
"Dia bergerak," tutur Rical.
Alex dan Farel menoleh ke arah laki-laki yang sedari tadi menjadi perhatian mereka. Terlihat gelagat biasa saja yang di keluarkan laki-laki itu. "Aku beri dia nilai tinggi untuk pengendalian ekspresi. Memang benar, karakternya hampir sama dengan Geo. Sayangnya otaknya korslet," papar Alex.
"Sepertinya dia memang sedang mencari mangsa," celetuk Rical.
"Manusia gila, lebih baik Geo yang menghabisi musuh atau pun tahanan. Kalau dia malah mencari orang yang tidak bersalah," ujar Rical.
Sedangkan tidak jauh dari tempat Rical, Jesy terus memperhatikan laki-laki tampan itu. Jesy menatap sendu ke arah Rical yang sedang duduk di samping Helen. "Sayang, kamu lelah berdiri? Ingin Mama carikan kursi?" tanya Sasdia.
Jesy menoleh ke arah Sasdia dan mengangguk pelan. "Tumitku sudah sakit rasanya, Ma," ungkap Jesy.
Sasdia mengedarkan pandangannya mencoba mencari tempat yang bisa untuk Jesy duduki. Mata wanita paruh baya itu terhenti pada sosok laki-laki paruh baya yang tampak sedang bercakap dengan laki-laki lainnya. Itu adalah Torih, yang sedang mencoba mencari relasi baru untuk memulai bisnisnya.
"Ma." Suara Jesy menyadarkan lamunan Sasdia. Wanita paruh baya itu menghela napas pelan dan kembali menatap Jesy.
"Di sini tidak ada tempat untuk duduk, Sayang. Kita coba minta kepada Rical, ya," kata Sasdia.
"Kenapa aku kurang yakin, Ma?" lirih Jesy.
"Kita coba dulu, Sayang. Semoga saja dia berbaik hati sekarang," ucap Sasdia.
__ADS_1
...*****...
"Bajunya sudah sampai, Kak?" tanya Cara.
"Sudah, tinggal mereka antar ke sini. Kamu mandilah lebih dulu, nanti aku antarkan bajunya." Geo mengusap rambut istrinya yang sedang berbaring di atas dada bidangnya.
"Jadi malas berjalan," gumam Cara.
"Ayo aku antar," ucap Geo lembut.
Cara mendongak dan mengecup leher Geo gemas. Sepasang suami istri itu masih bersembunyi bi balik selimut hotel, setelah baru saja mereka menyelesaikan aksi panas. "Ayo, pasti yang lain sudah menunggu," papar Cara.
Mendengar kalimat Cara, Geo bangun dari tidurnya. Setelahnya laki-laki itu mengusap perut Cara lembut. "Kapan ingin Daddy jenguk lagi, Sayang?" bisik Geo di depan perut Cara.
Tring … tring … tring …
Aksi mesra sepasang suami istri itu terganggu karena suara ponsel Geo menggema. Geo menatap malas ke arah ponsel yang memperlihatkan nama Alex di sana. "Hemm," deham Geo.
"Masih lama tidak? Ini sudah lebih dari setengah jam, caranya juga hampir selesai," ucap Alex kesal.
"Ck, menganggu." Bukannya menjawab, Geo malah berdecak dan berucap dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Astaga, Tuan Vetro. Tolonglah, ini bukan waktunya mengurung istri. Kau sedang berada di acara orang, tidak tahu waktu dan tempat sekali," dengkus Alex.
"Berisik." Setelah mengucapkan itu, Geo mematikan sambungan telepon begitu saja. Hal itu tentu saja kembali membuat Alex mengumpat kesal di sana.
...*****...
"Rical." Suara seseorang mengalihkan perhatian tiga pasang manusia yang berada di meja itu.
Rical memutar bola matanya malas saat melihat orang yang baru saja memanggilnya. "Apa?" tanya Rical malas.
"Bisakah beri aku satu kursi? Aku lelah berdiri, tumitku sakit," ucap Jesy.
"Ck, kau manja sekali. Kalau tidak kuat berdiri yang duduk saja di lantai itu. Kau pikir kau siapa, berani meminta kursi," balas Rical.
"Jesy sedang hamil anak kamu, Rical. Dia lelah berdiri, kasihan anakmu di dalam sana," tutur Sasdia membantu Jesy berbicara.
"Sudahlah, di sini banyak orang. Tidak usah mencari masalah dan keributan kalau tidak ingin malu sendiri. Kalau kau lelah ya duduk saja, terserah kau ingin duduk di mana. Itu bukan urusanku. Atau kalian ingin pulang, aku juga tidak masalah," ungkap Rical santai.
Jesy mengepalkan tangannya marah, begitu pula dengan Sasdia yang menatap Rical dengan pandangan benci. "Tidak usah menatapku seperti itu, kalian terlalu menganggap aku enteng selama ini, ya? Karena aku tidak berbuat apa-apa, kalian semakin menjadi. Aku tidak suka orang lain menatapku seperti itu, brengsek!" desis Rical tajam.
"Sebaiknya kalian pergi saja, kalian bisa membangunkan sisi liar serigala jinak. Rical tidak tidak sesimple yang kalian lihat. Bukannya Cara sudah memberi tahu posisinya di Death? Jangan bermain-main," celetuk Alex.
__ADS_1
Jesy dan Sasdia terkejut mendengar suara Alex. Mendengar itu, secara spontan sepasang ibu dan anak itu mengalihkan tatapan mata mereka. Kemudian mereka memilih pergi dari sana.