Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
131. Acara (lb)


__ADS_3

"Nah, benar bagus kan tanpa jas begini. Mantap." Cara mengacungkan jari jempolnya ke depan wajah Geo.


Geo tersenyum menanggapi sang istri. Laki-laki itu hanya diam dan menurut dengan segala hal yang disuruh oleh Cara. "Sudah?" tanya Geo.


Cara memperhatikan penampilan Geo dan penampilan dirinya. "Sudah, sekarang tinggal berangkat," tutur Cara.


"Ayo, My Queen." Geo meraih pinggang Cara dan membawa wanita itu berjalan ke luar kamarnya. Malam ini adalah malam acara pesta di hotel Rical.


...*****...


Di dalam sebuah ruangan gelap, seorang laki-laki sedang melakukan aksi sadisnya. Laki-laki itu sedang menyayat daging manusia yang sudah tergeletak tidak bernyawa. "Ck, membosankan," ucap laki-laki itu.


Secara perlahan laki-laki psikopat itu berjalan ke arah westafel dan mencuci tangannya yang penuh akan darah. Setelah selesai dengan aksinya, dia keluar dari ruangan dan berjalan ke arah sofa. Matanya sekarang terfokus kepada sebuah undangan berwarna biru muda di atas sebuah meja. "Aku lupa, hari ini ada acara. Sepertinya bagus, sekalian mencari mangsa untuk besok." Laki-laki itu menyeringai jahat.


...*****...


"Aku harus pakai apa, Ma?" tanya Jesy cemas.


"Tenanglah, Sayang. Mama sedang mencarinya, Mama ingat kamu memiliki satu gaun berwarna biru muda kala itu. Semoga saja kita membawanya ke sini." Sasdia menyahut sambil mengobrak-abrik lemari kecil di dalam kamar Jesy.


Hampir satu jam Sasdia mencari gaun yang dimaksud, tetapi tidak membuahkan hasil. Jesy sudah terduduk lesu di atas kasur keras itu. Sedangkan Sasdia menatap sendu ke arah putrinya. "Kamu pakai baju Mama saja ya, Sayang," bujuk Sasdia.

__ADS_1


Jesy menghela napas berat, Sasdia memang masih memiliki satu gaun lagi yang berwarna biru muda. Namun, jelas saja potongannya kurang sesuai dengan fashion anak seumuran Jesy. "Mau bagaimana lagi, Ma. Dari pada aku tidak pergi," tutur Jesy lesu.


Sasdia mengusap punggung Jesy pelan, merasa iba dengan nasib sial anaknya. "Kalau begitu Mama ambilkan dulu. Setelah itu kita berdandan. Kamu cantik, jadi mau pakai apa saja, akan tetap terlihat cantik." Sasdia tersenyum mencoba menghibur putrinya.


Jesy memang cantik, tetapi itu dulu di saat wanita itu masih memperhatikan tubuh dan gayanya. Sekarang Jesy hampir sama dengan Cara dulunya. Wajah kusam tidak terurus, badan kurus kurang gizi. Jauh di dalam lubuk hati Sasdia, wanita paruh baya itu merasa begitu sakit melihat keadaan putri tunggalnya. Namun, Sasdia hanya bisa menelannya dan menguatkan sang anak.


"Sudah?" Torih membuka pintu kamar Jesy dengan kemeja berwarna biru muda. Laki-laki paruh baya itu melirik wajah lesu sang anak.


"Gaunnya tidak ada?" tanya Torih pelan.


Sasdia menghela napas pelan. "Jesy akan pakai baju aku yang satu lagi, Mas," papar Sasdia.


Mendengar itu, Torih menatap Jesy yang sedang menunduk dengan pandangan terpukul. Dirinya tidak bisa diandalkan sekarang, sekedar untuk membelikan gaun murah saja dia tidak mampu. "Maafkan, Papa," gumam Torih.


"Papa akan berusaha untuk memperbaiki keadaan ini, bersabarlah," ujar Torih.


...*****...


Cara berjalan berdampingan dengan sang suami yang sedang memeluk pinggangnya posesif. Kedatangan mereka jelas mampu mencuri perhatian para tamu lainnya. Wajah cantik Cara yang semakin memancar karena hormon kehamilan, membuat wajah Cara semakin menjadi pusat perhatian. Sedangkan Geo, si tampan nan dingin dan datar itu tidak pernah bisa dihiraukan oleh pasang mata mana pun.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Vetro." Beberapa pegawai yang bertugas di pintu masuk undangan, membungkuk sopan kepada mereka.

__ADS_1


Mata Cara berbinar melihat interior acara itu. Pandangan kagum dan senang bercampur di dalam hatinya. "Aku hanya meminta dress codenya berwarna biru muda, Kak. Ternyata Kak Rical juga mendesign gedungnya dengan tema biru muda? Indah sekali," ungkap Cara.


Geo tersenyum tipis mendengar itu. "Kamu suka?" tanya Geo lembut.


Cara mengangguk cepat. "Sangat suka, sangat lembut," balas Sera jujur.


"Selamat datang Nyonya Cantik. Bagaimana, suka dengan designnya?" Tiba-tiba saja Rical datang bersama Helen di sampingnya.


Cara menatap berbinar ke arah Rical yang sedang tersenyum senang. "Sangat suka, aku tidak menyangka Kakak juga membuat tema biru muda," jawab Cara.


"Semuanya demi ibu hamil yang cantik ini," tutur Rical.


Cara terkekeh kecil setelahnya wanita itu menatap Helen dengan senyum lembutnya. "Kamu cantik sekali, gaun kamu bagus," puji Cara.


"Aku malah merasa begitu iri melihat Kak Cara. Cantik sekali, aku menjadi tidak percaya diri berdekatan dengan Kakak," bala Helen polos.


Cara terkekeh mendengar perkataan Helen. "Kamu bisa saja, kamu juga sangat cantik. Sungguh, gaun ini sangat sesuai denganmu," kata Cara.


"Dia memilihnya bersama Siera dan Lamira," jelas Rical.


"Benarkah? Wah, kenapa aku tidak diajak?" Cara cemberut berpura-pura merajuk.

__ADS_1


Rical terkekeh kecil. "Kata Alex, mereka melihat kalian sudah lebih dulu berjalan di Mall. Jadi mereka tidak ingin mengganggu momen romantis kalian," jelas Rical.


__ADS_2