
Glek …. Torih, Sasdia dan Jesy menegang ditempat. Cara yang melihat itu mencoba menahan tawa. 'Sudah aku duga respon mereka akan seperti ini,' ejek Cara di dalam hati.
"Sudah Sayang, lihatlah wajah mereka. Aku kasihan, nanti mereka pipis di celana," ejek Cara. Torih, Sasdia dan Jesy mengepalkan tangannya. Ingin sekali mereka mengumpati Cara, tetapi kata-kata umpatan itu hanya bisa mereka telan.
"Oh iya, jika aku sudah memberikan undangan kepada seseorang. Aku tidak suka jika mereka menolak dan tidak hadir di acara yang aku buat. Lagi pula, aku rasa Tuan Gerisam tidak akan berani tidak menghargai undangan pemimpin Death bukan?" Cara tersenyum mengejek ke arah Torih.
"Sayang, ayo kita pergi … di sini auranya begitu tidak mengenakkan, aku bahkan mencium bau busuk. Aku mual." Cara mendongak menatap Geo dengan senyum manisnya.
Setelahnya Cara menarik lengan kekar Geo untuk segera pergi dari sana. "Bye." Cara menoleh dan tersenyum miring ke arah tiga manusia yang sedang menatap tajam kepergian sepasang kekasih itu.
...*****...
"Kenapa dia bisa mendapatkan Tuan Vetro?" kesal Jesy merasa iri.
"Aku juga terkejut, pantas saja kekuatannya begitu mendominasi. Ternyata orang di balik ini semua adalah Tuan Vetro, jelas saja kita tidak akan bisa melakukan apa-apa," tutur Torih frustasi.
"Ah … ya ampun, wajah laki-laki itu tidak hilang dari otakku. Dia begitu tampan!" teriak Jesy frustasi.
Torih dan Sasdia menatap Jesy yang sedang mengusap wajahnya yang terlihat memerah. Hanya dengan melihat wajah Geo saja sudah membuat wanita salah tingkah. "Wajahnya memang sangat tampan, bahkan orang menjulukinya malaikat over dosis. Namun, siapa sangka di balik wajah tampannya itu tersembunyi jiwa iblis di dalam dirinya. Kita harus menghindarinya, dia laki-laki kejam yang tidak memiliki hati. Bahkan orang memanggilnya sebagai kembaran malaikat maut," terang Torih begitu serius.
"Tapi … kenapa wanita murahan itu bisa bersamanya?" tanya Jesy.
"Aku tidak tahu, yang pasti Tuan Vetro bukan manusia sembarangan. Kalian jelas tahu bagaimana mengerikannya nama Death, bahkan jika nama itu hanya sekedar melintas di telinga kita. Itu mampu membuat merinding." Torih mengusap bulu kuduknya membayangkan hal mengerikan jika berurusan dengan Death.
"Aku tahu bagaimana beritanya selama ini. Aku tidak menyangka kalau Tuan Vetro itu benar-benar tampan, bahkan jauh dari bayanganku. Jujur saja dulu aku tidak berharap untuk bertemu dengan Tuan Vetro karena berita mengerikan tentang dirinya. Tapi … sekarang aku bahkan sangat sulit melupakan wajahnya," papar Jesy.
__ADS_1
"Kalau memang dia kejam dan tidak punya hati, kenapa bisa anak gembel itu akan menikah dengan Tuan Vetro?" tanya Sasdia.
Torih terdiam terlihat memikirkan sesuatu. "Mungkin saja dia hanya menjual tubuh supaya bisa membalas dendam kepada kita," celetuk Jesy sinis.
"Benar juga, kemungkinan memang begitu Mas," ujar Sasdia.
"Mungkin, sebab aku tidak yakin orang sekejam Tuan Vetro bisa jatuh cinta kepada perempuan. Aku yakin anak itu hanya dimanfaatkan," ejek Torih.
Jesy tersenyum senang. 'Aku tahu kau tidak akan benar-benar bahagia Cara. Kalau begitu ada kesempatan untukku mencari perhatian Tuan Vetro, dia benar-benar membuat aku frustasi hanya dalama waktu lima menit.' Jesy membatin sambil tersenyum licik.
"Aku ingin mendekati Tuan Vetro, kalau aku bisa dekat dengannya. Maka aku bisa membuat Cara sengsara, membalikkan apa yang sudah dia lakukan kepada kita," ujar Jesy percaya diri.
