Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
83. Wanita Berpendidikan (lb)


__ADS_3

Wanita cantik itu mengulurkan tangannya kepada Geo berniat untuk bersalaman. Namun, dengan cepat Cara menerima uluran tangan wanita itu sambil tersenyum manis. "Maaf, suami saya tidak suka bersentuhan dengan sembarangan orang," tutur Cara.


Wanita itu terkejut, setelahnya dia tersenyum kaku. "Oh, maaf Nyonya. Silakan duduk," balas wanita itu.


"Terima kasih," sahut Cara.


Geo hanya diam membiarkan sang istri melakukan apa yang diinginkannya. Laki-laki itu tidak pernah melarang Cara selagi itu tidak berbahaya. "Ekhm … perkenalkan saya Berli, CEO baru dari KT Company." Wanita itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.


"Saya Max, wakil CEO KT Company," tutur laki-laki di samping Berli.


Cara mengangguk kecil sedangkan Geo masih diam dengan wajah datarnya. "Saya Cara, istri Tuan Vetro. Mohon tunggu wakil CEO kami sebentar ya. Sebelumnya maaf kalau seandainya keberadaan saya sedikit mengganggu," papar Cara.


Berli tersenyum kaku mendengar perkataan Cara. 'Memangnya dia di sini hanya untuk mengganggu Tuan Vetro, aku rasa Tuan Vetro sangat tidak nyaman dengan sifat istrinya ini. Apa yang akan dia mengerti di dalam pembahasan kami nanti?' batin Berli remeh.

__ADS_1


"Jika Tuan Vetro tidak keberatan, kami juga tidak masalah Nyonya. Tapi kami hanya takut kalau Anda bosan dengan pembahasan kantor." Berli tersenyum terpaksa.


"Oh … tidak, saya sudah biasa. Sebenarnya saya masih ingin bekerja, sayangnya suami saya tidak mengizinkan." Cara membalas dengan senyum tipis.


'Bekerja? Dilihat sepintas lalu pun orang-orang juga tahu kalau wanita ini hanya mengandalkan tampang. Memangnya apa yang bisa dia kerjakan, palingan hanya seorang wanita manja,' batin Berli lagi.


"Oh … begitukah? Saya pikir Nyonya Vetro wanita yang suka berdiam diri saja." Berli menyahut sambil tersenyum licik yang nampak begitu samar.


"Kalau itu tentu saja Nyonya Berli, saya lebih suka berdiam diri menemani suami saya ke mana-mana. Beruntungnya suami saya malah menyuruh saya untuk selalu membuntuti dirinya ke mana pun." Cara menoleh ke arah Geo sambil tersenyum manis.


Sedangkan Geo yang melihat senyum istrinya ikut tersenyum tipis sambil mencubit pipi sang istri. Hal itu tentu saja membuat dua orang lain yang berada dalam ruangan yang sama melotot terkejut. "Aduh … maaf ya, suami saya memang suka begitu. Tidak lihat tempat." Cara tersenyum melirik Berli dan Max bergantian.


Max tersenyum tipis. "Tidak apa-apa Nyonya Vetro, kami mengerti. Melihat kalian saya malah menjadi rindu istri saya," balas Max.

__ADS_1


Cara terkekeh kecil, berbeda dengan Berli yang sedang mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja. Padahal hatinya saat ini sedang mengutuk Cara. "Nyonya Berli sudah memiliki suami atau pasangan?" tanya Cara tiba-tiba.


Berli terkejut mendengar pertanyaan Berli. "Ah … saya belum memikirkan itu, saya masih fokus dengan karir saya. Lagi pula, saya sedang menginginkan seseorang." Berli melirik singkat ke arah Geo.


Cara mengangguk kecil sambil tersenyum miring. "Ternyata Anda adalah wanita pekerja keras, ya. Bagus sih, tapi sebenarnya kebanyakan laki-laki menginginkan pasangannya untuk tetap stay di sampingnya. Seperti suami saya," terang Cara.


"Bernarkah? Saya tidak masalah sebenarnya jika dia meminta saya untuk berhenti dan melepas jabatan saya sebagai CEO. Jika saya bisa bersamanya, saya tidak masalah dengan hal itu." Berli kembali melirik Geo yang masih sibuk memandangi wajah cantik istrinya.


Cara menatap wajah Berli yang sangat terlihat mendambakan suaminya. Setelahnya Cara tersenyum sinis. "Anda juga patuh ternyata kalau begitu. Saya harap Anda mendapatkan laki-laki yang baik dan sesuai dengan Anda. Yang pasti kalau bisa dia yang masih lajang dan bujangan. Sayang sekali kalau seandainya Anda mendapatkan bekas orang, atau mungkin suami orang. Banyak sekali sekarang wanita berpendidikan tinggi dan berotak cerdas, tetapi malah menjadi perusak rumah tangga orang. Sudah tahu laki-laki itu memiliki istri, masih saja gatal ingin memilikinya," papar Cara menyindir.


Berli yang mendengar perkataan Cara segera menoleh ke arah wanita itu. Sedangkan Cara sudah tersenyum manis ke arah Berli yang sempat tercekat oleh perkataan Cara yang begitu tepat sasaran. "Tapi, aku rasa Nyonya Berli tidak akan seperti itu. Sayang sekali bukan, Anda adalah seorang CEO yang pastinya berpendidikan tinggi. Aku harap tidak akan menjadi salah satu wanita yang aku katakan tadi," sambung Cara.


Geo masih saja diam tanpa berniat ikut bersuara. Meski sebenarnya sedari tadi laki-laki itu tahu kalau Berli terus memperhatikannya. Sedangkan Max sudah menelan salivanya kasar kala merasakan aura di dalam ruangan itu mulai berbeda.

__ADS_1


__ADS_2