Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
74. Bertamu (lb)


__ADS_3

Cara berjalan santai ke arah pintu besar mansion Carves. Wanita itu tersenyum miring, setelahnya Cara memencet bel mansion itu. Tidak beberapa lama menunggu, pintu besar itu terbuka dan memperlihatkan seorang pelayan mansion. "Selamat siang Nyonya Vetro," sapa pelayan itu ramah.


Cara tersenyum tipis. "Siang, Kak Rical ada?" tanya Cara ramah.


"Ada Nyonya, silakan masuk," sahut pelayan.


"Terima kasih," balas Cara.


Cara berjalan anggun ke dalam mansion Sunder. Pelayan itu membawa Cara ke ruangan tamu mansion luas itu. "Silakan Nyonya tunggu di sini, saya akan panggilkan Tuan Carves dulu," papar pelayan.


Tidak berselang lama setelah kepergian pelayan itu, seseorang tampak terkejut melihat kehadiran Cara di sana. "Kau … kenapa kau bisa berada di sini? Pergi dari mansion suamiku," teriak Jesy.

__ADS_1


Cara sempat terkejut dengan suara Jesy yang tiba-tiba. Namun, setelahnya istri sang pemimpin mafia itu tersenyum miring. "Hai, kita bertemu lagi ya," sapa Cara santai.


Jesy menatap tajam Cara. "Aku katakan pergi dari sini, kau tidak pantas datang ke mansion suamiku," desis Jesy.


Cara tertawa mengejek. "Kenapa kau mengusirku? Apa kau punya hak di sini? Ini adalah mansion milik Tuan Carves, jadi hanya dia yang berhak mengusirku dari sini," sahut Cara.


"Aku istrinya, maka aku juga berhak mengusirmu dari ini. Pergi bangsat!" teriak Jesy.


Cara tertawa keras melihat kemarahan Jesy. "Kenapa kau menjadi pemarah seperti ini sih? Apa karena kau sedang hamil ya?" ejek Cara.


"Karena aku berkuasa, ke mana pun itu … aku bisa," balas Cara angkuh.

__ADS_1


"Pergi kau dari sini." Jesy mendekat ke arah Cara, dengan cepat Jesy meraih tangan Cara dan menariknya berdiri. Jesy berniat menarik Cara untuk keluar dari mansion itu.


Namun, dengan gerakan kasar Cara menghempaskan pegangan tangan Jesy dari pergelangan tangannya. "Jangan menyentuhku gembel, kau hanya wanita rendahan yang berada jauh di bawah levelku. Jadi … jangan berani-beraninya mau menyentuh kulit mahalku," desis Cara.


Jesy terkejut mendengar perkataan Cara. Wanita itu melotot tidak terima dikatai gembel dan wanita rendahan oleh Cara. "Jaga mulutmu bangsat, kau yang wanita rendahan. Sadar dirilah," murka Jesy.


Cara tertawa mengejek. "Aku, gembel? Iya, tapi itu dulu. Sekarang jabatan itu sudah digantikan olehmu, lihatlah … hanya gembel yang berada di kediaman orang lain tetapi tidak dianggap. Tidur di kamar sempit dan melakukan apa-apa sendiri, rendahan sekali," hina Cara.


Jesy melotot terkejut, dia terkejut sebab Cara tahu tentang kehidupannya di sini. "Kau terkejut ya? Huh … masih omong besar merasa bahagia tinggal di sini, padahal … begitu tersiksa. Belum lagi, kemarin aku melihat suamimu sedang bergelut panas dengan wanita lain di ruang kerjanya. Apa punyamu sudah tidak laku baginya?" sambung Cara.


Jesy mengepalkan tangannya marah. Tangan kanan wanita hamil itu terangkat, siap melayang ke pipi mulus Cara. Namun, kali ini Cara menahan tangan itu dengan gerakan cepat. "Berniat menamparku? Besar juga nyali gembel ini, apa kau sudah bosan memiliki dua tangan? Ingin aku potong tangan nakalmu ini?" tutur Cara remeh.

__ADS_1


Cara menghempaskan tangan Jesy kasar sehingga membuat Jesy sedikit hilang keseimbangan. "Waktu itu sudah aku katakan bukan? Kalau kita akan sangat sering bertemu, mau itu di kampus atau pun di sini. Jadi … aku mengizinkan kau memanggil Mama brengsekmu itu untuk datang ke sini. Supaya kau tidak menanggung semuanya sendiri," bisik Cara.


"Dan … aku juga tahu, kalau kau tidak akan bisa pergi dari kehidupan Tuan Carves bukan? Karena Papamu itu sudah tidak menerima keberadaanmu, sebelum kau membuat Tuan Carves membantu keluarga Gerisam." Cara menyambung kalimatnya sambil tersenyum miring.


__ADS_2