
"Dia siapa Kak?" tanya Cara kepada Geo.
Geo menatap kepergian Rical dengan pandangan tidak dapat diartikan. "Rical Carves," sahut Geo.
"Aku rasanya pernah mendengar namanya, gumam Cara. "Ah iya … bukankah dia yang dikabarkan musuh Kak Ge? Rical Carves CEO Carves Company, yang merupakan ketua Dood?" Cara menatap Geo dengan padangan bertanya setelah mengingat sesuatu.
Geo menoleh. "Kamu tahu berita itu?" tanya Geo.
"Aku rasa tidak ada orang yang tidak tahu itu Kak," tutur Cara.
Geo terdiam sejenak. "Apakah itu benar Kak? Kalau begitu kenapa dia bisa ke sini juga, Kak Ge e mengundangnya?" tanya Cara beruntun.
Geo terkekeh melihat wajah penasaran Cara. "Aku lihat kalian memang tidak begitu akur, tapi … kalian juga tidak terlihat seperti musuh pada umumnya," sambung Cara.
"Nanti aku ceritakan Sayang." Geo mengecup pelan pipi kanan Cara.
.
.
.
"Pa, ayo kita ke sana," ajak Jesy.
"Apa kau yakin Jesy? Dia tidak mengenal kita, jadi itu akan sedikit sulit, dia pasti bisa menebak kita mendekatinya karena ingin sesuatu," terang Torih.
__ADS_1
"Terus bagaimana? Apa aku saja yang ke sana sendiri?" tanya Jesy.
"Sayang, apa kamu yakin? Mama rasa tidak usah, kita masih bisa coba cara lain," ujar Sasdia.
"Tidak apa-apa Ma, aku yakin bisa menjinakkannya. Mama tenang saja," ucap Jesy.
"Ya sudah, aku ke sana dulu. Lihatlah, dia sudah dikerumuni para wanita. Aku harus gerak cepat." Jesy berjalan mendekat ke arah Rical yang sedang bercengkrama dengan beberapa wanita.
"Selamat malam Tuan Sunder." Jesy menyapa Rical sambil tersenyum manis, isyarat akan menggoda.
Rical menoleh dan mengernyit, satu wanita lagi datang mendekatinya. Namun, tidak satu pun yang dikenalnya. 'Ini lumayan juga, cantik dan … bodinya lumayan berisi.' Rical membatin sambil menilai Jesy dari atas sampai bawah dengan pandangan mesumnya.
"Saya rasa Tuan Carves belum mengenal saya, bagaimana kalau kita berkenalan?" tawar Jesy.
Rical tersenyum miring. "Boleh," sahut Rical singkat.
Rical menatap uluran tangan itu dengan pandangan penuh arti, laki-laki itu menerima uluran tangan Jesy. Rical mengenggam tangan gadis itu begitu lembut. "Namamu bagus sama seperti bodimu," tutur Rical frontal.
Jesy sempat terkejut, Rical memang berbeda. Biasa laki-laki akan memuji wanita dari wajahnya, tetapi laki-laki ini malah memuji dari bentuk tubuhnya. Ternyata Rical ini benar-benar pemain wanita sejati. "Tentu saja Tuan Carves." Jesy kembali tersenyum.
Sedangkan di atas panggung, Cara mengernyit saat melihat Jesy sepertinya sedang mencoba mendekati Rical. "Astaga, sepertinya dia benar-benar ingin mencari laki-laki kaya untuk menyokong kehidupan mereka," gumam Cara.
Geo menoleh saat mendengar kalimat pelan dari istrinya. Laki-laki itu menatap arah pandang Cara. 'Manusia itu benar-benar,' batin Geo.
"Adik tiri kamu itu sepertinya memang sudah bosan hidup tenang Sayang," celetuk Geo.
__ADS_1
Cara menoleh ke arah Geo dengan kening berkerut. "Maksud Kak Ge?" tanya Cara.
