
Rical terkekeh kecil melihat tatapan tajam Geo untuknya. "Dia tidak berubah," gumam Rical.
"Maaf Tuan Nariko, saya ingin menyapa pasangan pengantin dulu," ucap Rical kepada laki-laki paruh baya di sampingnya.
"Oh … silakan Tuan Carves," sahut Tuan Nariko.
Rical berjalan santai ke arah tangga pelaminan, Geo yang melihat kedatangan Rical menatap laki-laki itu datar. Rical tersenyum tipis ke arah Geo. "Aku sungguh terkejut saat mendapat undangan dari Anda Tuan Vetro." Geo tersenyum miring.
Cara menatap orang yang sedang berbicara, gadis itu tidak mengenali siapa laki-laki itu. Cara mendongak menatap ke arah Geo yang masih diam menatap Rical tanpa ekspresi. "Satu tahun aku pergi, laki-laki anti perempuan ini malah menyebar undangan pernikahan," sambung Rical.
Rical menoleh ke arah Cara yang juga sedang menatapnnya bingung. "Tapi aku tidak heran, istrimu cantik. Pantas saja kau goyah, seleramu tinggi ternyata." Rical menatap Cara intens.
"Jaga mata Anda Tuan Carves, sudah bosan melihat se********an wanita? Sampai kau ingin memberikan matamu itu untukku?" desis Geo.
Cara terkejut dengan kalimat frontal yang diucapkan oleh suaminya, iya … Geo sekarang adalah suaminya. Berbeda dengan Rical yang sudah tertawa tanpa merasa tersinggung sedikit pun. "Astaga, ternyata pemimpin Death ini masih belum berubah, masih saja mendominasi. Tapi … aku cukup terkejut, ternyata kau posesif juga ya," ucap Rical.
"Kalau kau hanya ingin berceloteh tidak jelas, lebih baik kau turun Rical Carves. Kau merusak pemandanganku," ucap Geo tajam.
"Ya ampun, mulutmu itu masih saja kasar. Kau sudah mengusirku, padahal aku ingin menyapa dan mengucapkan selamat. Bahkan aku juga belum berkenalan dengan istri cantikmu ini." Rical kembali menatap Cara.
"Sepertinya kau ke sini untuk mengantarkan nyawa," desis Geo. Cara terkejut mendengar itu, gadis itu mengusap lengan suaminya mencoba menenangkan Geo yang sepertinya mulai terpancing. Sedangkan Rical kembali tertawa.
Sedangkan ditempat lain, Torih, Sasdia dan Jesy sedang menatap ke arah pelaminan dengan pandangan serius. "Dia Rical Carves, CEO Carves Company sekaligus ketua Geng Dood. Ternyata dia juga hadir di sini, setahuku Rical dan Geo itu adalah musuh," papar Torih.
"Benarkah Pa?" tanya Jesy.
"Iya, kabarnya begitu. Tapi sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan kabar itu benar atau tidak. Mereka jarang bertemu karena memang Rical Carves tinggal di London," ucap Torih.
__ADS_1
"Dia tampan juga, meski tidak setampan Tuan Vetro. Tapi sepertinya dia bisa menjadi kandidat untuk aku jadikan suami." Jesy tersenyum percaya diri.
"Dia laki-laki kasar dan suka bermain wanita Jesy, tidak usah berharap lebih kepada pria seperti dia. Untuk merayu nafsunya mungkin memang mudah, tetapi untuk masuk ke dalam lingkungannya tidak kalah berbahaya dari Tuan Vetro. Sifat kejam merekalah yang membuat salah satu kabar mereka bermusuhan," terang Torih.
"Kalau begitu berarti bagus Pa, kalau memang Tuan Carves itu bermusuhan dengan Tuan Vetro. Jadi kalau aku bisa menjadi istri Tuan Carves, berarti kita sejalur. Tuan Carves pasti mau membantu kita untuk membalas dendam kepada Cara, kata Papa dia juga merupakan ketua Dood bukan?" papar Jesy.
