Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
143. Minta Tolong (lb)


__ADS_3

Sasdia berteriak histeris saat melihat kepala Jesy dibenamkan ke dalam air kolam. Wanita paruh baya itu mendekat ke arah Rical dan menarik lengan kekar Rical. "Lepaskan, kau bisa membunuhnya!" teriak Sasdia.


Torih ikut mendekat merasa begitu cemas dengan keadaan Jesy. "Tolong, Tuan. Maafkan putri saya." Torih ikut mencoba menarik tangan Rical.


"Lepaskan bangsat! Penjaga!" Rical berteriak memanggil penjaga mansionnya.


Dalam hitungan detik para penjaga datang dan memegang tubuh Sasdia dan Torih. Sasdia memberontak sambil menangis histeris melihat putrinya. Sedangkan Rical kembali manarik kepala Jesy ke atas, seakan mempermainkan wanita itu. "Huh … maafkan aku, Rical." Jesy berucap dengan napas tersengal-sengal.


Byur …. Rical tidak menghiraukan permohonan Jesy. Laki-laki itu kembali membenamkan kepala Jesy ke dalam air kolam. "Jangan … lepaskan aku!" Sasdia terus bergerak histeris mencoba lepas dari pegangan pengawal.


Mata Sasdia menangkap sosok Cara yang nampak baru datang. Wanita itu mendekat ke arah Geo yang diam menyaksikan kelakuan Rical di tepian kolam. "Cara, tolong Jesy … aku mohon. Dia adikmu, Cara … tolong dia. Hentikan Rical." Sasdia menatap Cara sambil berteriak minta tolong dengan wajah basahnya.


Sedangkan Cara tidak menghiraukan suara Sasdia. Wanita itu masih menatap datar aksi Rical kepada Jesy. Tidak ada sedikit pun perasaan iba dari Cara untuk Jesy. "Tolong, Cara. Aku mohon, aku akan melakukan apa saja untukmu. Tapi tolonglah anakku," jerit Sasdia lagi.

__ADS_1


Cara menatap wajah Sasdia dengan pandangan dingin. Setelahnya wanita itu kembali menoleh ke arah Rical yang nampaknya sudah hilang kendali. Hampir beberapa menit, laki-laki itu masih menahan kepala Jesy di dalam air. "Aku pegang kata-katamu," ucap Cara kepada Sasdia.


"Iya, tolonglah. Jesy bisa mati," lirih Sasdia.


"Kak." Cara mendongak sambil memanggil sang suami seakan memberi aba-aba.


"Rical!" tegur Geo datar.


Rical menoleh dan melepaskan kepala Jesy begitu saja. Laki-laki itu berdiri dan menatap tajam Jesy yang sekarang sedang menghirup oksigen begitu rakus. "Berani menyentuh Helen lagi, aku lenyapkan kau," desis Rical.


Sasdia memeluk erat tubuh Jesy yang sedang menangis dalam diam. "Aku ingin mati saja, Ma," lirih Jesy.


"Jangan aneh-aneh, Jesy!" tegur Sasdia tidak suka.

__ADS_1


"Aku sudah capek, kenapa tidak Mama biarkan saja aku dibunuh oleh Rical," sambung Jesy.


"Stop! Jangan berbicara lagi," sela Sasdia cepat.


Sedangkan Rical yang mencoba mengontrol emosinya menatap ke arah Geo dan Cara. "Jika ini bukan keinginan kamu, aku jelas tidak akan mengampuninya," tutur Rical kepada Cara.


"Terima kasih, Kak. Lebih baik sekarang Kakak temani Helen, dia sudah tertidur. Takutnya bangun dan tidak menemukan siapa pun," balas Cara.


"Aku ke atas." Setelah mengucapkan itu, Rical pergi dari hadapan Cara dan Geo.


Cara mendekat ke arah tiga manusia yang sedang berpelukan sambil beradu tangis. Wanita itu menatap dingin mereka. Tiga manusia yang menyadari kedatangan Cara, mendongak menatap wanita itu. "Bagaimana rasanya melihat seorang wanita hamil dikasari oleh suaminya sendiri?" ucap Cara dingin.


Sasdia dan Torih terdiam mendengar perkataan Cara. "Ini semua terjadi, karena ulah kalian dimasa lalu. Apa kalian masih ingat, saat mendiang Bundaku hamil? Kalian juga memperlakukannya kasar dengan bermain fisik. Terutama suaminya sendiri, yang juga hampir membunuh istrinya yang kala itu sedang hamil anak kandungnya sendiri."

__ADS_1


Sasdia dan Torih terkejut mendengar perkataan Cara. Mereka bingung, kenapa Cara bisa tahu hal itu padahal saat itu Cara belum lahir ke dunia ini. "Kalian terkejut karena aku tahu hal itu? Bukankah kalian dulunya orang kaya, di mana rumah kalian itu memiliki CCTV. Semua kejadian masa lalu mendiang Bundaku di kediaman kalian itu tercetak dan tergambar jelas di dalam video itu. Apa yang kalian lakukan kepada mandiang Bundaku … aku tahu semuanya. Tanpa terkecuali," desis Cara.


Deg …. Torih dan Sasdia terdiam mendengar perkataan Cara. Mereka menjadi ingat kejadian 20 tahunan yang lalu, di mana kala itu Dea sedang mengandung Cara. Torih yang sedang pusing dengan proyek perusahaannya, melampiaskan itu kepada Dea dengan bermain fisik. Sasdia, dia manusia satu-satunya yang kembali menjadi saksi kala itu. Namun, bukannya membantu, Sasdia malah terlihat menikmati aksi kekerasan itu.


__ADS_2