
"Permisi Bu, saya mau beli kapas," ucap Cara kepada seorang ibu di apotek.
"Oh iya Nak, tunggu sebentar ya." Ibu-ibu itu memasukkan sesuatu di tangannya ke dalam sebuah kantong plastik.
"Ini Nak." Setelahnya ibu-ibu itu memberikan kantong plastik itu kepada seseorang yang berada di samping Cara.
"Berapa?" Cara menoleh saat mendengar suara itu.
Cara memicing dan menatap intens wanita bermasker di sampingnya. "Lima ribu rupiah Nak," sahut ibu itu.
"Jesy." Sapaan Cara mengejutkan wanita itu, setelahnya wanita itu pergi begitu saja dari hadapan Cara.
Hal itu membuat Cara memicing curiga, sebab tidak biasanya Jesy seperti itu. "Maaf Bu, perempuan tadi membeli apa?" tanya Cara kepada penjaga apotek.
"Tespack Nak," sahut ibu itu.
Cara melotot. "Testpack? Kenapa … maaf Bu, ini uangnya." Setelah memberikan uang itu Cara berlalu cepat menghiraukan panggilan penjaga apotek tentang uang kembaliannya.
Cara menoleh sekeliling, setelahnya gadis itu melihat sebuah toilet umum tidak jauh dari sana. Cara tersenyum miring. "Jika benar apa yang aku pikirkan terjadi, maka … hal ini akan semakin menyenangkan." Cara bergumam sambil berjalan santai ke arah toilet itu.
__ADS_1
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Cara berbunyi, wanita itu bisa menebak pasti itu adalah panggilan telepon dari sang suami. Cara melupakan tentang supirnya yang pasti sekarang sedang kewalahan mencarinya. "Halo Hubby," sahut Cara.
"Kamu di mana Sayang? Kata supir kamu masih belum kembali, jangan membuat aku khawatir Baby," tutur Geo dengan nada khawatirnya.
"Maafkan aku Sayang, aku lupa memberi tahu supir. Aku sedang melakukan misi, aku tidak sengaja bertemu dengan Jesy di sini," papar Cara.
"Aku hampir saja membunuh supir itu jika kamu tidak ada kabar Sayang," ucap Geo.
Cara meringis, bukan hal tidak mungkin bagi Geo untuk melakukan hal itu. "Jangan Kak, dia tidak salah. Aku yang lupa memberi tahunya karena buru-buru," jelas Cara. Dia tidak ingin nyawa orang lain melayang cuma-cuma karena dirinya.
"Aku sedang di depan toilet umum di dekat apotek, nanti aku akan telepon supir untuk ke sini. Aku harus memastikan sesuatu dulu Kak," terang Cara.
"Baiklah, hati-hati Sayang. Jangan sampai dia menyentuhmu lagi, meski seujung kuku pun. Kalau sampai begitu, aku tidak akan diam lagi," ujar Geo serius.
Cara tersenyum mendengar itu. "Tentu saja Sayang, aku tidak akan diam saja. Sebelumnya itu kan karena rencanaku, sekarang aku tidak akan mau mengalah," papar Cara.
"Baiklah, setelah itu selesai segeralah kemari," ucap Geo.
__ADS_1
"Siap Bos, aku tutup dulu ya," tutur Cara.
"Baiklah, bye Baby," kata Geo.
"Bye Hubby." Setelahnya sambungan telepon itu terputus, Cara melangkahkan kakinya ke dalam toilet umum itu.
"Bagaimana ini?"
Cara mengernyit saat mendengar suara pelan seseorang yang dikenalnya. Wanita itu melangkah semakin masuk ke dalam toilet umum itu. Cara menaikkan sebelah alisnya saat melihat Jesy sedang menatap sebuah benda kecil di tangannya. Cara melangkah perlahan ke arah Jesy. "Apa yang bagaimana?" Suara Cara sukses membuat Jesy terlonjak.
Jesy menoleh dan terkejut saat melihat keberadaan Cara, wanita itu sedang menatap Jesy dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa kau bisa ada di sini?" ucap Jesy panik.
Cara tertawa. "Kenapa memangnya? Ini adalah toilet umum, bukan milik keluarga Gerisam bukan? Jadi sah-sah saja aku berada di sini Nona Gerisam," ejek Cara.
Cara melirik benda kecil yang berada di tangan Jesy, sedangkan Jesy yang melihat pergerakan Cara dengan segera menyembunyikan benda itu ke belakang tubuhnya. Hal itu membuat Cara tertawa keras. "Kenapa wajahmu begitu pucat dan terlihat ketakutan? Aku di sini sendiri loh, tidak bersama suamiku. Apa karena benda di tanganmu itu? Memangnya apa yang sedang kau sembunyikan itu?" Cara menatap Jesy dengan senyum miringnya.
Glek …. Jesy menelan salivanya susah payah, menghadapi kepribadian Cara yang sekarang tidaklah segampang Cara yang dulu. Cara yang sekarang lebih licik dari dirinya sendiri, hal itu membuat Jesy sedikit panik. "Ti-tidak ada apa-apa, tidak usah ingin tahu urusan orang," papar Jesy sedikit gugup.
Cara tersenyum miring melihat kegugupan Jesy. "Kalau tidak ada apa-apa kenapa kau sembunyikan dariku? Terus … kenapa kau jadi begitu pucat dan gugup begini? Biasanya kau begitu terlihat berani melayaniku?" Cara menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum sinis ke arah Jesy yang sudah terdiam.
__ADS_1