Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
86. Jus Mangga (lb)


__ADS_3

Cara berjalan santai ke arah pintu mansion Carves, wanita itu tersenyum senang saat melihat keberadaan sepasang ibu dan anak yang sedang makan siang bersama di meja makan. "Ternyata Anda benar-benar di sini menemani putri kesayangan Anda, Nyonya Gerisam."


Suara Cara membuat Jesy dan Sasdia yang sedang makan terlonjak kaget. Sepasang ibu dan anak itu menatap tidak suka ke arah Cara. 'Kenapa dia datang lagi?' batin Sasdia benci.


"Kenapa? Apa kalian berpikir aku tidak akan ke sini lagi karena kemarin bolos datang?" tebak Cara.


Jesy dan Sasdia tidak menyahut perkataan Cara. Mereka mengiraukan keberadaan istri pemimpin mafia itu. "Makan yang banyak, Sayang," ucap Sasdia.


Cara tersenyum sinis saat dua manusia itu sengaja mengabaikannya. "Sudah berani ya? Tidak apa-apa, aku suka kalau seperti ini. Lebih menantang," papar Cara.


"Hei, minggirlah. Aku ingin duduk," sambung Cara.


Jesy dan Sasdia melotot saat Cara mencoba mengusir Jesy yang sedang duduk di kursi utama meja makan itu. "Aku adalah istri pemilik mansion, kau hanya tamu. Jadi kalau ingin duduk, ya duduk saja di sana." Jesy menunjuk kursi kosong di meja makan itu.


"Aku ingin di sini, lagi pula berani sekali kau duduk di kursi utama. Kalau Tuan Carves tahu, kau bisa dikulitinya," ejek Cara.

__ADS_1


Jesy terkejut, setelahnya wanita itu menatap tajam ke arah Cara. "Aku berhak duduk di sini," geram Jesy.


"Kau lebih baik tidak usah mengganggu Jesy lagi. Apa kau ke sini sengaja ingin menggoda Tuan Sunder? Rakus sekali kau, sudah dapat Tuan Vetro, sekarang malah ingin Tuan Carves juga," tutur Sasdia sinis.


"Apa benar begitu?" Jesy melotot ke arah Cara.


Sedangkan Cara sudah tertawa keras mendengar perkataan Sasdia. "Tuan Carves itu adalah salah satu kakak laki-lakiku. Tapi perkataanmu tadi, jelas sekali memperlihatkan kalau kalian takut dicampakkan oleh Kak Rical. Juga takut kalah saing denganku bukan?" ucap Cara remeh.


"Kakak laki-laki? Heh, kau terlalu banyak bermimpi," ledek Sasdia.


"Oh ya? Apa kau sudah lupa dengan perkataan Kak Rical waktu itu? Wajahmu saja sudah penuh lipatan seperti ini, tidak lama lagi pasti akan terlihat seperti tante-tante berumur empat puluhan," ejek Cara.


Jesy dan Sasdia melotot tidak terima, setelahnya Jesy menyentuh kulit wajahnya mulai takut. "Apa kau benar-benar tidak memiliki uang untuk ke salon? Perlu aku beri uang?" sambung Cara.


"Aku tidak butuh," desis Jesy.

__ADS_1


"Oh … tunggu sebentar, sepertinya aku ada uang cash tadi," balas Cara. Wanita itu nampak mengotak atik tas jinjingnya. Sedangkan Sasdia dan Jesy menatap mengernyit ke arah Cara.


"Ah … ini dia, apa ini cukup untuk perawatan kulitmu itu?" Cara meletakkan selembar uang lima ribu rupiah di atas meja makan.


Jesy dan Sasdia melotot marah merasa begitu direndahkan. "Kenapa wajah kalian seperti itu? Tidak cukup ya? Aduh … bagaimana dong, aku tidak ada lagi uang cash. Masalahnya suamiku hanya memberi aku blackcard, maaf ya." Cara menatap Jesy dan Sasdia dengan tatapan pura-pura menyesal.


Sedangkan Jesy dan Sasdia sudah mengepalkan tangannya menahan amarah. Untuk menyentuh Cara, jelas mereka tidak berani. Sekeliling mereka saat ini adalah anggota Death yang diutus langsung oleh Geo untuk melindungi Cara. Belum lagi empat karyawan wanita Rical yang selalu berada di belakang Cara. "Emm … bagaimana kalau aku cari solusi lain?" Cara mendongak seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Ya ampun, ini ada!" Cara sedikit memekik sambil mengambil gelas yang berisi jus mangga kesukaan Jesy.


"Yang aku tahu, mangga adalah salah satu buah yang memiliki banyak kandungan vitamin C. Vitamin C itu sendiri sangat bagus untuk kulit loh. Jadi kau pakai ini saja, aku bantu ya." Setelah mengatakan kalimat itu Cara menumpahkan jus mangga ke kepala Jesy secara perlahan.


Byur …. "Akhh …." Jesy berdiri merasa terkejut dengan perlakuan Cara. Belum lagi rasa dingin dari jus mangga itu mampu membuat kulit kepala sampai kulit wajahnya terkejut kedinginan.


Sasdia yang terkejut ikut berdiri sambil melotot. Wanita paruh baya itu menatap khawatir ke arah Jesy yang sudah kotor oleh jus mangga. "Apa yang kau lakukan!" teriak Sasdia.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kulit Jesy kembali membaik," sahut Cara santai.


__ADS_2