Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
112. Bule (lb)


__ADS_3

Jesy menatap laki-laki yang sudah satu minggu lebih tidak terlihat olehnya. Sedangkan Rical, laki-laki yang sedang berjalan santai itu tidak melirik keberadaan Jesy sedikit pun. Jesy menekan dadanya yang terasa begitu sesak saat melihat Rical berjalan sambil memeluk erat seorang gadis bule. 'Kamu benar-benar keterlaluan, Rical,' batin Jesy sendu.


Sasdia yang melihat sang putri bersedih, mencoba menahan air matanya. "Sayang, kita ke kamar saja, ya," ajak Sasdia.


"Dada aku sesak, Ma," lirih Jesy.


Sasdia menatap sendu sang putri. "Ayo, Sayang," ajak Sasdia.


"Hai, ingin ke mana?" Suara seseorang menghentikan langkah kaki Jesy dan Sasdia.


Sepasang ibu dan anak itu menatap was-was ke arah Cara yang sedang tersenyum manis ke arahnya dengan keberadaan Geo di samping gadis itu. "Suami kamu baru pulang, loh. Masa tidak disapa?" tutur Cara mengejek.


"Maaf, kami ingin ke kamar saja," balas Sasdia.


"Eh, jangan. Kalian harus ikut denganku, hari ini Kak Rical pulang setelah sekitar satu minggu lebih mendapat tugas dari suamiku. Jadi, aku ingin mengadakan pesta kecil untuk Kakak laki-lakiku itu," tukas Cara.


"Ayo, ikut aku ke ruangan tamu." Cara menarik tangan Jesy dan membawa wanita itu ke arah ruangan tamu.


"Kak Rical, wah … akhirnya Kakak laki-laki ku ini pulang juga. Lama sekali baru kembali, sepertinya Kakak betah berada di sana," tutur Cara kepada Rical.

__ADS_1


Rical terkekeh mendengar perkataan Cara. "Tentu saja, wanita di sana lebih berisi," sahut Rical asal.


Plak …. "Shhh." Rical mengusap kepala belakangnya yang baru saja mendapat serangan mendadak dari Alex yang sepertinya baru sampai.


"Brengsek, baru sampai kau sudah membuatku geger otak. Lebih baik kau tidak usah ke sini," ketus Rical.


"Sakit sekali, Kak?" Helen yang berada di samping Rical bertanya sambil mengusap kepala belakang Rical pelan.


Semua mata menoleh ke arah Rical dan Helen bertanya. Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya menatap pemandangan tidak mengenakkan itu. Cara melirik raut wajah Jesy dan tersenyum miring. "Siapa lagi ini? Kau membawa gadis polos pulang? Benar-benar setan kau," tutur Alex tidak habis pikir.


Rical tersenyum miring sambil menatap wajah cantik Helen. "Bagaimana? Cantik bukan?" Rical menaik turunkan alisnya menggoda Alex.


"Kenapa, kau iri karena aku mendapat wanita lagi? Sedangkan kau masih saja sendiri, kasihan sekali kau," ejek Rical.


"Kak Alex sudah memiliki pawang kok, Kak," celetuk Cara.


Rical terkejut mendengar kalimat Cara. "Benarkah? Wah … aku ketinggalan, mana orangnya? Aku ingin melihatnya," tutur Rical penasaran.


"Seorang gadis manis, kelas tiga sekolah menengah atas," balas Cara.

__ADS_1


Mulut Rical menganga tidak percaya. "Wah … kau mantap juga. Sekalinya mulai malah dapat gadis sekolah menengah atas. Tapi aku tidak menyangka kalau kau ternyata seorang pedofil, Alex." Rical tertawa keras, sedangkan Alex sudah menatap Rical kesal.


Plak …. Untuk kedua kalinya Alex memukul keras kepala Rical. Pukulan itu sukses menghentikan tawa keras Rical. "Bangsat! Lama-lama di dekatmu memang bisa membuat aku geger otak," umpat Rical.


Helen kembali mengusap kepala belakang Rical lembut. Helen memang wanita polos yang penyayang, buktinya saja kepada sang ayah yang mungkin sekarang sudah beda alam. Sudah dikasari dan diperlakukan buruk malah masih merasa kasihan saat Stamon dikeroyok.


"Kak, kasih tahu aku dia siapa? Kekasih Kakak?" tanya Cara penasaran.


Rical menoleh ke arah Cara dan menatap Helen yang tampak diam sebab tidak mengerti dengan bahasa mereka. "Dia Helen, anaknya Stamon," kata Rical jujur.


Alex melotot sedangkan Geo mengernyit menatap gadis di samping Rical. "Kau membawa anak pengkhianat ini pulang?" tanya Alex tidak habis pikir.


"Tenang saja, dia gadis polos yang bertolak belakang dari ayahnya. Aku bahkan menemukan mereka di klub, Stamon gila itu malah ingin menjual anak gadisnya sendiri," jelas Rical.


"Ternyata masih banyak saja bapak gila di dunia ini," celetuk Alex heran.


"Sudah seperti itu, gadis ini malah masih mengasihani ayah bejatnya itu. Memohon kepadaku untuk melepaskan ayahnya," sambung Rical.


Sedangkan Cara sempat terkejut mendengar penjelasan Rical. Cara menatap kasihan ke arah Helen, dia merasa keadaan Helen mungkin lebih parah darinya. Geo yang menyadari tatapan kasihan dari sang istri, mengusap lembut pipi Cara.

__ADS_1


__ADS_2