa Rical akan mengadukan kalimatnya tadi kepada Cara.


Sedangkan laki-laki lainnya sudah tertawa kecil menatap wajah waspada Geo. "Kau benar-benar jahil sekali, Tuan Carves," papar Juan tidak habis pikir.


"Apa, Kak?" Cara dan wanita lainnya nampak menatap ke arah Rical dengan pandangan bertanya.


"Itu, tadi Geo mengatakan, eh …."


Bruk …. "Bangsat!" Rical mengumpat sambil menyentuh bokongnya yang saat ini sudah berada di atas lantai dingin mansion. Semua laki-laki yang melihat kejadian itu sudah terbahak menertawakan nasib Rical.


Geo dengan cepat mengambil alih Geno, sebelum laki-laki itu menendang tubuh Rical yang hampir mengadu kepada Cara. Sedangkan para wanita nampak terkejut dengan kejadian itu. Helen dengan cepat mendekat ke arah Rical, untuk membantu tunangannya itu. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Helen.


"Tidak apa-apa, ini tidak seberapa. Aku bahkan pernah dibuangnya ke dalam bak sampah," tutur Rical nampak kesal.

__ADS_1


Mendengar kalimat Rical, Juan saat ini sudah kembali tertawa keras. Sedangkan Farel hanya terkekeh kecil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Benarkah?" tanya Elzar penasaran.


"Ah, ya ampun. Perutku sakit," tutur Alex.


"Sudah, aku tidak apa-apa kamu duduklah kembali," ucap Rical kepada Helen.


Mendengar itu, Helen pergi dari sana kembali ke tempat duduknya. Setelah kepergian Helen, Rical pun ikut kembali duduk. "Aku penasaran memangnya benar kau pernah dilempar ke dalam bak sampah?" tanya Elzar.


"Untuk apa aku mengada? Aku ini sudah merasakan apa pun itu bentuk kekerasan dari pemimpin Death yang seperti kulkas ini." Rical berucap sambil melirik sinis ke arah Geo yang sedang menggendong Geno. Sedangkan orang yang dilihatnya masih terlihat santai seakan tidak bersalah.


"Jadi sebenarnya waktu itu kami sedang ada misi. Sudah jelas ada misi Rical malah menyempatkan diri untuk bermain gila dulu dengan wanita. Jelas saja Geo marah dengan itu. Melepaskan kemarahannya, akhirnya Geo mengangkat tubuh Rical dan melemparkan ke dalam bak sampah yang saat itu sedang begitu penuh dan lembapnya. Kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana baunya tubuh Rical waktu itu. Aku saja sampai tidak berani mendekat karena baunya begitu menyengat dan mampu mengocok isi perutku."


Jarko dan Elzar menoleh ke arah Alex yang menceritakan kronologi terbuangnya Rical ke dalam bak sampah. Alex bercerita di selat tawanya yang masih tersisa. "Makanya jangan gatal," cibir Farel.


"Ini lagi satu, tidak abangnya sekarang malah adiknya. Aslinya irit bicara, tapi sekalinya berbicara malah begitu menusuk," gerutu Rical.

__ADS_1


"Mii …." Percakapan para laki-laki dewasa itu terhenti saat mendengar suara Geno. Mereka menoleh dan melihat Geno yang sedang menggerakkan tubuhnya sambil menunjuk ke arah Cara.


"Kenapa? Ingin ke tempat Mommy?" tanya Geo.


"Mii …." Geno kembali berceloteh sambil terus menunjuk keberadaan ibunya.


"Sepertinya dia memang ingin ke tempat Cara, mungkin dia sudah lapar," tutur Farel.


"Benar, sedari tadi dia sibuk bermain dan berjalan sendiri," tambah Jarko. "Tapi kapan Geno bisa makan nasi?" sambung Jarko.


"Sekitar dua minggu lagi," sahut Geo. Setelah menyahut pertanyaan Jarko, Geo membawa tubuh Sang anak mendekat ke arah Cara.


"Mommy," panggil Geo.


Cara yang mendengar suara suaminya, menoleh dan melihat Geno nampak sudah mengembangkan kedua tangan kecilnya itu. Cara terkekeh melihat wajah sang anak, wanita itu berdiri dan berniat mengambil alih putranya. Namun, Geo menahan sambil bersuara. "Ayo kita ke kamar dulu, Geno sepertinya lapar," ucap Geo.

__ADS_1


Cara tersenyum menatap wajah menggemaskan milik putranya. Geo jelas aja tidak akan memberikan dia izin untuk menyusui sang putra di depan laki-laki lain. Cara pun jelas tidak akan berani untuk menyusui bayinya itu di depan banyak orang seperti itu. "Baiklah, ayo," sahut Cara.


__ADS_2