
"Nanti aku pakai yang lebih pendek lagi saja ya, Kak. Ini terlalu tinggi, aku kesulitan," tutur Siera.
Farel tertawa kecil melihat wajah cemberut Siera yang sedang kesulitan memakai sepatu hak tinggi. "Padahal ini bagus loh, Sie," balas Farel.
"Bagus tapi nanti aku terjengkang bagaimana? Apa masih akan jadi bagus?" ucap Siera kesal.
Farel terkekeh melihat wajah kesal Siera. Beberapa bulan berlalu, setelah kepergian Patricia. Hubungan Farel dan Siera semakin baik dan dekat. Mereka saat ini sudah seperti pasangan pada umumnya. Merasa dengan kedekatan dan rasa canggung yang mulai menghilang, membuat Farel melamar Siera untuk masuk ke hubungan yang lebih serius lagi. Siera menerima lamaran itu, dua minggu lagi mereka akan segera melaksanakan acara pertunangan.
Berbeda dengan Alex dan Lamira yang memang sudah lebih dulu bertunangan satu bulan yang lalu. Meski Alex merasa melamar seorang gadis kecil yang seperti tidak pantas untuknya. Laki-laki hangat itu tetap melamar Lamira dengan acara yang termasuk romantis. Alex hanya mengikat Lamira sebagai tunangan saat ini. Dia juga mengerti jika Lamira masih sangat kecil untuk diajak ke jenjang pernikahan. Masa depan Lamira juga masih begitu panjang. Mungkin Juan harus lebih sabar lagi dua atau tiga tahun ke depan.
"Kamu pilihlah, ingin yang seperti apa. Aku hanya mengikut, Sie," papar Farel.
"Aku malas kalau harus berkeliling sendiri, seharusnya tadi kita mengajak Lamira dan Helen ke sini. Kalau Cara bisa, jelas aku juga akan mengajaknya," cetus Siera.
"Sudah, untuk sekarang aku sana yang menemani. Mereka semua sibuk, Sie. Helen masih sibuk di kampus sedangkan Lamira sedang persiapan ujian akhir. Kalau Cara kamu tahu sendiri bagaimana," ungkap Farel.
Siera memajukan bibirnya mendengar perkataan Farel. "Ya sudah, ayo," pungkas Siera pasrah.
"Kenapa cemberut seperti itu? Tidak senang aku yang menemani?" tanya Farel.
"Sama Kakak tidak asik, tanya pendapat pasti jawabnya enggak sesuai sama aku," celetuk Siera.
__ADS_1
'Ya kalau begitu tidak usah bertanya kalau tidak ingin berbeda pendapat?' batin Farel bingung.
"Ekhm … nanti aku jawab seadanya," balas Farel.
"Seadanya seperti apa?" tanya Siera.
"Ya, seadanya sesuai dengan penilaian aku,X" jawab Farel.
"Ck, ya sudah. Ayo." Siera menarik telapak tangan Farel dan mulai melihat berbagai macam bentuk sepatu di toko mewah itu.
"Wah, yang ini bagus ternyata. Tapi masih sedikit ketinggian, apa tidak ada modelnya yang lebih pendek ya?" ucap Siera.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" ujar karyawan itu sopan.
"Ini, Mbak. Modelnya bagus, tapi bagiku ini terlalu tinggi. Apa tidak ada buatannya yang lebih pendek lagi?" jelas Siera.
"Oh … ini memang keluaran terbaru, Nyonya. Model seperti ini ada tiga jenis ketinggian. Ini tingginya delapan sentimeter, apa maksud Nyonya ingin yang lima sentimeter?" tanya karyawan itu.
"Apa ada yang paling bawah lagi, tiga atau dua mungkin?" cetus Siera.
"Kalau dua seperti tidak pakai tumit jadinya, Sie. Lebih baik pakai sandal teplek saja," celetuk Farel.
__ADS_1
"Diam, Kak," balas Siera kesal. Farel yang melihat wajah kesal Siera hanya bisa terdiam pasrah.
"Paling bawah memang lima sentimeter, Nyonya. Satu lagi ada ketinggian dua belas sentimeter," jelas karyawan toko.
Siera mengangguk singkat mendengar perkataan karyawan toko. "Mungkin lima lumayan, yang tadi aku pakai tujuh sentimeter. Apa bisa aku mencobanya dulu?" ucap Siera.
"Tentu saja, Nyonya. Mari, Nyonya." Karyawan toko itu memandu langkah Siera dan Farel kembali ke bagian depan toko itu.
"Semoga saja aku lebih nyaman dengan lima sentimeter," tutur Siera.
"Pasti bisa, Sie. Kamu kan hampir sama dengan Cara. Dulu Cara juga perjuangan sekali memakai sepatu hak tinggi, kamu juga pasti bisa," pungkas Farel.
"Kalau Cara berbeda, Kak. Dia memang sedari dulu tidak cuek seperti aku. Jadi waktu latihan memakai sepatu wanita, ya dia lebih menjiwai karena dia memang wanita," cetus Siera.
Farel menatap Siera dengan kening berkerut. "Jadi, kamu bukan wanita?" tanya Farel bingung.
"Bukan sepenuhnya wanita, aku lebih suka bebas. Kamu pasti tahu maksud aku, Kak," papar Siera malas.
"Maksud kamu tomboy?" tanya Farel memastikan.
"Iya, jadi aku harus melatih jiwa wanitaku dulu. Supaya lebih mudah," sahut Siera.
__ADS_1