"Tidak semudah itu Jesy," ucap Torih.
"Kita coba dulu, kalau dia memang pemain wanita. Berarti dia tidak akan bisa menolak wajahku bukan?" Jesy tersenyum begitu percaya diri.
"Kamu yakin Sayang, entah kenapa perasaan mama tidak enak. Sepertinya apa yang dikatakan Papamu benar, tidak usah terlibat dengan pria seperti itu," ujar Sasdia.
"Tidak apa-apa Ma, tidakkah Mama pernah mendengar tentang sifat seseorang bisa berubah kalau menemukan wanita yang dicintainya? Aku akan membuat Rical Carves itu menyukaiku," terang Jesy.
"Sebenarnya bagus juga kalau seandainya dia mau denganmu Jesy. Carves Company adalah salah satu perusahaan ternama, meski namanya tidak setinggi VT Group. Namun, dia bisa memperbaiki kerusakan Gerisam Group," tutur Torih.
Sedangkan Sasdia hanya menghela napas dalam. Melihat wajah antusias putrinya membuat perasaan Sasdia tidak tenang. Mungkin karena beberapa bulan ini mereka sering mendapatkan kesulitan. Bahkan Jesy sudah dua kali keluar masuk rumah sakit. "Semoga saja tidak semakin berbahaya," gumam Sasdia berharap.
.
.
.
"Selamat malam Tuan Carves," sapa Alex. Laki-laki yang begitu sibuk itu tidak sengaja melihat keberadaan Rical di atas panggung pelaminan. Alex juga menangkap raut marah dari wajah Geo, sedangkan orang yang membuatnya marah malah tertawa tidak tahu malu.
"Wah … siapa ini? wakil Death." Rical tersenyum mengejek ke arah Alex.
__ADS_1
"Sudah lama tidak bertemu, kau malah datang memancing amarah sang malaikat maut? Sudah bosan hidup? Tidakkah kau masih menginginkan kenikmatan keluar masuk lubang lagi?" ucap Alex balik mengejek.
Rical tertawa, sepertinya laki-laki itu tidak memiliki rasa tersinggung sama sekali. "Tentu saja aku masih ingin, kalian saja yang bodoh tidak mau mencobanya. Ah … nikmat, aku menjadi ingin sekarang. Apa lagi jika melakukannya …."
"Rical Carves," sela Geo tajam. Geo menutup telinga Cara yang masih diam dengan wajah bingungnya.
Rical menoleh dan kembali tertawa saat melihat aksi Geo. "Ya ampun, kenapa kau harus menutup telinganya? Bukankah nanti kau akan segera melakukan itu? Perlukah aku ajarkan dulu?" Rical menaik turunkan alisnya ke arah Geo yang sudah mengumpat marah.
Sedangkan Alex sudah menghela napas malas melihat kelakuan Rical. "Kenapa kau begitu suka memancing kemarahan Geo?" tutur Alex heran.
"Alex, bawa manusia bedebah ini dari sini," titah Geo.
"Ayo." Alex menarik tangan Rical menjauh dari sana.
"Padahal aku belum berkenalan dengan wanita cantik itu," tutur Rical.
"Kau benar-benar sudah bosan hidup Tuan Carves?" ucap Alex.
"Ya … mungkin karena hidupku begitu membosankan akhir-akhir ini," sahut Rical santai.
"Kalau ingin mencari permainan, aku sayankan jangan menyinggung istri malikat maut itu. Itu pun jika kau masih betah tinggal di bumi ini," papar Alex.
"Bagaimana kalau aku sudah tidak betah?" tanya Rical.
Juan menatap datar ke arah Rical. "Perlu aku beri kau pistol? Aku rasa kau lebih mengerti masalah itu dari pada aku."
Alex pergi meninggalkan Rical yang sudah tersenyum miring. "Aku ingin mainan," gumam Rical.
__ADS_1