Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
263. Berdebat (lb)


__ADS_3

"Sayang," panggil Geo. Cara menoleh menatap wajah suami tampannya. Laki-laki itu mendekat ke arah Cara dan memeluk tubuh istrinya itu.


"Sudah, ayo kita ke bawah. Geno pasti sudah menunggu," ujar Cara lembut.


Mendengar itu, Geo mendengus kesal. "Ck, biarkan saja dia. Anak durhaka itu," celetuk Geo kesal.


Cara tertawa mendengar kalimat suaminya. "Dia seperti itu juga turunan dari kamu, Daddy," ucap Cara.


"Tapi dengan kamu dia tidak seperti itu, makanya dia itu durhaka," papar Geo.


Cara terbahak melihat wajah lucu milik suaminya. Geo saat ini sedang mengerucutkan bibirnya merasa kesal mengingat wajah menyebalkan milik putranya. Padahal Geno begitu mirip dengannya, dari segi wajah juga dari segi sifat. Semuanya mirip, bahkan seakan mereka itu seperti kembar.


"Sudah, ayo. Mommy juga sudah lapar." Cara menarik tangan sang suami menuju pintu kamar mereka. Sepasang suami istri itu berjalan mesra seperti biasanya.


Pandangan mata Geo dan Cara menangkap sosok laki-laki remaja yang sedang duduk di meja makan sambil sibuk dengan telepon genggam. "Selamat pagi, Sayang Mommy."

__ADS_1


Suara lembut Cara mengalihkan perhatian laki-laki remaja itu dari ponselnya. Geno, laki-laki remaja yang begitu tampan itu mendongak dan tersenyum manis ke arah Cara. Setelahnya laki-laki itu berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Cara. "Selamat pagi juga, Mommy Geno yang cantik," sapa Geno.


Belum sempat saling berpelukan, Geo lebih dulu berdiri di antara Cara dan Geno. Wajah hangat Geno tadi, tiba-tiba berubah menjadi datar dan menatap malas ke arah Daddy-nya. Cara hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir dengan sifat posesif sang suami yang benar-benar keterlaluan.


"Tolong minggir, Tuan Besar Vetro. Saya ingin memeluk Mommy saya," tutur Geno dengan nada datarnya.


"Don't touch my wife," balas Geo tidak kalah datarnya.


"Ck, dia itu Mommyku, Pak tua," ketus Geno nampak mulai kesal.


"Dia istriku," balas Geo tidak mau mengalah. Setiap pagi dan setiap hari, Cara selalu melihat perdebatan antara dua laki-laki tampan dihadapannya itu. Wanita itu hanya bisa pasrah dan diam menunggu dua laki-laki itu selesai dengan perdebatan mereka.


Geo dan Geno menoleh dan menatap Cara yang berjalan ke arah kursi meja makan. Setelahnya dia laki-laki itu saling tatap sejenak, hanya sejenak. Sampai beberapa detik kemudian, dua laki-laki itu berlomba langkah cepat supaya bisa menarikkan kursi untuk sang ratu mansion itu. Geo dan Geno saling sikut dan saling dorong demi bisa mencapai kursi Cara lebih dulu.


Cara sadar akan hal itu, wanita itu hanya bisa menghela napas berat membiarkan dua laki-laki tampan itu melakukan apa saja yang mereka inginkan. Cara hanya diam sambil menatap dua laki-laki itu selesai. Wanita itu nampak mengulum bibir mencoba menahan tawa. Aksi Geo dan Geno jelas saja nampak lucu di matanya, di mana dua laki-laki es itu terlibat perdebatan aneh seperti itu.

__ADS_1


Drett …. "Silakan, Mommy cantik," ucap Geno.


Geno menoleh ke arah Geo sambil tersenyum mengejek. Laki-laki remaja itu kali ini menang dari sang Daddy yang saat ini nampak terlihat kesal. "Thank you, Sayang," balas Cara.


Cara, wanita beruntung yang benar-benar diperlakukan bak ratu oleh dua laki-laki tampan itu. Geo, sang suami yang memang sedari dulu begitu memanjakan sang istri. Sekarang ditambah dengan Geno, laki-laki remaja yang juga begitu memanjakan ibu kandungnya itu. Jika di luar sana dua laki-laki itu akan bersikap dingin dan kejam, maka jika sedang berama Cara, mereka akan berubah menjadi laki-laki hangat dan manja.


Mata Geo melotot saat melihat Geno memeluk tubuh Cara sejenak dan mencium kedua pipi Cara. Dengan gerakan cepat laki-laki itu mendekat dan menjauhkan tubuh Geno dari sang istri. Setelahnya Geo mengambil tisu dan menghapus kedua pipi Cara dengan tisu tersebut. Beberapa detik kemudian, Geo beralih mencium kedua pipi sang istri.


"Sudah, di pipi ini banyak boleh ada jejak ciumanku," celetuk Geo posesif.


Bagaimana dengan Geno? Laki-laki remaja itu saat ini sudah menatap kesal ke arah Daddy-nya. Berbeda dengan Cara yang entah sudah keberapa kali menghela napas berat. Hal seperti ini juga setiap hari terjadi. Geno akan memeluk dan mencium Mommy-nya. Namun, Geo pasti akan segera menghapus jejak ciuman itu.


"Daddy durjana," ketus Geno kesal.


"Kau yang durjana," balas Geo tidak kalah kesal.

__ADS_1


"Durhaka, bukan durjana," koreksi Cara malas.


"Maksudnya itu Mommy," sahut Geo dan Geno serentak.


__ADS_2