Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
129. Pasangan (lb)


__ADS_3

"Dia sepertinya begitu kecewa saat tahu Kakak sudah menikah. Apa kalian pernah memiliki masa lalu?" tutur Cara penasaran.


Geo menoleh ke arah Cara dan tersenyum tipis. "Wanita pertama yang mampu membuat sebuah jejak masa lalu untukku hanya kamu, Baby. Dia tidak lebih dari mantan rekan bisnis," ungkap Geo lembut.


"Tapi dia memanggil Kakak santai, bahkan memanggil dengan nama depan, beda dari yang lain," papar Cara.


Geo terkekeh kecil menyadari sang istri dalam mode cemburu. Laki-laki dingin itu mencubit pipi Cara yang semakin lama semakin berisi. "Aku tidak pernah melarang orang untuk memanggil namaku santai, aku juga tidak akan membantah dia memanggiku seperti apa. Kamu tahu aku, Sayang. Aku bukan orang yang gila hormat, di mana mereka harus memanggil aku begitu sopan," jelas Geo begitu lembut.


Bibir Cara mengerucut mendengar penjelasan Geo. Memang masuk akal, karena Geo memang tidak pernah menekan orang lain untuk memanggil dan menyapanya sopan. Geo yang melihat bibir sang istri seakan bisa diikat, terkekeh gemas. "Ingin aku terkam di sini?" bisik Geo.


Cara terkejut mendengar itu, setelahnya wanita itu ikut terkekeh melihat wajah tampan suaminya. "Sudahlah, yang penting sekarang Kakak milikku dan milik dedek." Cara menunduk sambil mengusap perutnya merasa begitu senang.


Geo yang melihat itu tersenyum dan ikut mengusap perut istrinya yang masih rata. "Dedek di sana baik tidak? Setelah Daddy pikir-pikir, sudah empat hari Daddy tidak berkunjung ke sana. Pasti kamu rindu, ya?" bisik Geo.


Pipi Cara merona mendengar bisikan sang suami. Wanita itu mencubit pipi Geo sambil melirik sekitar, takut ada yang mendengar kalimat Geo itu. "Di sini ramai, Kak," gumam Cara.


Geo mendongak menatap wajah cantik istrinya yang terlihat memerah. Laki-laki itu terkekeh kecil, tanpa aba-aba Geo mengecup gemas bibir sang istri. Sedangkan Cara sudah melotot dengan pipi semakin memerah. "Kakak," pekik Cara tertahan.


"Aku ingin segera pulang, Baby. Ingin mengunjungi dedek," bisik Geo.

__ADS_1


Cara memukul lengan kekar Geo. "Aku belum selesai berbelanja. Ayo sekarang kita cari lagi," tutur Cara.


Wajah Geo memelas. "Kita pesan saja ya, Sayang. Nanti kamu tinggal melihat di fotonya. Atau kamu ingin mereka buatkan gaya baru, nanti kita pesan," bujuk Geo.


Cara nampak terdiam seakan sedang berpikir. "Baiklah …." Geo tersenyum lebar mendengar jawab istrinya.


"Tapi nanti, kalau seandainya tidak ada di sini," sambung Cara. Bahu Geo merosot mendengar itu, laki-laki dingin itu hanya bisa menghela napas pasrah.


...*****...


"Hei, kalian," panggil Rical.


Sedangkan tiga manusia yang mendengar penjelasan Rical sempat terkejut."Dress codenya biru muda," sambung Rical.


"Rical." Langkah kaki Rical terhenti saat mendengar panggilan Jesy. Laki-laki itu menoleh dengan alis berkerut seakan bertanya.


"Aku akan menjadi pasangan kamu nanti kan?" tanya Jesy.


Kedua alis Rical menukik, setelahnya laki-laki itu tertawa keras, isyarat akan mengejek wanita itu. "Pasangan? Pasanganku nanti Helen, bukan kau. Kau pergi bersama orang tuamu itu, sebagai tamu undangan," ejek Rical.

__ADS_1


Deg …. Hati Jesy kembali tergores, sedangkan Sasdia dan Torih menatap sendu ke arah putrinya. "Tapi aku adalah istri sah kamu, Rical," protes Jesy.


Rical memutar bola matanya malas. "Sudahlah, aku sedang tidak ada waktu untuk berdebat sekarang. Helen mengajakku membeli gaun sesuai keinginan Cara, selesaikan saja pekerjaan kalian," ungkap Rical.


"Belikan aku juga Rical," pinta Jesy.


Rical kembali berbalik badan dan menatap Jesy sinis. "Aku mencari uang bukan untukmu," ejek Rical.


"Rical … Rical!" Jesy berteriak memanggil Rical yang terus berjalan menghiraukan suara Jesy.


"Sayang, tenanglah. Kita akan cari gaun sendiri, putri Mama pasti akan terlihat cantik di pesta itu nanti," ucap Sasdia menenangkan.


"Uang dari mana, Ma? Kita saja menumpang di sini, tanpa menghasilkan seperser pun rupiah," lirih Jesy.


Sasdia terdiam, apa yang diucapkan Jesy benar. Mereka bekerja membersihkan mansion Rical tanpa diupah. Sedangkan Torih hanya bisa menunduk dengan tangan terkepal kuat. "Kita harus tetap pergi ke pesta itu, seperti yang dia katakan. Semua tamu di sana adalah orang penting, kita bisa mencari peluang bantuan di sana," kata Torih.


"Kamu yakin ada yang akan membantu kita, Mas? Nama keluarga kita sudah cukup buruk di mata pebisnis lain," balas Sasdia.


Torih terdiam beberapa saat, memang benar apa yang diucapkan Sasdia. "Tidak ada salahnya mencoba," tutur Torih pelan.

__ADS_1


__ADS_2