
Siera berjalan bersama Farel di sampingnya. Wanita itu berjalan lurus tanpa menoleh sekitar. Farel mengernyit melihat itu. "Kenapa tidak dilihat?" tanya Farel.
Siera sempat terkejut mendengar suara Farel. Gadis itu menoleh dan menggaruk kepala belakangnya kikuk. 'Mana berani aku, aku merasa seperti wanita materialistis jadinya,' batin Farel.
Farel yang mengetahui isi pikiran Alisa memilih menarik tangan gadis manis itu ke dalam sebuah toko baju. "Pilihlah," tutur Farel.
"Aku …."
"Kak Siera." Suara seseorang mengalihkan perhatian Siera dan Farel. Melihat keberadaan Lamira membuat Siera bernapas lega.
"Kamu juga di sini?" tanya Siera.
"Iya, aku senang bertemu Kakak di sini. Memilih baju dengan Kak Alex tidak asik," jelas Lamira.
Siera terkekeh kecil mendengar kalimat Lamira. "Aku malah merasa bagaimana bersama manusia tembok itu," bisik Siera.
Lamira mengulum bibir sambil melirik Farel yang sedang berbicara dengan Juan. "Aku tidak menyangka kalau Kak Geo dengan Kak Farel beradik sepupu, memiliki sifat yang sama," balas Lamira ikut berbisik.
"Begitulah, tapi Cara mah enak. Kak Geo lebih banyak bicara jika bersamanya, lah ini … sama saja," gerutu Siera.
Lamira terkekeh kecil mendengar ucapan Siera. "Hei, kalian masih ingin bergosip? Cepatlah pilih bajunya," tutur Alex.
Lamira dan Siera menoleh. "Iya, Bang," sahut Lamira. "Kita cari baju yang bentukannya sama yuk, Kak," sambung Lamira kepada Siera.
Siera mengangguk semangat. "Akan lebih seru kalau ada Cara di sini," papar Alisa.
"Iya, ditambah dengan Kak Helen. Sepertinya seru ya, Kak," balas Lamira.
"Apa perlu kita telepon mereka?" tutur Siera.
"Wah … bagus juga, suruh Bang Alex aja yang menghubungi," cetus Lamira.
"Bang," panggil Lamira.
__ADS_1
Alex menoleh dan mengangkat sebelah alisnya ke arah Lamira. "Hubungi Kak Cara dan Kak Helen, dong. Seru kalau bersama," ungkap Lamira.
Alex melirik ke arah Farel yang hanya diam dengan wajah kakunya. "Baiklah." Baru saja Alex mengangkat telepon genggamnya. Namun, pergerakan itu terhenti saat melihat sepasang manusia berjalan saling bergandengan.
Alex menatap ke arah tiga manusia di sampingnya. Setelahnya laki-laki itu mengulum bibir mencoba menahan tawa melihat wajah memelas Geo yang ditarik oleh Cara yang tampak begitu antusias. "Astaga, kasihan sekali wajah Ketua Death itu," papar Alex.
"Biarkan saja mereka," cetus Farel.
"Kak Cara begitu dimanja oleh Kak Geo, ya," tutur Lamira kepada Siera.
Siera tersenyum melihat itu. "Iya, aku senang dia mendapatkan laki-laki yang tepat." Siera menatap wajah ceria Cara yang ikut membuat hatinya menghangat.
Lamira menatap senyum tulus Siera untuk Cara. "Kakak sudah lama berteman dengan Kak Cara?" tanya Lamira.
Siera menoleh dan tersenyum saat mengingat pertemuan pertama mereka. "Satu tahun lebih, dengan pertemuan yang sangat berkesan." Siera terkekeh kecil.
"Aku jadi penasaran," ucap Lamira.
"Kapan-kapan aku ceritakan, sekarang ayo kita cari bajunya. Sebelum dua laki-laki itu mengamuk," bisik Siera.
"Oh, iya," imbuh Siera.
"Bang, Kak Helen sudah Abang kabari?" tanya Lamira.
"Sudah, mereka akan segera ke sini," sahut Alex. "Kalian lihat saja dulu, nanti tinggal menunggu Helen datang," sambung Alex.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi, Kak," ucap Lamira.
...*****...
"Sudah siap?" tanya Rical.
"Sudah, ayo." Helen tersenyum senang merasa begitu antusias.
__ADS_1
Rical yang melihat itu tersenyum tipis. "Ya sudah, ayo," ajak Rical.
Tepat saat sepasang manusia itu berjalan melewati ruangan tengah mansion. Suara Jesy menghentikan langkah mereka. "Rical," panggil Jesy.
Rical menoleh dan menatap Jesy malas. "Apa lagi?" tanya Rical.
"Aku ingin ikut dengan kamu, aku tidak memiliki baju Rical," jelas Jesy.
"Beli saja sendiri, kalau tidak itu ada orang tuamu," balas Rical.
"Aku tidak memiliki uang Rical, kamu tidak pernah memberi aku uang sepeser pun," cetus Jesy.
"Kau kan memiliki orang tua," jawab Rical santai.
"Tapi aku sudah menjadi istri kamu, Rical. Kamu bertanggung jawab atas aku," protes Jesy.
"Tidak usah merusak moodku, tadi sudah aku katakan kau urus sendiri. Aku tidak mau tahu," papar Rical malas.
"Dia yang bukan siapa-siapa kamu, kenapa kamu perlakukan begitu manja. Seharusnya aku yang berada di posisi itu," ujar Jesy marah.
"Aku katakan jangan merusak moodku, bangsat! Jangan kau kira karena aku selama ini bersikap lunak kepadamu, kau bisa seenaknya menaikkan nada suaramu dihadapanku. Kau tidak lebih dari sekadar babu di sini. Ingat itu," desis Rical.
Setelah mengucapkan itu, Rical menarik tangan Helen pergi dari sana. Sedangkan Helen yang sedari tadi diam dengan wajah bingung mendongak menatap wajah Rical yang tampak terpancing emosi. "Kak Rical kenapa mengumpat?" tanya Helen pelan.
Rical terkejut, laki-laki itu menghentikan langkahnya sambil menunduk menatap wajah bule Helen. "Kamu sudah mengerti bahasa Indonesia?" tanya Rical terkejut.
Helen menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja waktu itu aku pernah diajak berbicara oleh Kak Jesy. Dia sempat mengucapkan satu kata yang begitu terkenang di otakku. Tidak aku sangka, ternyata itu adalah kalimat umpatan," jelas Helen.
Kening Rical berkerut mendengar penjelasan Helen. "Terus dari mana kamu tahu itu kata umpatan?" tanya Rical.
"Dari Kak Cara," sahut Helen.
Rical mengangguk pelan. 'Apa yang ingin Jesy katakan kepadanya? Awas saja kalau dia macam-macam kepada Helen,' batin Rical.
__ADS_1
"Kalau Jesy berbuat sesuatu kepada kamu, katakan kepadaku. Mengerti," ucap Rical. Helen mendongak dan mengangguk patuh.