Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
246. Sudah Dua Hari (lb)


__ADS_3

"Al, jangan sentuh itu. Itu bahaya, Nak." Cara dengan cepat bergerak ke arah Geno yang merangkak cepat menuju pecahan kaca. Baru saja bayi kecil berumur lima bulan itu menarik alas meja sehingga membuat vas bunga yang berada di atas meja itu terjatuh dan pecah.


"Mii …." Geno berceloteh sambil menunjuk pecahan vas bunga yang berada di atas lantai itu. Saat ini bayi kecil itu sedang berada di dalam gendongan Cara.


"Iya, itu bahaya. Tangan kecil ini bisa terluka dan berdarah," ucap Cara.


"Permisi, Nyonya. Kami bersihkan dulu," ucap seorang pelayang meminta izin.


"Iya, Mbak. Hati-hati," balas Cara.


"Sayang." Suara berat Geo mengalihkan perhatian Cara. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan melihat keberadaan sang suami yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Daddy sudah pulang?"


"Iya, ada apa itu? Geno mengacau lagi?" balas Geo.


"Iya, seperti biasa," sahut Cara. Geo terus mendekat dan menarik kepala sang istri kemudian mengecup lembut puncak kepala wanita pemilik hatinya itu.


Setelahnya laki-laki itu melirik ke arah Geno yang nampak sibuk memperhatikan pekerjaan pelayan mansion membersihkan pecahan kaca ulahnya. "Geno," panggil Geo.

__ADS_1


Bayi kecil itu menoleh saat mendengar suara Geo. Sepertinya bayi laki-laki tampan itu sudah mengetahui siapa namanya. "Tidak merepotkan Mommy tadi, kan?" tanya Geo.


"Mii …." Geno bergumam sambil menatap wajah cantik Cara. Melihat itu Cara terkekeh kecil dan mencium pipi anaknya itu gemas.


Melihat itu Geo melotot tidak terima. "Mommy, kamu bahkan belum ada menciumku sebagai ciuman pulang kerja. Kenapa malah mencium Geno yang hampir setiap menit mendapatkan ciuman kamu," papar Geo merajuk.


Cara menoleh ke arah Geo dan menatap wajah tampan suaminya yang saat ini nampak cemberut. Ibu beranak satu itu tertawa kecil merasa lucu melihat wajah datar tetapi terlihat kesal. "Geno lucu, Dad. Jadi aku selalu gemas ingin menciumnya," sahut Cara.


"Oh, jadi aku tidak menggemaskan?"


"Tentu tidak, Daddy kan sudah jadi bapak-bapak," goda Cara.


"Eh, mana bisa begitu." Cara menahan tangan suaminya yang ingin mengambil alih sang anak. Cara tertawa keras saat melihat wajah kesal milik sang suami.


"Ya ampun, Daddy kamu ini, Geno," papar Cara tidak habis pikir.


"Geno, kau tidurlah cepat!" celetuk Geo.


"Pfftt, sudahlah Daddy yang sangat tampan. Ayo kita ke kamar, Daddy harus bersih-bersih. Mommy temani," tutur Cara.

__ADS_1


"Mandi bersama, ya," bujuk Geo.


"Mana bisa, Sayang. Geno tidak ada yang menjaga," balas Cara menahan tawa.


"Ck, makanya kita tidurkan Geno sekarang. Aku tunggu," sahut Geo.


"Mana bisa, Dad. Geno baru saja bangun setengah jam yang lalu."


"Akhh …." Geo menarik pelan rambutnya merasa begitu frustasi. Laki-laki itu merasa kesal sendiri, sedangkan Cara saat ini sudah tertawa.


"Mii …." Geno berceloteh sambil menunjuk Geo yang sedang nampak lesu.


"Iya, Daddy mungkin sedang pusing, Sayang." Cara bersuara sambil menahan tawa melihat wajah lesu milik suaminya.


"Sudah dua hari, Sayang," lirih Geo nampak frustasi.


Cara terbahak melihat wajah lesu milik suaminya. Bukannya merasa iba, Cara malah merasa gemas dengan wajah tertekan milik laki-laki datar itu. "Sabar, Dad. Maklum saja, Geno sekarang kan sedang begitu nakal karena dia sedang belajar berjalan. Jadi seringkali terbangun malam hari," ucap Cara.


Memang akhir-akhir ini, Geno sering terbangun pada malam hari. Siang harinya bayi kecil itu juga begitu aktifnya untuk belajar berjalan. Hal itu membuat Reo tidak tega melihat Cara mengurus Geno sendirian. Geo menawarkan baby sitter untuk membantu Cara supaya tidak terlalu kelelahan. Namun, Cara menolak karena menurutnya dia masih bisa mengurus Geno sendirian.

__ADS_1


Lagi pula, Tiara dan tiga gadis lainnya setiap hari datang ke sana membantu Cara merawat Geno. Tetap saja itu tidak membuat kekhawatiran Geo menghilang. Laki-laki itu bahkan mau menahan sesuatu sebagai kebutuhannya karena tidak tega melihat sang istri yang tertidur pulas di malam hari.


__ADS_2