
Cara bergerak antusias saat melihat berbagai macam bentuk ikan hias. Mata wanita itu berbinar senang melihat semua ikan kecil yang terpajang di bilik air. "Kak, aku juga ingin yang warna ini, ini, ini, ini, ini dan yang ini. Ah … semuanya bagus," celoteh Cara.
"Eh, yang seperti ini ternyata juga bagus loh." Cara menunjuk satu ikan dengan jenis yang langka.
"Ingin semua jenisnya saja, Sayang?" tanya Geo.
"Em, aku bingung. Tapi, warna ini bagus untuk diletakkan di jalan utama nanti," ucap Cara.
"Ya, sudah. Kita pesan semua jenisnya. Nanti tinggal dibagi," papar Geo.
"Ayo, Kak. Aku sudah tidak sabar ingin melihat proses pembuatan rumah mereka." Cara menarik tangan Geo ke luar tempat itu. Sedangkan Geo hanya pasrah mengikuti langkah sang istri.
__ADS_1
...*****...
Sasdia terisak kecil, mencoba menahan suaranya supaya tidak mengganggu tidur nyenyak Jesy. Wanita paruh baya itu mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti. Sedangkan Torih sudah berulang kali menghela napas, merasa begitu tertekan dengan semua derita mereka. "Sampai kapan kita akan seperti ini, Mas? Lihatlah, anak kita menjadi korban dari semua ini," lirih Sasdia.
Torih mendongak dan menatap wajah Jesy yang sedang tertidur. "Aku juga bingung, jalan untuk melangkah bukan lagi samar, tapi benar-benar tidak nampak," balas Torih.
"Aku tidak kuat, Mas. Lebih baik aku saja yang dianiaya, melihat anakku tersiksa seperti ini lebih menyakitkan dari pada luka fisik, Mas. Aku tidak kuat," isak Sasdia.
"Tapi Jesy itu istrinya, Mas. Pantas jika Jesy menuntut haknya sebagai istri," protes Sasdia.
"Apa kamu pernah memikirkan hal ini dulu? Sewaktu membawa Dea ke dalam kehidupan kita? Aku jelas karena sedari awal tidak menyukainya, dan itu semua berawal dari kamu yang membawanya. Inilah semuanya, berdampak kepada Jesy yang seakan menggantikan posisi Dea."
__ADS_1
Kalimat Torih membuat Sasdia terdiam beberapa saat. "Tapi kasusnya berbeda, Mas. Aku adalah istri pertama kamu, sedangkan dia hanya istri kedua dan hanya istri sirih," tutur Sasdia masih belum mengakui kesalahannya.
"Bukankah sekarang Jesy juga hanya istri sirih?"
Kalimat Torih kembali membuat Sasdia terdiam. Melihat keterdiaman Sasdia membuat Torih kembali bersuara. "Apa kamu tidak pernah memikirkan setiap ucapan Cara? Semua yang kita alami sekarang ini sama persis dengan hal yang dialami Dea dulunya. Cara memang tidak main-main dengan ucapannya yang mengatakan akan membalikkan semua hal kepada kita."
"Apa kamu merasa bersalah sekarang? Kamu mengakui kelakuan kamu dulunya salah, begitu?" papar Sasdia tidak suka.
"Memang begitu adanya, Sasa. Melihat putriku diperlakkukan seperti itu oleh suaminya sendiri membuat aku mengingat kelakukanku dulu kepada Dea. Aku saat ini berada diambang kekalutan rasa bersalah. Setidaknya Jesy masih memiliki kita saat ini. Bagaimana dengan Dea kala itu?" Torih mengusap wajahnya kasar saat merasakan denyut bersalah menghantui pikiran dan hatinya.
Sasdia menatap tajam suaminya. "Tidak usah menyamakan anak kita dengan gembel itu, aku tidak sudi," desis Sasdia.
__ADS_1
"Sadarlah, Sasa. Semua ini terjadi bermula dari ulah bodohmu yang membawa orang lain ke dalam pernikahan kita. Kenapa hati kamu malah semakin tertutup seperti ini?" papar Torih tidak habis pikir.