
"Silakan duduk, Pak Andra," ucap kepala sekolah sopan.
Laki-laki paruh baya yang bernama Andra itu nampak tidak senang. Dia menoleh sekeliling dengan pandangan menyelidik. "Mana di antara mereka yang berani mengganggu putriku?" tanya Pak Andra ketus.
"Itu, Pa." Andini menunjuk Lamira yang saat ini sedang duduk santai di atas sofa.
Pak Andra menoleh dan menatap tajam Lamira yang nampak tidak terpengaruh. "Jadi kau orangnya? Berani sekali kau bertindak kasar kepada putriku," geram Pak Andra.
"Silakan duduk dulu, Pak. Kita selesaikan baik-baik," sela kepala sekolah mencoba menenangkan Pak Andra.
"Tidak bisa tenang, putri saya ini saya manjakan. Selama ini tidak pernah tersentuh kata kasar apa lagi dengan tindakan kasar. Saya tidak terima ini, saya ingin gadis ini di drop out dari sekolah ini. Saya tidak mau tahu," sahut Pak Andra tidak terima.
Kepala sekolah itu menghela napas berat mendengar perkataan Pak Andra. "Tenanglah dulu, Pak. Saya memanggil Bapak ke sini memang untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi, kita tunggu dulu wali dari Lamira baru kita mulai membahasnya," tutur kepala sekolah.
__ADS_1
Dengan raut terpaksa Pak Andra duduk di samping putrinya. Mata Pak Andra kembali terfokus kepada Lamira yang masih saja diam. "Hei kau, kau benar-benar tidak punya sopan santun ya?" sindir Pak Andra kepada Lamira.
Lamira menoleh dan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap sekitar. "Maaf, Anda berbicara dengan saya?" tanya Lamira santai.
Pak Andra yang mendengar itu melotot merasa begitu kesal kepada Lamira. "Lihat, Pa. Dia benar-benar kurang ajar, bukan?" dengkus Andini.
"Iya, kau benar-benar tidak ada sopan dan santun," cerca Pak Andra.
"Maaf ya, Papa Andini yang terhormat. Sebenarnya di sini siapa yang tidak punya sopan santun, sih? Anda sedari sampai bukannya mengucapkan salam dan kata permisi, malah langsung berceloteh. Di sini bukan hanya ada kami anak remaja. Ini ada bapak kepala sekolah, apa Anda tidak menganggapnya di sini. Sedari tadi berbicara seakan tidak menghargai keberadaan kepala sekolah kami," tutur Lamira balas menyindir.
"Ekhm … tidak usah mencari topik lain kau. Mana walimu? Kenapa belum sampai?" papar Pak Andra mengalihkan kecanggungan.
"Siapa yang akan datang, Pa? Dia kan tidak memiliki wali, Papanya sudah tidak menganggapnya anak, sedangkan Mamanya sudah meninggal," ejek Andini.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Pantas saja dia tidak punya etika dan sopan santun," sinis Pak Andra.
Kepala sekolah yang mendengar itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Bukannya menegur putrinya, Pak Andra malah menambahkan kalimat makian untuk Lamira. "Pak Andra, tidak baik begitu. Saya hanya takut, nanti Bapak menyesal setelah tahu siapa wali dari Lamira," peringat kepala sekolah.
Pak Andra menoleh dan tersenyum sinis. "Siapa? Polisi? Aku tidak takut, mereka bisa aku suap," papar Pak Andra angkuh.
Kepala sekolah itu kembali menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Pak. Saya maklum, pantas saja putrinya memiliki sifat seperti itu. Ternyata turunan dan ajaran dari Papanya sendiri," celetuk Lamira.
"Sudah, Mira," balas kepala sekolah.
"Apa maksud kamu, hah?" murka Pak Andra.
"Lah … kenapa, Tuan? Apa saya mengajak Anda berbicara tadi? Padahal saya sedang berbicara dengan kepala sekolah, loh," cetus Lamira santai.
__ADS_1
"Anak kurang ajar, cepat saja keluarkan dia dari sekolah ini, Pak. Jika harus menunggu walinya, entah kapan akan sampai. Walinya saja telat seperti ini, pasti dia takut kepadaku," ucap Pak Andra pongah.