
Jesy menatap Helen dengan pandangan penuh benci. Wanita hamil itu mendekat ke arah Helen yang sedang nampak bersantai di sofa tamu. Tangan Jesy mengepal mencoba menahan emosi. Tadi pagi Jesy memohon kepada Rical untuk dibelikan sop seafood. Namun Rical malah menolaknya mentah-mentah. Sekarang, Helen dengan begitu senangnya memakan sate seafood, makanan kesukaan Jesy.
'Aku yang meminta, kenapa dia yang dikasih?' batin Jesy tidak terima.
Jesy mendekat ke arah Helen yang nampak masih sibuk dengan laptop sembari mengunyah sate seafood itu. Jesy menelan salivanya saat melihat makanan yang begitu menggoda tenggorakannya. Sedangkan Helen mendongak saat menyadari kedatangan Jesy. Helen jelas melihat tatapan penuh ingin ke arah kotak sate yang ada didekatnya. "Hai Kak Jesy. Kakak ingin ini?"
Helen berbicara sambil mengangkat kotak sate itu, membantu komunikasi mereka yang cukup sulit. Sedangkan Jesy mendengus sinis saat mengerti maksud perkataan Helen. "Tidak usah sok baik kau, aku tidak butuh rasa kasihanmu," geram Jesy.
Kening Helen berkerut tidak mengerti, tetapi dari nada bicaranya bisa gadis itu simpulkan, Jesy sedang marah kepadanya. Helen yang tidak tahu harus menanggapi seperti apa lagi, memilih diam dan kembali fokus kepada laptopnya. Sedangkan Jesy yang melihat itu merasa tidak terima dicueki oleh Helen. "Kau, mencueki aku?" teriak Jesy.
Helen terlonjak saat mendengar teriakan itu. Gadis itu menelan salivanya susah payah kala melihat tatapan marah yang diberikan Jesy kepadanya. "Maaf, aku ke atas saja."
Helen yang dilanda takut, memilih membereskan semua perlengkapannya dan membawa barang-barangnya pergi dari sana. Saking paniknya, bukannya menuju lift, Helen malah melangkah ke arah tangga untuk naik ke kamarnya. Jesy yang melihat itu tersenyum licik. Dengan langkah lebar wanita hamil itu mendekat ke arah Helen yang mulai menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Kau!" Tepat saat Helen sudah berada dipertengahan tangga, Jesy berteriak memanggil Helen.
Helen yang sempat terkejut, menoleh ke arah Jesy yang sedang menyusul langkahnya. "Kau seharusnya tidak di sini, lebih baik kau mati saja. Kau hanya penghambat nasib baikku," desis Jesy.
Helen hanya diam, dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh wanita hamil dihadapannya itu. Jesy yang berada satu tingkat lebih rendah dari pada Helen, sedikit menyingkir dan menarik tubuh Helen. "Aakhh …."
Prang …. Laptop Helen terjatuh saat Helen mencoba mencari pegangan. Namun, sayangnya tubuh gadis itu masih saja terhempas anakan tangga. Beruntungnya Helen bisa dengan cepat berpegangan pada sisi tangga. "Ssh," ringis Helen kesakitan.
Tanpa Helen sadari, laptop yang berada di tangannya tadi malah jatuh menimpa kaki Jesy. Sehingga hal itu membuat Jesy terkejut dan kesakitan. Jesy mengangkat kakinya yang tertimpa laptop melupakan jika dirinya sedang berdiri dianak tangga. Tubuh Jesy oleng dan berguling melewati setiap anakan tangga.
Mata Sasdia melotot melihat tubuh anaknya terbaring lemah di lantai yang sudah basah bergelinang darah. "Jesy!" teriak Sasdia kesetanan.
Sedangkan Rical yang baru sampai, dikejutkan dengan teriakan yang bertubi-tubi. Mata Rical melotot saat melihat tubuh Helen yang terbaring lemah dipertengahan tangga. Rical memacu langkah dan melewati tubuh Jesy begitu saja. Sasdia yang melihat kedatangan Rical berteriak minta tolong. "Rical, tolong … Jesy pendarahan," isak Sasdia.
__ADS_1
Rical tidak menyahut, laki-laki itu lebih memilih menggendong tubuh Helen dan membawanya turun. "Panggil ambulas," titah Rical kepada pelayannya.
"Rical, keadaan Jesy lebih parah. Kenapa kamu malah mendahulukan gadis brengsek itu. Jesy seperti ini pasti juga karena dia!" teriak Sasdia kehilangan akal.
"Jesy!" Torih yang bergegas masuk saat mendengar teriakan sang istri, terkejut melihat keadaan putrinya.
"Mas, ayo gendong Jesy, Mas. Kita harus segera ke rumah sakit," lirih Sasdia.
.
.
.
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri semuanya😍 Mohon maaf lahir dan batin ya🥰