
Geo menggendong tubuh bayi mungilnya sambil mengusap kening bayi itu lembut. Laki-laki tampan itu menatap mata biru laut sang putra yang saat ini juga sedang menatapnya. Senyum tipis di bibir laki-laki itu hadir saat melihat putranya nampak berkomat-kamit menggerakkan bibir mungilnya.
"Bibir mungil ini yang berani ikut menyentuh milik Daddy. Awas kalau kamu berani mengambil alih perhatian Mommy dari Daddy. Daddy sunat kamu," ucap Geo kepada putra kecilnya.
"Apa? Kamu mau menyunat anak kita? Apa yang akan kamu sunat? Coba lihat … burungnya saja masih begitu kecil kamu jangan bercanda, Kak."
Geo terlonjak saat suara teriakan Cara menusuk gendang telinganya. Laki-laki kaku itu menoleh ke arah Cara yang saat ini sedang berdiri berkacak pinggang menatapnya tajam. Geo meringis melihat tatapan tajam itu yang begitu terlihat buas di matanya. 'Aku salah bicara, bagaimana nasibku sekarang?' batin Geo meringis.
"Maksud aku bukan begitu, Mommy. Aku hanya bercanda, serius." Geo menatap wajah marah Cara dengan senyum kaku.
__ADS_1
Sedangkan Cara masih saja menatap tajam sang suami yang saat ini sedang mencoba mengalihkan tatapannya. Berbeda ada dengan Siera yang sudah mengulum bibir menahan tawa melihat wajah takut Geo. 'Ya ampun, kalau orang pertama kali melihat Kak Geo dengan wajah seperti ini. Pasti mereka tidak akan menyangka kalau Kak Geo adalah seorang pemimpin mafia kejam,' batin Siera.
"Terus apa maksudnya tadi membahas masalah sunat dengan Geno?" selidik Cara tajam.
Geo kembali meringis merasa bingung harus menjawab pertanyaan Cara seperti apa. Laki-laki itu tidak biasa berbohong dengan kepada sang istri. Sehingga saat ini, Geo menjadi bingung sendiri harus merangkai kata-kata seperti apa untuk mengelabui Cara. "Oh … itu. Aku mengatakan kalau sudah besar nanti, kita sebagai laki-laki harus sunat. Iya begitu, benar begitu kan Ge?"
Geo menunduk menatap wajah bayi kecil mereka seakan bertanya kepada bayi mungil itu. Sedangkan Cara masih menatap Geo dengan mata memicing tajam. Setelahnya wanita itu bergerak mendekat ke arah sang suami dan menatap wajah putra tunggalnya itu.
"Sa, nanti yang lain datang jam berapa ke sini?" tanya Cara menyadarkan Siera.
__ADS_1
"Katanya mereka akan ke sini sekitar jam lima atau jam empat sore, Ra," sahut Siera.
Cara mengangguk mengerti mendengar jawaban dari Siera. "Aku rasa Geno merasa bosan di dalam ruangan terus. Bagaimana kalau aku bawa dia jalan-jalan keluar? Di taman, di sana juga lumayan sedang ramai pasien. Aku akan membawa seorang suster biar tidak tersesat," tawar Siera.
Geo yang mendengar perkataan Siera menatap sahabat istrinya itu dengan pandangan setuju. "Iya sepertinya Geno memang sudah sangat bosan di sini. Kau bawa saja dia jalan-jalan ke taman. Biar aku menemani Mommy-nya di sini," ucap Geo.
Cara menoleh ke arah Geo dengan pandangan mengejek. Wanita itu jelas tahu maksud dari sang suami, yang begitu cepat mengizinkan Siera membawa Geno pergi keluar ruangan. Sedangkan Siera tersenyum tipis, gadis juga tahu isi pikiran Geo saat ini. "Baiklah kalau begitu aku ajak dulu dia pergi. Kamu istirahatlah, Ra," papar Siera.
Cara dan Geo menatap kepergian Siera yang sedang membawa bayi kecil mereka keluar ruangan. Geo tentu saja tidak akan membiarkan sang putra keluar ruangan tanpa pengawasan yang ketat. Siera ditemani satu orang suster dan juga lima orang anggota pilihan Death.
__ADS_1
Setelah melihat pintu ruangan tertutup sempurna. Geo menoleh ke arah sang istri yang saat ini masih berdiri di samping ranjang. Laki-laki itu mendekat dan menangkup wajah cantik sang istri yang selalu bisa membuatnya mabuk. Satu minggu keberadaan Cara di rumah sakit. Saat ini kondisi tubuh Cara sudah termasuk baik dan kuat.
Cup …. Geo melayangkan satu kecupan pelan di bibir lembut sang istri. Benda kenyal yang selama ini begitu menghantui isi pikirannya. Kondisi Cara yang masih belum terlalu sehat dan stabil membuat Geo harus ekstra sabar dan berhati-hati dalam bertindak. "Jangan membuat aku gila lagi, Baby," bisik Geo masih merasa takut dengan keadaan Cara.