
Dengan langkah ragu Farel mulai masuk ke dalam mansion Vetro. Sedangkan Alex dan Rical yang mengikuti laki-laki itu dari belakang sudah tertawa keras. "Kenapa wajahmu seperti sedang menahan kentut seperti itu?" ejek Alex.
"Bangsat!" umpat Farel merasa kesal.
Mendengar umpatan itu, Alex dan Rical kembali terbahak merasa senang menjahili kulkas berjalan itu. "Pemegang tahta IT di dunia, tapi takut menghadapi kemarahan seorang wanita," sindir Rical.
Mendengar itu Farel menoleh cepat ke arah Rical dan tersenyum miring. "Apa perlu aku mengatakan itu kepada Geo? Sepertinya kau lebih menyinggung dia," sahut Farel.
Rical terkejut mendengar kalimat laki-laki itu. Rical menggaruk puncak kepalanya nampak berpikir. "Benar juga, ya. Geo bahkan lebih parah, laki-laki gila malah takut kepada istri," gumam Rical baru sadar dengan hal itu.
"Siapa yang takut?" Rical terlonjak saat suara seseorang mengejutkannya. Laki-laki itu membalikkan badannya dan mendapati Geo sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan wajah datar seperti biasa.
"Oh, tidak …."
"Dia mengejekmu takut istri," sela Farel cepat.
Mata Rical melotot mendengar perkataan Farel. "Tidak, maksudku … akkhh. Bangsat, sakit."
Rical mengusap bokongnya yang baru saja menjadi sasaran empuk dari tendangan Geo. "Ikut aku!" titah Geo.
__ADS_1
"Aku ingin menemui Siera dulu," balas Farel.
Geo menoleh menatap Farel dengan kening berkerut. "Kau tahu, dia sedang merasa was-was karena Siera sedang marah kepadanya. Bisa-bisanya dia tidak memberikan kabar apa pun kepada calon tunangannya. Tentu saja Siera marah, aku saja terbahak melihat pesan yang dikirimkan Siera. Aku jadi penasaran melihat laki-laki tembok satu ini membujuk perempuan marah," jelas Alex.
Geo yang mendengar itu sudah mengulum bibir menahan senyum menatap wajah tegang milik Farel. Dia yang sudah memiliki Cara jelas sudah pernah merasakan berada di posisi sepupunya itu. "Aku tidak sempat menghubunginya juga karena kalian tidak ingin membantu," ucap Farel kesal.
"Lah, kenapa jadi kami?" tanya Rical.
"Kalau kalian mengingatkan aku, maka aku tidak akan lupa karena ingin semuanya cepat selesai. Kalian malah curang dengan menghubungi kekasih masing-masing tapi tidak mengingatkan aku," papar Farel nampak semakin kesal.
Alex dan Rical saling pandang, kemudian dua laki-laki itu terbahak merasa bodoh dengan kalimat Farel. "Ck, sudahlah." Merasa kesal, Farel pergi dari sana meninggalkan tiga laki-laki itu.
"Taman belakang," sahut Geo. Mendengar jawaban Geo, Farel kembali melanjutkan langkahnya ke arah taman belakang.
Sedangkan Alex dan Rical saling pandang dan melempar senyum jahil. Berbeda dengan Geo yang sudah menggelengkan kepalanya merasa bisa menebak isi pikiran dua laki-laki itu. "Ayo, kau siapkan kameranya," ucap Alex.
"Cepat!" Rical dan Alex berjalan cepat mengikuti arah langkah Farel.
Sedangkan Geo hanya menatap itu semua dengan pandangan tidak berminat. Laki-laki itu berjalan santai ke arah taman belakang, merasa sudah merindukan sang istri. 'Baru beberapa menit, aku sudah rindu saja,' batin Geo.
__ADS_1
...*****...
"Apa lagi yang akan kau lakukan?" tanya Romy kepada Rizal.
"Aku hanya ingin mencari waktu untuk bertemu dengan perempuan itu. Mungkin dia sudah semakin berisi sekarang." Rizal berucap sambil tersenyum miring menatap Romy yang sudah nampak frustasi.
"Kau jangan membuat masalah semakin kacau. Aku baru saja dihubungi Jarko, pertahanan IT Tiger saat ini sedang diserang. Sekarang markas sedang kacau, seluruh anggota IT turun tangan. Aku yakin ini serangan dari Death, dengan kata lain, mereka sudah tahu Tiger ikut campur dalam urusan ini. Kau jangan membuat kacau, aku sedang mencari alasan untuk membuat Jarko percaya kepadaku," terang Romy panjang lebar.
"Ck, kau tinggal katakan kalau salah satu anggota Death mencari masalah dengan Tiger. Ini …." Rizal melemparkan sesuatu kepada Romy.
Kening Romy berkerut melihat benda di tangannya. "Kau …."
"Aku sudah menyiapkan itu tadi, jadi kau gunakan saja untuk mengadu domba Death dengan Tiger," tutur Rizal.
Romy terdiam sambil menatap benda di tangannya dengan pandangan ragu. 'Apa ini tidak akan semakin membuat kacau?' batin Romy ragu.
"Kau tidak ada waktu untuk berpikir, atau kau ingin kita menanggungnya berdua?" sambung Rizal.
"Sh**! Kau tetap di sini, aku harus ke markas." Romy pergi meninggalkan Rizal yang saat ini sudah menyeringai penuh arti.
__ADS_1