
"Bisa minta tolong?" Tiara terkejut saat mendengar suara Geo. Wanita paruh baya itu menoleh kaku ke arah laki-laki dingin itu.
"I-iya?" tanya Tiara. Wanita paruh baya itu setidaknya lebih lega karena yang lain juga sedang berada di sana.
"Tolong ambilkan putraku, aku ingin menimangnya di sini," ungkap Geo.
"Oh, baiklah." Tiara bergegas berjalan ke arah ranjang bayi.
Mata wanita paruh baya itu menyipit kala bibirnya melengkungkan senyuman. "Ternyata kamu sudah bangun?" sapa Tiara kepada bayi kecil yang ternyata sudah terbangun.
Secara perlahan Tiara mengambil tubuh kecil itu dan membawanya ke depan dada. Setelahnya wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Geo yang sedang duduk di samping ranjang Cara. Geo menanti tubuh putranya dengan gerakan yang nampak kaku dan ragu. "Em, tidak usah terlalu dilebarkan, Tuan," tutur Tiara.
Mendengar itu, Geo mengecilkan jarak kedua tangannya. Secara perlahan Tiara mulai memindahkan tubuh kecil itu ke dalam pelukan Geo. Geo terkejut saat merasakan berat badan putranya. "Kenapa ringan sekali?" celetuk Geo.
__ADS_1
Tiara menggaruk kepala belakangnya bingung. Sedangkan tiga inti Death sudah mendengus malas. "Terus kau pikir dia akan seberat apa? Tubuhnya saja baru sebesar itu," cetus Rical malas.
"Tapi ini sangat ringan." Geo memang menggendong sang anak dengan begitu mudah. Seakan laki-laki itu sedang tidak memegang apa pun. "Ck, itu karena kau bandingkan dengan berat barbel yang setiap hari kau angkat," papar Alex.
"Begitu?" gumam Geo. Laki-laki itu kemudian menoleh kembali ke arah Tiara yang saat ini sudah duduk di tempat semula.
Tiara yang merasa ditatap menjadi sedikit tidak nyaman. "Terima kasih sudah bersedia merawat anakku sampai sejauh ini," tutur Geo datar tetapi begitu tulus.
Tiara terkejut mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Geo untuknya. "Iya, Tuan. Kami sudah menganggap Cara seperti anak kami sendiri. Jadi, bayi itu secara tidak langsung merupakan cucu kami," balas Tiara apa adanya.
Tes …. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata tajam pemimpin mafia itu. Tiga hari Cara tidak sadarkan diri, selama itu pula Geo menjadi tidak tahu arah dan sering menangis menyendiri. Setetes air mata itu jatuh tepat mengenai ujung jari kelingking Cara. Sekitar lima detik berlalu, jari kelingking itu bergerak samar.
Geo membesarkan matanya mencoba menatap jari kelingking itu intens, dia takut sedang berhalusinasi. Namun, mata tajam itu semakin melebar kala melihat jari itu kembali bergerak lebih jelas. "Sayang," panggil Geo sedikit keras.
__ADS_1
Suara Geo itu jelas saja membuat yang lain terkejut. Mereka menatap Geo yang saat ini sudah berdiri sambil menatap tubuh Cara intens. "Kenapa, Re?" Farel bertanya sambil mendekat ke arah Geo.
"Panggil Dokter," titah Geo cepat. Farel yang juga sempat melihat sedikit pergerakan Cara, segera memencet tombol kecil yang berada di atas kepala ranjang. Melihat itu tentu saja membuat yang lain mendekat karena penasaran.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
Pertanyaan Juan dan Rical menggema secara serentak di ruangan itu. Tidak lama, terdengar pintu ruangan dibuka dengan kedatangan seorang dokter dan dua perawat ke dalam ruangan itu. "Mohon untuk keluar ruangan dulu, Tuan dan Nyonya," ucap salah satu perawat.
Mereka semua dengan patuh mengikuti perintah dari perawat itu. Geo masih menatap tubuh Cara yang saat ini sedang ditangani oleh dokter. Pintu ruangan tertutup membuat Geo nampak tidak tenang. Melihat itu Tiara mendekat berinisiatif mengambil alih di bayi kecil dari gendongan Geo.
"Maaf, Tuan. Biar saya saja yang menggendong si kecil," ucap Tiara memberanikan diri. Geo menoleh dan mengulurkan tangannya. Sekarang bayi kecil itu sudah kembali berpindah tangan.
__ADS_1
'Semoga tidak ada hal aneh, Sayang,' batin Geo cemas.