
Exel Rowin, anak laki-laki berusia satu tahun yang saat ini nampak sibuk bermain bersama tiga anak laki-laki lainnya. Tidak sendiri, Exel juga memiliki teman sepantaran. Eza, anak dari Elzar yang juga berumur satu tahun.
Cklek …. "Mana dedek bayi?" Baru saja pintu ruangan inap itu terbuka. Seorang anak laki-laki tampan masuk dan langsung bertanya tentang dedek bayi.
Geno Vetro, anak laki-laki berusia tiga tahun itu masuk bersama dengan satu anak laki-laki yang tidak kalah menggemaskan. Pandi, anak dari Jarko ini juga berumur tiga tahun. Dari awal lahir mereka hampir setiap hari bersama.
"Nah, ini dia si kulkas kecil," celetuk Rical.
"Mana dedek bayi aku, Pi?" tanya Geno tidak sabar.
Semua orang dewasa yang berada di sana sudah terkekeh kecil merasa gemas melihat tingkah Geno. Mereka semua tahu jika Geno begitu menginginkan bayi kecil. Jadi mereka tidak heran saat melihat wajah antusias dan tidak sabar anak laki-laki tampan itu.
"Kamu ingin melihatnya?" tanya Rical.
"Iya, mana?" balas Geno.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Geno, Rical mengangkat tubuh kecil anak laki-laki itu. Setelahnya Rical membawa tubuh Geno mendekat ke arah ranjang bayi kecilnya. "Eh, Mami kenapa?"
Geno nampak terkejut saat melihat Helen sedang berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat. Sedangkan Helen sedang tersenyum ke arah anak laki-laki tampan itu. Beberapa detik kemudian, mata Geno melotot sambil menatap terkejut ke arah perut Helen.
"Itu, peyut Mami kenapa? Kenapa kempet?" Geno berucap sambil menunjuk perut Helen yang saat ini sudah datar. Melihat reaksi Geno, semua orang dewasa yang berada di sana kembali tertawa.
"Papa, aku juga ingin melihat Mami. Kenapa dengan peyut Mami?" Pandi mendekat ke arah Jarko sambil membentangkan tangannya meminta digendong kepada sang ayah.
Sedangkan Jarko yang melihat wajah penasaran putranya sudah terkekeh kecil. Setelahnya laki-laki itu mengangkat tubuh Pandi dan ikut mendekat ke arah Rical. Sama halnya dengan Geno, Pandi juga nampak terkejut. "Wah, iya. Ke mana peyut Mami?" tutur Pandi.
"Aku cuka peyut gendut Mami, Mami taloknya di mana?" tanya Geno lagi.
"Begini, Boy. Kemarin itu di dalam perut Mami sedang ada dedek kecil. Dedek bayi yang saat ini sudah keluar dari dalam perut Mami. Jadi karena itu perut Mami sudah tidak gendut lagi. Karena dedek bayinya sudah keluar," jelas Rical.
Geno nampak terdiam menatap Rical yang baru saja menjelaskan tentang perut Helen. Setelahnya anak laki-laki itu mengangguk pelan, mungkin dia sudah mengerti. "Telus mana dedek bayi yang ada di dalam pelut Mami itu?" tanya Geno.
__ADS_1
"Itu dia, sedang menatap abangnya." Rical menunjuk ke arah keranjang bayi yang berada di samping ranjang Helen. Melihat itu mata Geno berbinar nampak begitu senang.
"Ciapa nama adek Geno?" tanya Geno.
Mendengar pertanyaan Geno semua orang menoleh ke arah Rical. Merasa semua orang tengah penasaran dengan nama putri kecil mereka, Rical akhirnya bersuara. "Riza Carves, panggil dia Iza," ucap Rical.
"Hai, Ija," sapa Geno. Mata Rical melotot saat mendengar nama putrinya dari mulut Geno.
"Hei, Papi bilang Iza. Bukan Ija, kamu pikir apaa," papar Rical.
"Iya, namanya Lija Kalpes kan?" balas Geno.
"Astaga, terserah kamulah," balas Rical pasrah. Orang-orang yang mendengar itu terkekeh kecil melihat wajah Rical. Ingin marah pun juga laki-laki itu tidak bisa, sebab memang Geno yang masih cadel dalam berbicara.
Melihat wajah antusias dan wajah senang dari Geno. Membuat semua orang tahu, jika anak laki-laki itu memang benar-benar menyukai bayi kecil. "Wah, sepertinya Geno memang benar-benar menginginkan adik, Ge," tutur Rical.
__ADS_1
Geo menoleh ke arah Cara yang saat ini juga sedang menatapnya. Pemimpin Death itu tersenyum lembut sambil mengusap pelan rambut sang istri. "Ada masanya Geno akan mendapatkan adik dari Mommy. Yang penting sekarang dia sudah sangat senang," bisik Geo lembut.
Cara tersenyum manis ke arah suaminya yang dia ketahui sedang mencoba menenangkan hatinya. Jujur saja sebagai wanita dia merasa sedih dan takut secara bersamaan. Cara sedih karena sampai sekarang usaha mereka untuk mendapatkan anak kedua belum berhasil. Cara takut jika sang suami melirik wanita lain karena dia belum bisa memberikan anak kedua. "Iya, Daddy," sahut Cara pelan.