"Sudah aku katakan Tuan Vetro laki-laki tidak punya hati, kita harus menghindarinya. Bukan malah mendekatinya, dia bukan manusia yang mudah didekati Jesy. Jangan gila," desis Torih.
"Tapi aku ingin mencoba, tidak ada salahnya mencoba Pa. Ini juga untuk kita bukan?" balas Jesy.
"Aku akan melakukan dengan mulus Ma, tenang saja," papar Jesy.
"Kau memang keras kepala, jangan melakukan hal bodoh lagi untuk mempersulit semuanya," geram Torih.
"Aku malah ingin mencoba sebuah usaha Pa, kalau aku bisa mendapatkan Tuan Vetro … hidup kita akan aman sentosa," sahut Jesy.
"Gadis bodoh, otakmu itu benar-benar tidak ada isinya. Kalau kau tetap keras kepala, seandainya nanti ada apa-apa … jangan membawa-bawa namaku." Torih menatap Jesy tajam, setelahnya laki-laki itu pergi begitu saja.
"Sayang, dengarkan Papamu. Jangan membuat dia marah lagi," bujuk Sasdia.
__ADS_1
"Aku akan tetap mencoba Ma, aku ingin dengan ini Papa bangga kepadaku nanti. Aku yakin bisa mengalahkan Cara," ucap Jesy keras kepala. Sasdia yang mendengat itu menghela napas panjang, Jesy memang sangat keras kepala.
...*****...
"Aku rasanya ingin sekali tertawa keras melihat wajah takut mereka itu." Cara tertawa sambil menceritakan hal tadi kepada Alex dan Farel yang sedang berkunjung ke mansion Vetro.
Alex ikut tertawa kecil, sedangkan Farel hanya tersenyum tipis. "Sayang sekali aku tidak ada di sana, tapi jelas saja mereka akan takut. Waktu Tuan Gerisam berhadapan dengan Farel saja, dia sudah ketakutan. Apa lagi dengan Geo, sang kembaran malaikat maut." Alex bersuara sambil tertawa.
Cara tertawa sambil menatap wajah Geo yang masih saja datar tanpa terganggu, padahal mereka sedang membahas tentang dirinya. Cara mencubit pipi Geo, begitu gemas dengan ekspresi datar milik kekasihnya. "Cobalah untuk tertawa sedikit Tuan Vetro," ucap Cara.
Geo menaikkan sebelah alisnya setelahnya laki-laki itu mengecup singkat bibir kekasihnya itu. Juan dan Farel melotot terkejut, setelahnya mereka menatap kesal sepasang kekasih itu. "Bangsat! Ingatlah kalau di sini masih ada kami," gerutu Alex kesal.
Cara yang mendengar itu meringis malu, gadis itu memukul lengan kekar kekasihnya. "Jiwa jombloku begitu terinjak, terhempas dan tersangkut sekarang," sambung Alex mendrama.
Geo menatap Alex dengan pandangan datar, sedangkan Farel sudah memutar bola matanya malas. "Belum menikah saja kalian seperti ini, bagaimana nanti kalau menikah. Tidak memikirkan perasaan para jomblo sekali," sungut Alex lagi.
"Siapa yang menyuruh jomblo?"
Jleb …. Kalimat datar dari mulut Geo mampu membuat Alex dan Farel ternganga di tempat. Kalimat laki-laki datar itu benar-benar tepat sasaran, bahkan tersangkut hingga ke usus besar mereka. "Sombong sekali Anda Tuan Vetro, mentang-mentang sekarang sudah tidak jomblo. Anda seenaknya menindas kami para jomblo ini?" dengkus Alex.
"Sudah, ayo kita pulang saja Rel. Di sini tidak aman untuk jantung kita yang jomblo ini." Alex berdiri dengan wajah kesalnya sambil melirik sinis ke arah Geo.
"Bagus, cepatlah pergi," sahut Geo santai. Cara memukul lengan kekar kekasihnya.
Alex melotot dengan mulut ternganga. "Bangsat." Alex pergi dari sana diikuti oleh Farel dari belakang.
__ADS_1
"Ih … Kak Ge kok gitu sih. Kasihan mereka tahu," tutur Cara.
Namun, dengan tiba-tiba Geo mengangkat tubuh Cara. "Mereka mengganggu, sekarang ayo kita ke kamar." Geo membawa tubuh Cara menuju lift.