Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
226. Pesan (lb)


__ADS_3

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Romy kepada Jarko.


"Kita tidak bisa menunggu terlalu lama, semua data-data Orion ada di tangan mereka. Ini bisa berakibat fatal," balas Jarko.


"Aku sudah melakukan segala cara, tapi tidak bisa. Semuanya sia-sia," ucap Elzar.


"Kumpulkan semua anggota Tiger tanpa terkecuali. Kita perang besar dengan Death, meski nama Tiger kalah jauh dari Death. Sebagai gengster nomor satu di Indonesia, kita harus bisa menjaga derajat kita," tutur Jarko tegas.


"Baiklah, aku kumpulkan semuanya." Romy berdiri dari duduknya dan bergerak keluar ruangan.


Elzar menoleh ke arah Jarko dengan pandangan serius. "Kau tidak merasa aneh dengan semua ini? Menurutku ini terlalu mendadak, kita selama ini baik-baik saja dengan Death. Lagi pula, aku pikir perkumpulan sebesar mereka tidak ada untungnya mengganggu kita. Aku takut kalau ada perkumpulan lain yang mengadu domba kita," ungkap Elzar mengutarakan kejanggalannya.


Jarko menatap Elzar dengan pandangan serius. "Terus kita bisa apa? Sudah jelas di sana akun itu milik Farel Jhons. Tidak ada orang lain yang memiliki nama itu," tutur Jarko.


"Iya, aku tahu masalah itu. Tapi bukan di sana janggalnya, mereka pantas menyerang kita karena sebelumnya aku yang lebih dulu menyerang pertahanan mereka. Tapi itu semua aku lakukan juga karena laporan dari Romy, dan bukti yang ditunjukkan Romy itu yang membuat aku ragu. Entah kenapa aku merasa ada seseorang yang ingin mengadu domba kita," ucap Elzar.


Jarko terdiam mendengar kalimat Elzar yang memang masuk ke dalam logika. "Terus harus bagaimana sekarang? Kita juga tidak bisa tinggal diam, bagaimana pun seluruh data-data Tiger sudah berada di tangan mereka. Kau tahu sendiri bagaimana kabar tentang kegilaan mereka. Ini semua menyangkut keselamatan banyak nyawa. Bukan hanya kita," papar Jarko nampak frustasi.


Elzar menghela napas panjang mendengar perkataan Jarko. Saat ini mereka memang tidak ada pilihan lain selain berperang dengan Death untuk merebut data-data penting milik Tiger. "Intinya sekarang kita bersiap saja," sambung Jarko.

__ADS_1


...*****...


Siera terus menarik tangan Helen ke arah parkiran. Sedangkan Helen sudah nampak bingung ingin bersuara atau tidak. "Em, Kak."


Langkah kaki Siera terhenti saat mendengar suara Helen. Gadis itu menoleh dan menatap wajah Helen yang nampak bingung. "Kenapa, Len?" tanya Siera.


"Kakak ingin pulang, ya?" balas Helen balik bertanya.


"Iya, Kak Farel sudah menunggu di depan. Kak Rical belum menjemput kamu? Ya sudah, ikut kami saja," sahut Siera.


Helen menggeleng pelan menanggapi kalimat Siera. "Bukan begitu, Kak. Aku masih ada jam kuliah," balas Helen.


Helen terkekeh kecil mendengar kalimat Siera. "Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya bingung saja karena Kakak berjalan sangat cepat," tutur Helen.


Siera terkekeh bodoh mendengar perkataan Helen. "Aku sudah tidak sabar ingin memberi tahu Cara tentang berita panas hari ini. Maaf ya, kamu harus kembali sangat jauh untuk kembali," cetus Siera.


Helen kembali tertawa mendengar penuturan Siera. "Iya, Kak. Kakak pergilah, aku akan kembali ke dalam," kata Helen.


"Ya sudah, sampai bertemu nantinya. Cepat pulang, Geno pasti sudah merindukan kamu," ucap Siera.

__ADS_1


"Aku lebih merindukan dia, bahkan wajah dia selalu nampak di setiap lembar buku pelajaranku," celetuk Helen jujur.


Mulut Siera ternganga mendengar kalimat jujur Helen. Alisa tidak menyangka jika Helen begitu menyukai Geno. Bahkan sampai membuat gadis itu tidak fokus belajar. "Ya sudah, kalau begitu pergilah cepat. Supaya kamu bisa segera bertemu Geno," kata Siera.


"Iya, aku pergi ya, Kak. Bye …." Helen melambaikan tangannya ke arah Siera yang ikut melambaikan tangannya.


Siera menggelengkan kepalanya melihat kepergian Helen. "Gadis itu ada-ada saja," gumam Siera.


Sedangkan ditempat Helen, langkah kaki gadis itu terhenti saat seseorang berdiri di depannya. "Hai, Helen," sapa laki-laki itu.


Kening Helen berkerut karena tidak mengenal laki-laki dihadapannya itu. "Hai, maaf kamu siapa, ya?" tanya Helen.


Laki-laki dihadapan Helen tersenyum tipis. "Aku salah satu mahasiswa di sini. Aku menemui kamu karena ingin memberikan pesan seseorang," tutur laki-laki itu.


Helen nampak semakin bingung mendengar perkataan laki-laki itu. "Pesan apa dan dari siapa?" tanya Helen penasaran.


"Ini, kamu baca saja sendiri. Dia berpesan, tolong hargai dia." Laki-laki itu memberikan sebuah kertas kecil kepada Helen.


Helen menatap kertas di tangannya dengan pandangan bingung. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Bye."

__ADS_1


__ADS_2