
"Sayang," panggil Sasdia.
Jesy menoleh dan menatap Sasdia dan Torih dengan pandangan kosong. Tes …. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sasdia melihat keadaan sang putri. Sedangkan Torih hanya bisa mengalihkan pandangannya tidak kuat melihat keadaan anaknya. "Kenapa harus seperti ini, Jes? Kenapa?" isak Sasdia.
Torih menahan sesak di dadanya saat mendengar isak tangis istrinya. Sejujurnya laki-laki paruh baya itu juga ingin meratap dengan keadaan keluarganya yang saat ini terasa benar-benar hancur. "Ini semua salah Mama, Mama memang salah … Mama sadar jika Mama salah. Tapi kenapa kesalahan dan dosa Mama harus kamu yang menanggungnya, Sayang? Kenapa harus kamu? Kamu pantas bahagia, kamu pantas mendapatkan hidup senang," rintih Sasdia merasa sesak di dadanya.
"Tenanglah, Sa. Jangan membuat Jesy ikut tertekan. Nanti dia mengamuk lagi," tutur Torih pelan.
__ADS_1
"Aku sakit, Mas. Hati aku begitu sakit, jauh lebih sakit dari pada fisikku," isak Sasdia pelan.
"Kita harus bisa membuat Jesy memiliki kekuatan, Sa. Jangan seperti ini, setiap ke sini kamu selalu membuat Jesy ikut tersiksa. Tahanlah dulu, bukankah kita ke sini untuk memberi kekuatan kepada putri kita?" papar Torih.
"Aku hanya merasa menyesal, Mas. Memang seharusnya aku tidak pernah menyeret Dea ke dalam pernikahan kita," pungkas Sasdia.
"Bukan, hal yang paling berdosa … adalah perlakuan kita kepada Dea dan juga Cara. Meski kita membawa Dea masuk ke dalam kehidupan kita, kita tidak akan seperti ini jika kita memperlakukannya dengan baik. Intinya, tidak seharusnya kita memperlakukan dia seperti itu. Kita memang salah, sampai berlanjut memperlakukan Cara begitu kejam. Aku adalah orang paling brengsek di sini. Cara adalah anak kandungku, tapi … aku malah orang yang paling banyak memberikan rasa sakit di dalam hidupnya. Sakit fisik dan psikis, sampai detik ini … aku bahkan tidak pernah memeluknya seperti aku memeluk Jesy."
__ADS_1
Torih menyeka air matanya cepat saat tanpa sadar satu tetes air mata menyelinap keluar dari pelupuk matanya. Laku-laki paruh baya itu mengusap punggung Sasdia yang sedang bergetar menahan tangis. "Aku juga sangat salah karena mendidik Jesy sama seperti aku. Sifat Jesy benar-benar menurun dari kita. Sampai dia berakhir seperti ini karen ulah sendiri. Kita memang yang paling bersalah di sini, Mas. Apa yang harus kita lakukan supaya kutukan ini segera hilang?" ratap Sasdia.
Torih terkejut saat dengan tiba-tiba Sasdia mengangkat kepalanya dan menatap Torih dengan wajah basah itu. "Ayo kita ke makam Dea, Mas. Kita harus meminta maaf, mana tahu dengan itu kutukan ini akan segera menghilang," papar Sasdia.
Torih terdiam mendengar perkataan Sasdia. Setelahnya laki-laki paruh baya itu menghela napas berat. "Ini bukan kutukan, Sa. Ini karma bagi kita, meski kita meminta maaf kepada Dea, itu tidak menjamin kehidupan kita akan kembali. Tapi … kita memang harus ke sana, setidaknya untuk melepaskan perasaan mengganjal di dalam hati kita selama ini," jelas Torih.
Sasdia diam beberapa saat, setelahnya wanita paruh baya itu menunduk sambil tersenyum miris. "Benar yang kamu katakan, Mas. Bukan berarti dengan meminta maaf, hidup kita akan kembali membaik. Tapi setidaknya setelah meminta maaf, hatiku menjadi lebih baik untuk melanjutkan hidup ini," lirih Sasdia.
__ADS_1
Saat ini Sasdia dan Torih sedang berada di sebuah taman rumah sakit jiwa. Setelah kejadian dua bulan yang lalu, di mana Jesy keguguran dan tidak bisa menerima kenyataan. Kenyataan bahwa dia kehilangan anaknya dan kenyataan jika Erick menceraikan dan mengusirnya dari kediaman Sunder. Jesy tidak siap menerima kenyataan akan hidup susah dan berakhir menjadi gembel.
Perasaan tidak terima itu, membuat jiwa Jesy terguncang dan sering mengamuk tidak jelas. Kadang Jesy juga berceloteh seakan dia adalah seorang nyonya besar. Kelakuan Jesy yang seperti itu jelas saja membuat Sasdia dan Torih dengan terpaksa merelakan Jesy dikurung di rumah sakit jiwa.