Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
182. Lahir (lb)


__ADS_3

Geo mengikuti tubuh Cara yang saat ini sedang didorong oleh para tenaga medis. "Sayang," panggil Geo pelan.


Mata Cara mengerjap pelan, wanita itu tersenyum melihat wajah sang suami yang sudah nampak basah. "Mommy sayang Daddy," bisik Cara.


Geo menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Cara. Bibirnya terkatup seakan tidak mampu bersuara. Dada Geo naik turun menahan sesak di dalam hatinya. "Aku tahu, Baby. Aku tahu, aku bahkan lebih mencintai kamu. Lebih dari diri aku sendiri, jadi kamu harus kuat. Demi aku dan bayi kita, please," lirih Geo.


Cara hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan Geo membuat sebuah kekuatan masuk ke dalam jiwanya. Namun, pendarahan yang dialaminya cukup menguras seluruh tenaga wanita itu. "Mohon untuk memakai baju steril dulu, Tuan," tahan seorang perawat.


Tanpa membantah, Geo segera memakai pakaian yang disodorkan perawat itu. Sedangkan Alex hanya mampu menatap sendu ranjang Cara yang sudah menghilang di balik pintu. 'Semoga kamu baik-baik saja, Dek,' batin Alex cemas.


Geo berjalan cepat ke arah Cara yang saat ini sedang dipasangkan alat penunjang operasi. "Kami membutuhkan izin dari Anda, Tuan. Nyonya Vetro mengalami pendarahan yang cukup parah. Sepertinya ini terjadi karena Nyonya terlalu khawatir dengan jadwal melahirkan. Kami terpaksa barus melalukan operasi, mohon untuk menanda tangani surat dulu, Tuan."


Seorang dokter wanita menjelaskan kepada Geo sambil menyodorkan sebuah map. "Lakukan yang terbaik, tidak usah mengulur waktu. Istriku sudah kesakitan." Geo meraih map itu sambil berucap tegas.


Beberapa detik membaca perjanjian di dalam surat itu, Geo menandatangani surat itu. Geo mendekat ke arah Cara yang masih memejamkan matanya. "Mommy," panggil Geo pelan.


Mata Cara mengerjap dan menatap Geo lembut. "Aku tahu Mommy kuat," ucap Geo.

__ADS_1


Cup …. Satu kecupan lembut Geo berikan di kening sang istri. Wajah pucat Cara saat ini sungguh berhasil membuat hati Geo teriris. "Andai rasa sakit bisa dibagi, aku bersedia untuk mengambil seluruhnya dari tubuh kamu, Sayang," bisik Geo sendu.


"Sediakan empat kantung darah A+ untuk penjagaan. Anti biotiknya pakai yang seperti biasa, suntikkan pelan dan beri tanda. Operasi akan segera dilakukan," interuksi seorang dokter.


"Selang oksigennya sudah dicek?" tanya satu dokter lagi.


"Sudah, Dok," sahut seorang perawat.


"Saya sudah menyutikkan anti biotiknya, Dok," tutur salah satu perawat.


"Cek tekanan darah pasien," titah dokter.


"Detak jantung?" tanya dokter lagi.


"Sedikit lemah, tapi masih aman, Dok," balas perawat itu lagi.


"Baik, bersiap!" ucap dokter.

__ADS_1


Seluruh tenaga medis yang berada di dalam ruangan itu nampak sibuk. Geo masih mencoba membawa Cara berbicara untuk mengalihkan perhatian sang istri. "Lebih santai ya, Nyonya. Jangan sampai terkejut, saya akan menyuntikkannya dengan pelan," pungkas seorang dokter kepada Cara.


Secara perlahan beberapa perawat mulai membantu memiringkan tubuh Cara. Dokter perempuan itu mulai mengarahkan jarum suntik ke arah tulang punggung Cara. Perlahan, jarum itu masuk menembus kulit dan daging Cara. "Tunggu sebentar sampai biusnya bekerja," ucap dokter.


Beberapa menit kemudian, kegiatan operasi pun terjadi. Geo menatap wajah pucat Cara yang sekarang nampak tenang tidak lagi merasakan sakit. "Sayang," panggil Geo.


Tit … tit …


"Detak jantung pasien melemah, Dok," tutur seorang perawat.


"Tes kesadaran," titah dokter.


Dada Geo sesak melihat Cara tidak lagi bergerak. Laki-laki itu kehilangan akal melihat tubuh istrinya sedang berusaha diajak berkomunikasi oleh perawat itu. "Pasien kehilangan kesadaran, Dok," lapor perawat.


"Aku ambil alih, kamu tetap lanjutkan ini." Salah satu dokter bergerak ke arah monitor yang berada di dekat tubuh Cara. Nampak dokter itu sedang memindah-mindahkan beberapa selang yang melekat di dada Cara.


Geo masih nampak terdiam menggenggam erat tangan dingin istrinya. Laki-laki itu tidak bersuara karena tidak ingin mengganggu konsentrasi para tenaga medis. "Sayang, jangan buat aku khawatir seperti ini," bisik Geo lemah.

__ADS_1


Oek … oek … oek …


Geo terkejut mendengar suara tangis bayi menggema di ruangan tegang itu. Geo menoleh dan menatap ke arah tenaga medis yang berada dibagian perut Cara. "Selamat, Tuan. Bayi Anda lahir sehat dan sangat tampan," ucap seorang dokter.


__ADS_2