Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
181. Darah (lb)


__ADS_3

Cara memeluk tubuh Geo yang sedang fokus dengan laptopnya. Wanita hamil itu saat ini sedang berada di atas pangkuan sang suami. "Kak, aku rasanya ingin pipis," rengek Cara.


Geo menunduk menatap wajah tembam istrinya. Laki-laki itu terkekeh saat melihat wajah lucu Cara. "Ayo aku temani," ajak Geo.


"Aku malas, sekarang sudah tidak ingin pipis. Tapi, kenapa rasanya sekarang ingin buang air besar," celoteh Cara.


Kening Geo berkerut mendengar kalimat Cara. "Ya sudah, ayo kita ke kamar mandi saja." Geo mengangkat tubuh Cara ke arah kamar mandi.


Secara perlahan Geo membawa masuk tubuh buntal istrinya ke dalam kamar kecil itu. "Tubuh aku semakin berat ya, Kak?" tanya Cara.


"Tidak juga, Sayang. Tapi dari biasanya jelas saja iya. Kan ada Dedek di dalam," jawab Geo lembut.


Cara tersenyum mendengar perkataan Geo. Secara perlahan tubuh Cara turun dan kaki wanita itu mulai menyentuh lantai kamar kecil itu. Tepat di langkah ke dua, Cara meraih lengan Geo sambil memegang perutnya yang terasa begitu sakit. "Kak, sakit," rintih Cara.


Geo melotot melihat raut kesakitan sang istri. Geo panik saat melihat cairan berwarna merah mulai menetes dan mengalir di sela kaki Cara. "Astaga, Sayang. Kamu berdarah, bagaimana ini?" panik Geo.

__ADS_1


"Sakit, Kak," isak Cara.


"Aku harus apa?" Geo berloncatan panik, tidak tahu harus melakukan apa.


Beberapa detik setelah mendapatkan kesadaran. Geo mengangkat tubuh sang istri dan membawa tubuh kesakitan Cara keluar ruangan. Brak …. Geo mendobrak pintu ruangan kerjanya dengan begitu kasar. Sekretaris Geo yang sempat terlonjak mendengar itu menoleh cepat. "Ya ampun, Nyonya!" teriak sekretaris itu terkejut.


"Farel dan Mobil!" titah Geo kepada sekretaris itu.


Meski begitu singkat, sekretaris Geo mengerti maksud dari perkataan Geo. Wanita itu dengan segera menghubungi bagian bawah untuk menyiapkan mobil. Setelahnya wanita itu segera menghubungi Farel sesuai perintah dari Geo.


"Sshh, sakit, Kak." Geo menelan salivanya kasar saat melihat air mata Cara mulai mengalir. Kecemasan Geo semakin bertambah saat melihat wajah pucat sang istri yang nampak menahan sakit.


"Aku ingin tidur, Kak," bisik Cara.


Mata Geo melotot saat mendengar perkataan Cara. "Jangan Baby, tetaplah terjaga. Jangan tidur, aku mohon. Tolonglah!"

__ADS_1


Koridor kantor yang cukup ramai membuat beberapa karyawan melihat keberadaan Geo yang sedang berlari sambil menggendong tubuh berlumuran darah milik Cara. Hal lain yang mampu membuat mereka tertegun adalah wajah basah pemimpin Death itu. Geo menangis merasa tidak mampu melihat wajah tersiksa milik istrinya.


"Please, Baby. Tetap buka mata kamu," isak Geo.


"Sakit, Kak," lirih Cara semakin melemah. Darah semakin banyak keluar, setiap lantai yang berhasil dilalui oleh Geo meninggalkan jejak kemerahan di sana.


"Maafkan aku, ini semua salahku," ucap Geo kehilangan akal.


Sedangkan di depan lobi, Alex yang baru saja sampai, sudah melotot melihat Geo sedang berlari membawa tubuh Cara. Laki-laki itu dengan segera membuka pintu mobil belakangnya untuk Geo dan Cara. "Cepat!" teriak Alex panik.


Geo dengan segera membawa tubuh Cara masuk ke dalam mobil. Sedangkan Alex masuk ke area pengemudi dengan gerakan kilat. Brum …. Alex melajukan mobil itu tanpa ampun. "Kenapa bisa seperti ini? Bukankah jadwalnya masih dua hari lagi?" tanya Alex khawatir.


"Aku tidak tahu," balas Geo tidak kalah khawatir.


"Ssh, perut aku sakit, Kak," rintih Cara.

__ADS_1


"Sabarlah, Sayang. Cepatlah!" tutur Geo panik. Alex memilih fokus ke depan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Ting …. Bunyi sesuatu dari mobil Alex terdengar cukup keras. "Aku sudah blok jalan di simpang empat. Di sana cukup macet, tapi kalian bisa jalan cepat sebab aku sudah hack lampu merah. Aku juga sudah memberi kabar ke rumah sakit, mereka sedang menunggu. Aku sedang di jalan." Suara Farel terdengar dari speaker mobil mewah Alex.


__ADS_2