"Aku rasa berurusan dengan kamu jauh lebih baik dari pada masuk ke dalam lingkaran setan gila wanita itu," papar Geo.
Cara mengernyit tidak mengerti. "Wajah Rical memang terlihat tampan dan biasa saja, tapi siapa sangka jika berurusan dengannya tidak sebiasa itu," jelas Geo.
"Aku masih belum paham Kak," ucap Cara.
"Dia laki-laki gila wanita, kasar dan begitu emosian. Aku rasa bagi wanita yang berani masuk ke dalam kehidupannya, berarti wanita itu siap untuk sengsara. Sebab Rical menganggap wanita hanya sebagai pelampiasan nafsu, tidak lebih dari itu. Selama ini wanita hanya singgah untuk saling mencari kenikmatan dunia, tidak ada yang berani meminta lebih," terang Geo.
Cara terkejut, gadis itu kembali menatap ke arah Jesy yang masih berusaha berebut perhatian Rical bersama wanita lainnya. 'Kalau benar Jesy berhasil masuk ke dalam kehidupan Rical, apa mungkin usaha balas dendamku tertitipkan kepada orang lain?' batin Cara.
...*****...
"Aku sudah mendapatkan nomor kontaknya Pa. Seperti perkataan Papa, mencari perhatiannya memang sangat mudah. Sekarang aku tinggal membuatnya terkesan dan tertarik," papar Jesy senang.
"Bagaimana pun dia bukanlah laki-laki sembarangan Jesy. Kau harus berhati-hati, setahuku selama ini tidak ada wanita yang berstatus sebagai kekasihnya. Keinginanmu itu tidak akan mudah," tutur Torih.
"Huh … gadis murahan itu saja bisa mendapatkan perhatian Tuan Vetro yang jelas lebih berkuasa dari pada Tuan Carves. Mencari perhatian Tuan Vetro juga sangat sulit. Kenapa aku harus kalah darinya, jelas saja aku lebih dari segi apa pun dari pada dia," balas Jesy angkuh.
"Tuan Vetro dengan Tuan Carves itu berbeda Jesy, sifat mereka sangat bertolak belakang. Tuan Vetro adalah laki-laki anti wanita, dia bahkan tidak pernah bersentuhan dengan wanita selama ini. Sebab itu aku terkejut saat mengetahui Cara dapat menjinakkannya. Sedangkan Tuan Carves adalah laki-laki gila wanita, tidak ada yang tahu dalam satu hari berapa wanita yang ditidurinya. Mencari perhatian Tuan Carves memang mudah, tetapi jika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Kita akan dibuangnya," jelas Torih.
Jesy terdiam mendengar penjelasan Torih, ada sedikit rasa takut dan khawatir menyelinap masuk ke dalam hatinya yang tadi begitu percaya diri. Namun, sifat sombong Jesy yang tidak mau kalah dari Cara membuatnya tetap keras kepala ingin melanjutkan misinya mendekati Rical.
"Lagi pula, tingkatanmu sekarang berada di bawah Cara. Kau jangan terlalu meninggi Jesy, dulu di saat dia masih di sini. Kekurangannya hanya dari wajah, sedangkan kau menang hanya dari wajah. Cara adalah wanita yang cerdas, dengan penampilan dan posisinya sekarang membuat gadis itu berada jauh di atasmu yang hanya mengandalkan tampang," sambung Torih frontal.
__ADS_1
Jesy terdiam dengan perasaan dongkol, tetapi gadis itu tidak bisa menyanggah perkataan Torih sebab apa yang dikatakan Torih ada benarnya. Jika mereka menyuruhnya untuk beradu otak, sudah bisa dipastikan Jesy akan kalah. Dulu Jesy memang akan menang dari Cara jika mengadu kelicikan, tetapi siapa sangka Cara yang sekarang jauh lebih licik dari pada Jesy.