
Geo meletakkan pelan tubuh Cara di atas kasur empuk kamarnya di markas itu. Geo menatap wajah damai Cara yang begitu menjadi candu bagi dirinya. Laki-laki datar itu mengecup pelan bibir sang istri tidak ingin membangunkannya. Setelahnya Geo bergerak untuk kembali ke luar kamar. 'Sudah setengah tahun, tanganku sudah begitu gatal,' batin Geo.
"Sudah kami siapkan Ketua," ucap Darel.
"Baiklah." Setelahnya Geo berjalan diikuti beberapa laki-laki di belakangnya.
Langkah kaki Geo berhenti di sebuah ruangan gelap. Dua orang laki-laki yang berjaga di depan pintu itu dengan segera membukakan pintu untuk sang ketua. Setelah pintu terbuka Geo melangkah angkuh sambil menatap dingin laki-laki yang juga sedang menatapnya berharap. "Bunuh aku sekarang juga," ucap Gery.
Gery adalah laki-laki yang sedang menghuni ruangan gelap itu. Ruangan yang menjadi salah satu penjara tingkat A di markas utama Death. Geo menatap dingin Gery sehingga sukses membuat Gery menelan ludahnya kasar. "Kau ingin mati?" tanya Geo datar.
"Iya, bunuh saja aku," jawab Gery.
"Tanganku memang sudah gatal," ujar Geo.
"Cepat bunuh aku," balas Gery.
Geo tersenyum miring, setelahnya laki-laki itu duduk santai di sebuah kursi yang disediakan oleh anggota Death. "Sayangnya aku ingin bermain-main dulu," papar Geo santai.
"Kau sudah cukup menyiksaku selama ini Tuan Vetro, tidakkah kau memiliki hati?" teriak Gery.
Geo menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Gery remeh. "Aku memang tidak memiliki hati," balas Geo.
__ADS_1
"Laki-laki brengsek, lepaskan aku atau bunuh aku sekarang juga," murka Gery.
Geo terkekeh sambil menatap tajam Gery yang sudah memberontak. "Linggis," ucap Geo singkat.
Gery sudah melotot, sedangkan satu laki-laki dengan gerakan cepat memberikan linggis kepada Geo. Tanpa mengalihkan tatapannya dari Gery, Geo menerima linggis itu. Geo masih duduk santai di atas kursi sambil tersenyum miring ke arah Gery yang sudah berkeringat dingin. Secara perlahan Geo berdiri dan membawa linggis di tangannya mendekat ke arah Gery. Sedangkan Gery mencoba beringsut mundur menjauhi kedatangan Geo.
Krak …. "Akkkhhh …." Teriakan Gery menggema di dalam ruangan pengap itu. Geo baru sana memukulkan linggis di tangannya ke arah kaki kiri Gery. Linggis itu mampu membuat tulang kaki Gery patah, bahkan suara tulang patah itu begitu jelas terdengar di telinga semua orang yang berada di sana.
Gery merintih kesakitan, kaki kirinya berdarah, tulang patah itu merobek daging kakinya. "Kau tahu berita tentang seberapa liarnya Death, tetapi kau masih berani meremehkannya. Aku tahu … kau pasti selama ini tidak percaya dengan berita keganasan Death bukan? Sekarang aku kasih paham, seberapa mengerikannya berurusan dengan Death. Apa lagi berurusan denganku," desis Geo dingin.
Gery terus merintih, tubuh lemahnya semakin melemah karena darah di kaki kirinya terus mengalir. "Bunuh aku," lirih Gery.
Geo tersenyum miring. "Aku suka mendengar rintihan permohonan seperti ini, lakukanlah terus," ucap Geo santai.
Duar …. Seakan disambar petir, Gery menggeleng cepat merasa begitu ketakutan dengan perkataan Geo. "Tolong bunuh aku," pinta Gery memohon.
"Sebelum itu, aku akan memberimu obat biusnya dulu. Darel, bawakan ke sini air garam bercampur asam!" titah Geo.
"Baik Ketua," sahut Darel.
Gery melotot, jantung laki-laki itu berdetak lebih cepat. "Aku sudah tidak kuat," lirih Gery.
__ADS_1
...*****...
Cara menggeliat sambil membuka matanya perlahan. Wanita itu mengernyit kala tidak mengenali tempat dirinya berada. Cara menoleh sekeliling dengan raut panik. Dia tidak menemukan keberadaan Geo, pikirannya yang belum terbuka seutuhnya sebab bangun tidur membuat wanita itu berpikir buruk. "Apa aku diculik? Mana Kak Ge?" ucap Cara panik.
Cara turun dari ranjang, tetapi tiba-tiba wajah panik wanita itu hilang saat melihat sebuah ukiran lambang Death yang cukup besar berada di dinding ruangan luas itu. "Ternyata aku sudah sampai," gumam Cara merasa lega.
Cara melangkahkan kakinya keluar, wanita itu mengernyit saat melihat interior bangunan itu begitu mewah. "Apa ini benar-benar markas kumpulan mafia? Kenapa malah begitu menarik," papar Cara.
Cara terkejut saat dirinya menemukan beberapa orang laki-laki sedang berdiri menjaga lift utama. Cara meneguk ludahnya saat enam orang laki-laki itu menoleh ke arahnya. Cara sempat menangkap raut terkejut di wajah enam orang itu. Namun, setelahnya enam orang laki-laki itu menunduk membuat Cara bingung. "Maaf Nyonya, Ketua sedang berada di lantai bawah," ucap salah satu dari mereka.
Cara mengernyit. "Kalian mengenalku?" tanya Cara.
"Hanya Anda satu-satunya wanita yang bisa berada di lantai utama ini Nyonya. Lagi pula … kalung yang Anda pakai sudah bisa membuat kami mengenal Anda," tutur seorang laki-laki.
Cara menunduk guna melihat kalung pemberian dari Geo. Kalung mungil yang Geo berikan sedari awal hubungan mereka bermula. 'Kalung ini? Jadi … kalung ini bukan hanya kalung mewah biasa?' batin Cara.
"Em … bisakah kalian mengantarku kepada Kak Ge?" tanya Cara.
Enam orang laki-laki itu saling pandang bingung. Mereka jelas tahu apa yang sedang ketua mereka itu lakukan sekarang. Cara yang melihat wajah bingung enam laki-laki itu kembali bersuara. "Kalau kalian tidak bisa, tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri, tapi bisakah kalian memberi tahu gambaran letaknya? Aku tidak bisa bertanya sebab Kak Ge meninggalkan ponselnya," ujar Cara.
"O-oh, mari kami antar Nyonya," sahut seorang laki-laki.
__ADS_1
"Tidak apa-apa?" tanya Cara.
"Tidak Nyonya, silakan." Seorang laki-laki mempersilakan Cara masuk ke dalam lift itu.