
Cara memeluk tubuh kekar sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi. Geo menunduk dan tersenyum saat istrinya itu mendusel-dusel di dada bidangnya. Geo mengangkat tubuh Cara dan membawanya ke dalam walk in closet. Geo mendudukkan tubuh Cara di atas salah satu meja yang ada di sana. "Kenapa?" tanya Geo lembut.
Cara menggeleng pelan sambil menatap wajah tampan sang suami. "Aku suka saja memeluk Kak Ge kalau belum memakai baju seperti ini," papar Cara.
Geo tersenyum nakal. "Kalau begitu, aku tidak usah pakai baju saja," ujar Geo.
Cara tertawa. "Jangan, nanti Kak Ge masuk angin," balas Cara.
"Kita di dalam selimut," ucap Geo.
Cara kembali tertawa. "Tapi aku ingin pergi jalan-jalan," ujar Cara.
Geo tersenyum sambil mengecup bibir sang istri. "Ingin ke mana hari ini?" tanya Geo.
"Entahlah, mungkin Kak Ge tahu tempat yang bagus untuk kita datangi?" sahut Cara.
Geo diam sejenak sambil menatap wajah istrinya intens. "Kamu tidak ingin ke negara lain?" tanya Geo.
Cara mengernyit. "Maksud Kak Ge? Bukannya Kakak ada urusan di sini?" tanya Cara.
"Urusanku sudah selesai Sayang, lagi pula aku ke sini bukan untuk itu. Kita pergi untuk berbulan madu, masih tersisa sembilan hari lagi. Kamu ingin ke mana?" tutur Geo.
Cara tersenyum senang. "Aku ingin sekali pergi ke pantai Eagle di Aruba Kak," ucap Cara antusias.
Geo terkekeh melihat wajah antusias milik istrinya. "Ada lagi?" tanya Geo.
__ADS_1
Cara terdiam sejenak, setelahnya wanita itu menggeleng. "Aku baru terpikirkan ke sana," ucap Cara.
"Permintaan dikabulkan My Queen." Geo kembali mengecup bibir Cara, setelahnya laki-laki itu memeluk istrinya dan kembali membawa Cara ke luar dari walk ini closet.
Cara mengernyit. "Kenapa Kak Ge belum pakai baju?" tanya Cara.
"Aku sedang tidak ingin memakai baju," papar Geo.
"Tapi nanti masuk angin Kak," tutur Cara.
"Tidak Baby, sebab kita … akan bertempur." Geo berbisik sambil meletakkan tubuh istrinya pelan di atas ranjang.
Cara terkejut, tetapi setelahnya wanita itu tersenyum nakal. Dengan gerakan berani Cara menarik handuk yang masih melekat di tubuh bagian bawah sang suami. Geo tersenyum miring melihat aksi nakal istrinya itu. "Sudah tidak sabar rupanya?" goda Geo.
Cara tertawa mendengar itu. "Ayo Hubby, aku memang ingin cepat memiliki baby," ujar Cara lembut. Geo tersenyum, setelahnya laki-laki itu memulai kegiatan hangat mereka yang terus berlanjut ketingkat panas.
"Kapan kau akan menikahinya?" tanya orang di seberang telepon.
"Minggu depan," sahut Rical singkat.
"Heh … wanita bodoh, laki-laki sepertimu malah didesaknya untuk menikah," ejek seseorang itu.
Rical tersenyum miring. "Biarkanlah, selama pernikahan ini berlangsung. Aku mendapat beberapa keuntungan bukan?" ujar Rical.
"Yah … kau memang tidak rugi sih," sahut orang itu.
__ADS_1
"Aku mendapat pengampunan, dan … juga mendapat mainan baru." Rical tersenyum jahat.
"Astaga, kau benar-benar. Tapi wanita itu saja yang bodoh, dia tidak sadar kalau menikah denganmu ibarat masuk lubang iblis," sahut orang itu.
"Bukankah itu yang diinginkan Nyonya besar? Membuat keluarga Gerisam itu hancur," papar Rical santai.
"Iya juga," balas orang itu.
"Benar kata Nyonya besar, Jesy itu wanita bodoh. Dia pikir dengan menikah denganku hidupnya akan semakin senang? Dia pasti mengira bisa membuatku tunduk dan memperalatku, heh … wanita bodoh," ejek Rical.
"Sudahlah, kau tinggal nikahi dia dan lakukan apa maumu," sahut orang itu.
"Hem … tentu saja, aku bukan laki-laki bodoh yang mau terikat dengan satu wanita," tutur Rical.
"Yah … aku tahu kau itu setan sela******ngan, jadi tidak usah diperjelas Tuan Carves," ledek orang itu.
Rical tertawa tidak merasa tersinggung dengan perkataan orang itu. Laki-laki itu mengakuinya. "Sudahlah, pekerjaanku masih banyak. Nanti malam jangan lupa, jangan sampai kau membuatnya marah lagi. Ada pertemuan kau malah ke klub bersenang-senang dengan para wanita," cerca orang itu.
"Ya ya, aku tahu," sahut Rical malas.
"Tapi, apa perlu kami datang kepernikahanmu?" ledek orang itu.
"Tidak usah meledekku Jomblo Abadi," balas Rical.
"Brengsek!" Setelah mengumpat orang itu mematikan sambungan telepon begitu saja. Rical tertawa saat menyadari lawan bicaranya itu sukses dibuat kesal olehnya.
__ADS_1
Tawa Rical tiba-tiba berubah menjadi senyum miring saat mengingat sesuatu. "Tidak buruk juga, dengan ini aku bisa kembali," gumam Rical.