
"Aku dengar satu minggu lagi, akan ada pesta di hotel Kak Erick. Benar Kak?" tanya Cara.
"Benar, Sayang," sahut Geo.
"Kak Erick saja masih belum pulang," tutur Cara.
"Dia pasti kembali sebelum itu," kata Geo.
"Setelah aku pikir-pikir, ternyata aku sudah dua hari tidak ke mansion Kak Rical. Pasti mereka kesenangan sekarang," ujar Cara.
Geo menoleh ke arah Cara sambil tersenyum. "Kamu ingin ke sana?" tanya Geo.
"Ingin, tapi entah kenapa malas saja rasanya. Padahal aku ingin bermain-main dengan mereka," tutur Cara.
"Ingin aku antar?" tanya Geo.
"Tidak usah Kak, aku tahu Kak Ge sangat sibuk," balas Cara.
"Tidak juga Baby, kalau memang ingin ke sana. Ayo kita pergi," ajak Geo.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak ingin jauh," lirih Cara.
Geo mengernyit, setelahnya laki-laki itu tersenyum tipis. "Bagusnya bagaimana?" tanya Geo.
Cara diam seakan berpikir. "Aku juga tidak tahu, intinya aku malas saja untuk ke mana-mana sekarang," papar Cara.
Wanita itu memang akhir-akhir ini sangat malas bergerak. Cara hanya ingin terus menempel kepada Geo. Bahkan wanita itu meminta kepada sang suami untuk mendaftarkannya kuliah online saja. Sepertinya benar dugaan Geo, sifat calon anak mereka menyalin sifat bapaknya. Jika biasanya Geo yang begitu tidak bisa berpisah dari Cara. Sekarang mereka berdua benar-benar seakan jodoh serasi dengan sifat yang sama.
"Lagi pula, kalau aku ke sana. Sepertinya akan lepas kontrol lagi, kalau mereka memberontak. Sama seperti waktu itu," ucap Cara.
"Nanti pulang dari sini kita ke sana. Aku juga ada perlu ke mansion Rical," kata Geo.
"Iya, Sayang," sahut Geo. Geo mengusap puncak kepala sang istri yang bersandar di dada bidangnya. Cara mendongak menatap wajah tampan sang suami yang juga sedang menatapnya hangat. Perlahan kedua insan itu saling bertukar saliva dalam kehangatan.
...*****...
"Sayang, bagaimana? Sudah tidak ngilu lagi bukan?" tanya Sasdia.
"Tidak, Ma," sahut Jesy.
__ADS_1
"Baguslah, semoga saja wanita itu tidak datang lagi ke sini. Kamu sudah melaporkan ini kepada Rical?" tanya Sasdia.
Jesy menghela napas panjang. "Sudah Ma, hampir seratus kali aku menghubunginya tanpa diangkat. Setelah diangkat dia malah marah-marah," terang Jesy.
Sasdia menatap sendu wajah sedih putrinya. "Terus bagaimana, Sayang?" tanya Sasdia lagi.
"Aku sempat bertanya dia di mana dan kenapa tidak pulang. Seperti dugaanku, dia tidak memberi tahu aku. Saat aku melaporkan kejadian Cara, dia malah biasa-biasa saja," lirih Jesy.
Sasdia mengusap punggung putrinya merasa begitu iba. Hormon ibu hamil membuat Jesy semakin larut dalam kesedihan. Wanita yang biasanya terlihat angkuh dan sombong itu kini hanya seorang wanita tidak berkekuatan seperti dulu.
"Yang paling membuat aku sakit, aku mendengar secara jelas laki-laki brengsek itu mendesah, Ma. Dia berbicara denganku, di saat dia sedang bercinta dengan wanita lain." Jesy menjerit histeris sambil memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
Sasdia ikut menangis, wanita paruh baya itu memeluk putri tercintanya yang sudah bergetar. "Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Mama tidak tahu harus melakukan apa," lirih Sasdia terisak.
"Aku sudah tidak kuat, Ma. Aku harus apa? Bahkan Papa sudah tidak menginginkan aku lagi. Aku rindu keadaan kita yang dulu," isak Jesy.
Hati Sasdia berdenyut nyeri mendengar keluhan Jesy. Tanpa mereka sadari keadaan mereka sekarang hampir sama dengan kehidupan mendiang Dea dan Cara dulunya. Apa yang mereka rasakan sekarang sama dengan yang Dea dan Cara rasakan. Setidaknya Jesy bersyukur masih ada Sasdia di sampingnya. Bagaimana dengan Dea dulunya, yang berjuang sendirian dalam keadaan hamil.
Dea hamil dan tinggal bersama orang luar yang terus menganiayanya. Untuk makan pun dia berjuang sendiri bahkan dalam keadaan hamil berat. Jesy masih untung tidak sampai separah itu, Rical masih membiarkannya makan gratis. Sudah sepantasnya Cara marah besar saat mengetahui kehidupan kelam bundanya.
__ADS_1