
"Halo," sapa Torih.
"Selamat pagi Tuan Gerisam, apa saya mengganggu waktu sarapan pagi harmonis keluarga Anda?" sahut Cara di seberang telepon.
"Tidak usah basa-basi Cara, kenapa kau meneleponku," ujar Torih datar.
Torih dapat mendengar suara tawa di seberang telepon. "Tidak usah buru-buru Tuan, hari masih begitu pagi tapi Anda sudab tidak sabaran saja," ejek Cara.
Torih menggeram tertahan mencoba menahan emosinya. "Apa yang kau inginkan?" papar Torih to the point.
"Kau tahu saja ya, aku apresiasi keterbiasaan kalian kepadaku sekarang. Tapi tenanglah, aku hanya ingin memberi tahu kabar gembira untuk kalian," ucap Cara.
Torih mengernyit bingung, sedangkan Jesy sedari tadi sudah was-was sambil memperhatikan mimik wajah Torih. Jesy mencoba menebak apa yang mereka bicarakan. "Tidak bisakah kau langsung kepada intinya?" geram Torih.
Cara terkekeh. "Baiklah, aku ingin memberi tahu kalau untuk beberapa waktu ke depan kalian masih bisa bernapas santai. Sebab aku akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, suamiku merencanakan honeymoon yang begitu manis untukku. Aku beruntung bukan mendapatkan suami seperti itu? Tidak seperti bundaku yang begitu sial harus menikah dengan seorang laki-laki brengsek," sindir Cara santai.
Torih mengepalkan tangannya menahan umpatan yang serasa ingin keluar. Namun, Torih menahan itu semua sebab sudah pasti laki-laki paruh baya itu tidak ingin berurusan dengan seorang laki-laki penguasa negara. "Saya ikut senang mendengarnya Nyonya Vetro, semoga honeymoon Anda bersama Tuan Vetro berjalan dengan baik," ucap Torih dengan nada terpaksa.
Jesy yang mendengar kata honeymoon terkejut. Perasaan iri di dalam hati Jesy kembali bermekaran di dalam sana. Kehidupan beruntung yang di dapat Cara sukses membuat Jesy semakin merasa tidak suka kepada saudara tirinya itu. 'Dia akan pergi honeymoon?' batin Jesy iri.
__ADS_1
"Wah … terima kasih atas doa Anda, Tuan Gerisam. Aku sungguh terharu," papar Cara dengan nada berpura-pura.
"Tapi … apa di sana ada putri Anda, Tuan?" sambung Cara bertanya.
Torih mengernyit sambil menatap Jesy, sedangkan Jesy yang tiba-tiba ditatap oleh Torih sudah terkejut. "Jesy?" tanya Torih.
"Iya, siapa lagi putri Anda Tuan Gerisam? Apa Anda memiliki putri selain Nona Jesyta Gerisam? Setahu saya tidak ada," sindir Cyra.
Torih terdiam mendengar perkataan Cara yang selalu saja tepat sasaran. Cara yang sekarang benar-benar pintar berbicara, sehingga mampu membuat lawan bicaranya kalah telak. "Ah iya … aku lupa kalau Anda masih memiliki satu putri lagi, tapi sayangnya tidak dianggap ya. Sungguh kasihan sekali nasib perempuan itu, sedari hadir di dalam perut sudah tidak diinginkan oleh ayahnya. Bahkan dia tidak diizinkan untuk membawa marga ayahnya ke dalam namanya sendiri, sungguh miris," sambung Cara kembali tepat sasaran.
Torih masih saja diam, dia tahu betul Cara saat ini sedang menyindir dirinya. Sehingga sekuat tenaga Torih berusaha untuk tidak membentak Cara yang sedari tadi mencoba memancing amarahnya. "Aduh … maaf ya Tuan Gerisam, pembicaraan kita malah melenceng ke mana-mana. Padahal maksudku meneleponmu hanya untuk menyampaikan kabar gembira. Ah … tapi aku berharap setelah pulang dari honeymoon nanti, aku ingin mendengar kabar gembira juga dari kalian," ucap Cara.
Torih mengernyit tidak mengerti. "Kabar gembira apa maksudmu?" tanya Torih.
Torih melotot terkejut sambil menatap ke arah Jesy yang sudah pucat karena khawatir. "Apa maksudmu? Jesy belum akan menikah," ujar Torih.
Sasdia mengernyit saat mendengar perkataan Torih, sedangkan Jesy sudah berkeringat dingin merasa begitu panik. 'Wanita sialan itu benar-benar ingin memberi tahu Papa,' umpat Jesy di dalam hati.
"Ya ampun, ternyata dia masih belum memberi tahu kalian yah. Ck … kasihan loh, nanti malah semakin malu kalau tidak dinikahkan dari sekarang," ejek Cara.
__ADS_1
Torih mengerutkan keningnya bingung sambil menatap Jesy bertanya. "Apa maksud Anda Nyonya Vetro, bisa to the point saja?" tanya Torih tidak sabar.
"Sebenarnya ini bukan ranah saya untuk memberi tahu kalian, seharusnya putri Anda sendiri yang jujur kalau dia sedang hamil, ups … maaf aku keceplosan," ucap Cara berpura-pura.
Torih melotot terkejut, laki-laki paruh baya itu menatap tajam Jesy sehingga membuat orang yang ditatapnya bergerak gelisah. 'Sepertinya Papa sudah tahu, aku harus bagaimana?' batin Jesy panik.
"Kau hamil?" desis Torih. Laki-laki paruh baya itu menatap tajam ke arah Jesy isyarat akan kemarahan.
Sasdia melotot ke arah Torih merasa terkejut dengan kalimat yang diucapkan oleh suaminya itu. "Apa maksud kamu bertanya seperti itu Mas? Tidak mungkin anak kita hamil, sedangkan dia saja belum menikah," balas Sasdia.
"Sebab itu aku bertanya, dia hamil di luar ikatan pernikahan. Benar begitu?" desis Torih.
Sasdia terkejut. "Tidak mungkin Mas, jawablah Sayang. Kamu tidak sedang hamil bukan?" tanya Sasdia.
Jesy diam sambil menunduk, wanita itu bingung bercampur takut untuk jujur kepada Torih dan Sasdia. "Tingkah anehnya tadi sudah bisa sebagai jawabannya, tidak suka makanan yang biasanya begitu disukainya. Malah meminta makanan yang biasanya tidak disukainya, ditambah … tadi dia muntah-muntah tidak jelas," geram Torih.
Sasdia terdiam, wajah wanita paruh baya itu ikut memucat. Sasdia menatap Jesy yang masih menunduk diam. "Jawablah Jesy, apa itu benar? Mama harap kamu menjawab tidak, Sayang," lirih Sasdia.
"Jawablah! Jangan hanya diam," bentak Torih.
__ADS_1
Sasdia dan Jesy terkejut mendengar nada tinggi dari Torih. Jesy mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Iya," lirih Jesy.
"Bangsat!" Brak …. Torih mengumpat sambil memukul meja makan begitu kasar.