Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
62. Nyonya Carves (lb)


__ADS_3

Tring … tring … tring …


Jesy menoleh saat mendengar suara ponselnnya. Wanita itu menatap tajam nama yang terpampang di layar ponselnya sebagai sang penelepon. "Halo," sapa Jesy malas.


"Halo Nona Gerisam, eh … apa aku harus memanggilmu Nyonya Carves sekarang?" balas Cara seakan meledek.


Jesy tersenyum miring. "Ya, aku adalah Nyonya Carves sekarang. Jangan tidak sopan kau," ucap Jesy angkuh.


Cara tertawa mendengar nada angkuh Jesy. "Ya, baiklah. Aku akan memanggilmu dengan Nyonya Carves. Aku cukup kesal karena kamu tidak mengundangku ke acara pernikahanmu itu, padahal aku ingin sekali menghadiri acara bahagianmu itu," ujar Cara.


"Oh … aku lupa, ternyata kau hanya menikah sirih ya. Kau bahkan tidak mengadakan pesta, kasihan sekali. Padahal suamimu pengusaha sukses loh," ejek Cara.

__ADS_1


Jesy mengepalkan tangannya marah. "Tidak usah mengejekku, kami hanya menunda pesta. Nanti setelah anakku lahir, kami akan mengadakan pesta mewah. Bahkan lebih mewah dari pesta pernikahanmu itu. Rical hanya kasihan kepadaku yang sedang hamil, dia takut aku kelelahan saat pesta," kilah Jesy.


Sedangkan Cara sudah tersenyum miring di seberang telepon. "Begitu ya, ternyata Tuan Carves begitu mencintaimu ya. Aku ikut senang mendengarnya. Kalau begitu jangan lupa untuk mengundangku ke pesta kalian nantinya ya," tutur Cyra.


"Tentu saja, kau adalah orang pertama yang akan aku undang. Aku jamin kau akan merasa iri dengan pesta pernikahanku nantinya," sahut Jesy angkuh.


"Aduh, sayangnya aku tidak memiliki sifat iri Nyonya Carves. Tapi tidak apa-apa, aku ikut senang kalau kamu bahagia menikah dengan Tuan Carves. Aku belum mengucapkan selamat bukan? Selamat ya atas pernikahan sirihmu," ujar Cara sambil menekan kata sirih di dalam kalimatnya.


Jesy mengepalkan tangannya marah mendengar Cara sepertinya sengaja menyindir status pernikahannya. "Aku juga sudah mengirimkan hadiah pernikahannya ke mansion Tuan Carves. Aku rasa nanti sore akan sampai di sana. Semoga Anda suka ya," sambung Cara.


"Tenang saja, kali ini hadiahnya tidak aneh-aneh kok. Mood aku sedang baik setelah pulang dari bulan madu romantisku. Oh iya … apa Anda tidak ada jadwal bulan madu bersama Tuan Carves?" tanya Cara.

__ADS_1


Jesy terdiam, perkataan Cara mampu membuat hatinya kembali lesu. Mengingat pernikahan indah yang diimpikannya tidak terwujud, bayangan perlakuan romantis dari suaminya yang ternyata sangat bertolak belakang. Belum lagi tentang bulan madu romantis yang menjadi hal indah bagi pengantin baru, itu semua hanya angan-angan. "Nyonya Carves, apa Anda masih di sana?" Suara Cara menyadarkan lamunan Jesy.


"Sudahlah, aku menunggu hadiah darimu. Aku rasa seorang Nyonya Vetro tidak akan memberikan hadiah yang murahan bukan?" sahut Jesy sinis.


"Oh, tentu saja Nyonya. Aku membelikan sesuatu yang sesuai dengan level orangnya. Jadi kamu tunggu saja," papar Cara.


"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu. Aku sedang hamil, Rical menyuruhku untuk banyak beristirahat," ujar Jesy.


"Oh, begitukah? Tuan Carves memang benar, aku yakin kamar utama di mansion Carves nyaman sekali bukan?" balas Cara sengaja memancing.


Jesy terdiam, perkataan Cara kali ini benar-benar sukses menyindir dirinya. Jesy mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan kecil yang ditempatinya itu. "Tentu saja, di sini sangat nyaman," sahut Jesy.

__ADS_1


Cara tersenyum mengejek. "Baguslah, aku senang mendengarnya. Tapi … kenapa perusahaan Gerisam masih seperti itu? Apa Tuan Carves tidak membantu?" tanya Cara.


Jesy kembali terdiam, wanita itu mengepalkan tangannya merasa begitu kesal. Perkataan Cara sedari tadi selalu tepat menyindir dirinya. "Sepertinya kau tidak perlu membahas ini Nyonya Vetro, kau tidak usah ikut campur. Aku lelah dan ingin istirahat." Setelahnya Jesy mematikan sambungan telepon begitu saja.


__ADS_2