Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
232. Bertemu (lb)


__ADS_3

Helen berjalan menuju sebuah tempat yang baru saja dia tanya kepada seorang mahasiswa. Saat ini gadis itu sedang berjalan menuju tempat yang tertulis di surat yang dia dapatkan dari laki-laki tadi. Setelah jam kuliahnya selesai, gadis itu berniat datang ke tempat yang dikatakan di dalam surat itu.


Kening Helen berkerut saat merasa tempat yang dia kunjungi ini begitu menakutkan. "Kenapa ke bagian belakang kampus seperti ini? Menyeramkan sekali, benar tidak ya tempatnya?" gumam Helen mulai takut.


Langkah kaki gadis itu mulai semakin pelan saat bulu kuduknya merasa merinding. "Ih, kembali sajalah. Mengerikan di sini."


"Hei." Pergerakan Helen yang berniat pergi dari sana terhenti saat mendengar suara berat seseorang.


Helen menoleh dan mengernyit bingung saat melihat seorang laki-laki sedang tersenyum ke arahnya. Senyum yang nampak berbeda, Helen pun merasakan ada yang aneh. "Terima kasih sudah datang," ucap laki-laki itu.


"Oh, jadi kamu yang memberikan kertas ini?" tanya Helen kepada laki-laki itu.


"Iya," sahut laki-laki itu singkat.


"Tapi apa kita saling kenal? Maaf, tapi mungkin aku lupa," cetus Helen.

__ADS_1


Laki-laki itu mulai mendekat sambil terus tersenyum ke arah Helen. "Kita pernah bertamu, bahkan sempat berada di dalam kegiatan mengasyikkan. Hanya saja itu semua terhalang karena seseorang," papar laki-laki itu.


Kening Helen berkerut mendengar perkataan laki-laki dihadapannya. Gadis itu tidak mengerti maksud dari kalimat laki-laki itu. "Maksud kamu? Aku tidak mengerti," ujar Helen.


Laki-laki itu tersenyum miring menanggapi kalimat Helen. Semakin lama laki-laki itu semakin mendekat sehingga membuat Helen ketakutan. Helen memundurkan langkahnya saat laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya. "A-apa yang kau inginkan?" ucap Helen mulai takut.


Laki-laki itu kembali tersenyum miring sambil terus mendekat ke arah Helen. "Kau lupa aku kan? Biar aku perkenalkan namaku lagi, namaku adalah Rizal. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi," bisik laki-laki yang ternyata adalah Rizal.


Beberapa detik Helen terdiam mengingat nama yang tidak asing baginya itu. Namun, beberapa menit kemudian mata gadis itu melotot dengan wajah nampak semakin pucat ketakutan. Sedangkan Rizal yang melihat itu sudah tertawa iblis. "Bagaimana? Kau sudah ingat aku, Baby?" bisik Rizal.


Rizal yang melihat itu tertawa keras, terdengar begitu menyeramkan. Kaki Helen gemetar merasa kekuatannya tiba-tiba lenyap. "Tolong jangan ganggu aku lagi, aku mohon. Apa salahku?" Helen berucap sambil mulai terisak.


Bukannya kasihan, Rizal malah tertawa senang. "Salahmu? Salahmu adalah kau membuat aku suka dan tertarik. Wajahmu dan tubuhmu ini selalu terbayang di dalam benakku. Bahkan di saat aku bercinta dengan wanita lain, wajahmu adalah pemacu gairahku."


"Lepaskan!" Rizal memeluk paksa tubuh Helen dan membawa gadis itu ke dalam gudang lama kampus itu.

__ADS_1


...*****...


"Brengsek! Kau membuat semuanya semakin kacau bangsat!" murka Jarko.


"Masalah data, kau benar-benar ceroboh ya, Elzar," ejek Farel.


Elzar yang mendengar kalimat Farel menoleh dengan pandangan tidak mengerti. "Aku sama sekali tidak mengambil data-data Tiger. Tapi aku hanya menyembunyikannya, dan itu masih berada di dalam akun kalian," sambung Farel.


Elzar nampak terkejut mendengar kalimat Farel. Dengan cepat laki-laki itu mengambil tablet miliknya dan mulai mengotak-atik benda pintar itu. Namun, beberapa menit bergelut dengan benda itu. Elzar tidak menemukan apa-apa. Laki-laki itu menoleh cepat ke arah Farel yang saat ini sedang tersenyum remeh ke arahnya. "Tidak ada," papar Elzar.


"Sepertinya lencanamu harus diturunkan ke pada tingkat B," celetuk Farel.


Elzar terkejut mendengar kalimat Farel. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa menemukan folder tersembunyi yang dimaksud Farel. "Apa kau tidak tahu tentang kunci FW+?" sambung Farel.


Mata Elzar melotot mendengar kalimat Farel. 'Kau memang bodoh, Elzar,' batin Elzar mengumpati dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelahnya Elzar kembali mengotak-atik tabletnya. Hanya satu menit, laki-laki itu akhirnya menemukan file penuh yang masih tersimpan rapi. Elzar mengusap wajahnya sambil melirik Farel yang sedang tersenyum miring. Sedangkan Jarko saat ini sedang menatap ke arah Elzar dengan pandangan bertanya. "Aman," cetus Elzar kepada Jarko.


__ADS_2